Wednesday, July 22, 2015

INGAT MATI


Sabtu, 18 Juli 2015

Kata nabi, orang yang pandai adalah orang yang selalu ingat mati. Kata seorang penyair filsuf asal Persia yang dikutip Soe Hok Gie, orang yang berbahagia adalah orang yang tak pernah dilahirkan. Kemudian yang dilahirkan kemudian mati muda.

Ingat mati bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja. Namun ingat mati butuh sendiri, butuh semedi. Nabi pun pernah semedi di gua Hira. Bahkan wakyu pertama dilakukan saat melakukan semedi. Lalu dalam Islam, semedi menjadi dianjurkan. Yakni dengan berdiam diri di masjid untuk mengingat Allah, berdoa atau membaca firmannya.

Ingat kematian adalah mengingat kehidupan setelahnya. Ketidakpastian setelahnya adalah suatu hal yang mengerikan. Tak ada yang bisa menjamin kelak jadi bahagia atau sengsara kecuali diri sendiri. Keberadaan kehidupan setelah kematian harus diyakini oleh orang yang beriman. Semua agama, mempercayai adanya kehidupan ini. Hanya orang Atheis yang tak percaya.

Dalam Islam sendiri, kehidupan setelah kematian dipercayai sebagai suatu hal yang lebih baik dari kehidupan di dunia. Sekalipun Islam melarang pemeluknya untuk lupa hidup yang sedang dihadapinya. Jangan lupa bagianmu di dunia. Begitu ungkapan Allah dalam al-Quran.

Betapa misteri setelah mati itu mengerikan dan membuat orang penasaran. Sepertiku, penasaran dengan ancaman dan kenikmatan pasca kematian. Manakah kelak yang akan kurasakan, tak ada yang tahu.

Hari ini, masih ada kesempatan untuk bisa menabung, untuk bisa nandur agar kelak bisa memanen segala hal yang diinginkan. Siapapun, pasti menginginkan kebahagiaan. Walau yang disebut kebahagiaan tersebut tak pernah diketahui hakikatnya.

Menghadapi kehidupan yang serba tak pasti di depan membuat kematian adalah suatu hal yang saya idamkan. Semakin bertambah usia bukan pahala yang terkumpul tapi dosa. Ibadah juga belum tentu diterima ganjarannya.

 Sebentar lagi usiaku genap dua puluh lima. Setelah itu, apa yang bisa kulakukan? Semua kuserahkan gusti Allah. Apa kelak aku akan menikah pada usia ini pun aku tak tahu. Semoga saja bisa. Tapi hutangku masih banyak. Apa tak lebih baik jika aku melunasi hutang dulu kemudian menikah atau justru mati saja? Dengan ganjaran seadanya dan dosa yang banyak. Lebih baik begitu dari pada dosa terus bertambah. Minta maaf tiap hari sudah dilakukan. Semoga Tuhan mengampuni.

No comments:

Post a Comment