Salah satu percakapan dalam buku yang sedang kubaca. Diucapkan oleh
seorang perempuan Jawa, Nyi Gede Kati saat memarahi suaminya, lelaki
keturunan Arab-Andalusia yang mengaku keturunan Nabi saw. Nyi Gede Kati
marah karena lelaki itu menganiaya dirinya. Peristiwa terjadi pada abad
16 di daerah Tuban Jawa Timur.
Begini katanya," Maukah Tuan
mendengarkan sahaya? Di sini, Tuan, petani yang sebodoh-bodohnya
tidaklah akan menganiaya bininya kecuali kalau dia memang sudah gila. Di
sini, Tuan seorang istri bukan hanya
dianggap istri, juga sebagai ibunya sendiri, dihormati dan didudukkan di
tempat yang dimuliakan. Hanya orang gila yang menganiayanya. Sebaliknya
seorang istri Tuan, menganggap suaminya bukan hanya sebagai suami saja,
juga sebagai gurunya dan sebagai dewanya sekaligus. Tuan asing di sini.
Saya sampaikan agar Tuan mengerti, karena semua itu mungkin tak ada
dalam ajaran Tuan."
Monday, July 11, 2016
11 Juli 2016
Sekarang keadaan berubah. Entah karena ajaran siapa. Yang pasti ajaran
leluhur Nusantara adalah ajaran agung walaupun dulu Islam belum datang.
Dan bisa dilihat secuil kisah ini mengenai bagaimana perbedaan orang
Jawa dan orang asing (dalam hal ini Arab) memberlakukan perempuan.
Beruntunglah kita lahir di tanah Nusantara.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment