Rabu, 8 Juli 2015
Dari sekian banyak hal yang membuat orang tegang adalah
kalimat,”Aku ingin bertemu denganmu. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan.” Kalimat
seperti itu atau sejenisnya akan membuat orang berpikir dan mengira-ngira apa
gerangan yang akan menjadi pembicaraan. Beberapa hari lalu aku merasakannya
ketika salah satu guruku memanggilku, Pak Hilal.
Beliau adalah salah satu orang yang ikut mengurus hal-hal
yang berkaitan dengan beasiswaku ke Semarang. Sebelum lulus, beliau juga yang
memintaku sowan ke Kiai. Pengabdianku ke Blitar juga karena ada campur tangan
beliau dan termasuk kepindahanku ke Suci untuk menjadi Pimred adalah karena
beliau. Walaupun jarang berkomunikasi secara langsung, ada banyak hal yang
dilakukan beliau sehingga alur hidupku berubah.
Banyak orang bilang, beliau adalah tangan kanan Kiai Buhin. Dan
memang benar adanya. Ada banyak tanggung jawab yang dilimpahkan kepada beliau
sebab kejujuran dan pekerjaannya yang bisa memuaskan Kiai.
Pak Hilal memanggilku melalui pesan singkat, memintaku dating
ke kantor aliyah setelah Isya. Saya mengiyakan sambil berpikir banyak hal. Aku mungkin
akan dimarahi walaupun aku tak pernah melihat beliau marah kepadaku. Barangkali
ini soal majalah yang harus segera kuselesaikan. Tapi biasanya beliau hanya
menghubungiku melalui pesan singkat atau telpon. Mungkin juga aku akan diberi
THR, boleh berupa sarung atau apa. Dan mungkin akan membicarakan soal pernikahan.
Yang terakhir kemungkinannya sangat kecil.
Ba’da tarawih aku dating dul u ke kantor, menunggu beberapa
waktu hingga beliau datang. Aku membuka percakapan tentang majalah sebab
hubunganku dengan beliau adalah atasan kepada bawahan. Namun ternyata bukan itu
inti pembicaraan. Dugaanku yang kuanggap kemungkinan kecil malah menjadi tema
utama dalam pembahasan malam itu. Dan yang mengejutkan adalah beliau sudah
membicarakan dengan Kiai. Usut punya usut aku akan ditetapkan sebagai penduduk
Suci dan akan dinikahkan dengan salah satu keponakan Kiai. Ini berita yang
mengejutkan.
Aku manut saja. Instruksi yang tak disampaikan oleh Beliau
adalah harus manut. Memang selama ini aku juga manut kepada beliau. Tak pernah
mengelak walaupun aku tak tahu apa yang harus kulakukan di depan. Dalam hal ini
pun aku bersikap sama dengan sebelum-sebelumnya, mengikuti apa yang jadi
permintaan Pak Hilal.
Setelah kabar itu datang, langkah yang harus kulakukan
adalah bertanya kepada orang tua, apakah aku diperbolehkan untuk taslim, pasrah
pada guru. Tanpa ditanya pun, aku sudah tahu jawaban bapak dan emakku. Sejak dulu
bapak tak pernah memaksaku terkait masa depan, pendidikan dan kebaikanku. Kecual
saat masih kecil, aku dilarang nakal dan disuruh jadi anak yang nurut dan baik.
Dan seperti yang diduga, bapak dan emakku pasrah, terserah
nanti mau dinikahkan dengan siapa. Aku sendiri sampai sekarang belum tahu. Dan itu
yang membuatku penasaran. Tapi aku tak berharap lebih. Siapa saya sehingga
kelak akan menjadi keponakan menantu seorang Kiai besar. Aku belum pantas. Tapi
jika harus diminta menikah dengan salah satu keponakan, aku insya Allah akan
berusaha memantaskan diri. Mulai sekarang, sedikit banyak aku harus lebih
banyak memperbaiki diri. Dan mudah-mudahan yang akan dijodohkan denganku adalah
dia yang pernah menyukaiku tapi lebih memilih untuk berpisah karena kesadaran
atas perjodohan yang akan dia hadapi sebagai keluarga kiai. Jika itu yang
terjadi maka saya yakin ini adalah doanya selama ini. Orang yang pernah
memberiku parfum dan majmu’ aurad. Wallahu a’lam.
No comments:
Post a Comment