Monday, July 11, 2016

11 Juli 2016

Salah satu percakapan dalam buku yang sedang kubaca. Diucapkan oleh seorang perempuan Jawa, Nyi Gede Kati saat memarahi suaminya, lelaki keturunan Arab-Andalusia yang mengaku keturunan Nabi saw. Nyi Gede Kati marah karena lelaki itu menganiaya dirinya. Peristiwa terjadi pada abad 16 di daerah Tuban Jawa Timur.

Begini katanya," Maukah Tuan mendengarkan sahaya? Di sini, Tuan, petani yang sebodoh-bodohnya tidaklah akan menganiaya bininya kecuali kalau dia memang sudah gila. Di sini, Tuan seorang istri bukan hanya dianggap istri, juga sebagai ibunya sendiri, dihormati dan didudukkan di tempat yang dimuliakan. Hanya orang gila yang menganiayanya. Sebaliknya seorang istri Tuan, menganggap suaminya bukan hanya sebagai suami saja, juga sebagai gurunya dan sebagai dewanya sekaligus. Tuan asing di sini. Saya sampaikan agar Tuan mengerti, karena semua itu mungkin tak ada dalam ajaran Tuan."

Sekarang keadaan berubah. Entah karena ajaran siapa. Yang pasti ajaran leluhur Nusantara adalah ajaran agung walaupun dulu Islam belum datang. Dan bisa dilihat secuil kisah ini mengenai bagaimana perbedaan orang Jawa dan orang asing (dalam hal ini Arab) memberlakukan perempuan. Beruntunglah kita lahir di tanah Nusantara.

No comments:

Post a Comment