Sunday, July 10, 2016

10 Juli 2016

Tentang Portugal yang menjuarai Euro, dalam Arus Balik, masyarakat Nusantara menyebut Portugal dengan Peranggi. Negara ini penjajah kelas dunia waktu itu. Tak ada yang bisa menang melawannya karena memiliki senjata tercanggih di masanya, Meriam (diambil dari kata Maryam, ibu Isa as). Mental menjajah dan superiornya juga berpengaruh besar dalam menguasai dunia. Karena semua bangsa kalah oleh Portugal, masyarakat Jawa ada yang menyebut bangsa Portugal sebagai Lelananging Jagad.

Peranggi datang ke Nusantara saat Majapahit sudah tiada karena sudah pecah jadi kerajaan-kerajaan kecil. Salah satunya adalah Kadipaten Tuban dibawah penguasaan Adipati Arya Teja, ayahnya Sunan Kalijaga. Waktu itu di sana adalah salah satu pelabuhan penting untuk kepentingan Ekspor-Impor. Peranggi ingin menyerangnya juga. Berkat bantuan begundal peranakan Arab-Spanyol yang mengaku sebagai cucu nabi Muhammad saw bernama Sayyid Habibullah Al-Masawa, (kata orang Jawa Ulasasa) yang pandai bersilat lidah hingga mendapat kepercayaan jadi Syahbandar Tuban, sedikit demi sedikit Tuban terkikis. Begitu pula kerajaan-kerajaan sebelum dan sesudahnya. Malaka dan Maluku yang luluh lantak oleh Portugal. Mereka kalah karena ulah Ulasawa yang licik ini. Demi keuntungan pribadi, dia membocorkan rahasia kerajaan. Selain itu, caranya adalah membisiki penguasa agar penyerangan penjajah ini tidak dilawan dengan senjata dan strategi perang. Malah dia bilang, "Negeri ini diberkahi. Insya Allah selamat. Akan dijaga Tuhan."

Bagaimana bisa menang, senjata kok hanya dilawan dengan doa. Model pemikiran fatalis yang diajarkan oleh Ulasawa ini sampai sekarang masih hidup dan berkembang. Betapa neokolonialis
membuat NKRI tak berdaya. Namun bukan pengetahuan untuk melawannya.

No comments:

Post a Comment