Senin, 20 Juli 2015
Sudah lama aku tak membaca buku
biografi. Alhamdulillah tadi aku mengkhatamkan Pacar Merah jilid 1, buku yang
lama kucari. Jilid 2 sudah pernah kubaca sekitar tahun 2011 lalu. Setelah itu,
aku penasaran dengan buku pertama.
Kalau diingat-ingat, sebenarnya
tidak hanya buku biografi yang lama tak kubaca. Sastra pun demikian. Tak banyak
buku yang kubeli beberapa bulan ini karena uang kukumpulkan untuk bayar hutang.
Tiap kali ada uang, yang kuprioritaskan adalah untuk bayar hutang. Karena bayar
hutang adalah kewajiban.
Mati muda tetap membayangiku. Jika
kelak aku mati sebelum hutang kubayar, maka dosalah aku. Dosa sesama manusia
yang tak bisa diselesaikan hanya dengan mohon ampun kepada Gusti Allah.
Membaca buku biografi lebih kusuka
dari pada buku-buku motivasi. Ada banyak yang bisa dicontoh dari perjalanan
seorang tokoh. Seperti Tan Malaka. Jika dibandingkan dengan kehidupanku,
perjuangannya tak ada apa-apanya. Jangankan perjuangan, pengetahuannya saja
jauh di atasku. Dia bisa menguasai bahasa Asing. Padahal dia hidup padah awal
abad 20.
Buku apa saja yang dibaca oleh Tan
Malaka waktu itu? Apa pengaruh teman bergaulnya yang melintasi banyak negara
sehingga dia bertemu banyak orang dengan berbagai karakter dan bahasa.
Aku terkadang berpikir, Tan Malaka
lebih layak jadi Presiden dari pada Soekarno. Masalahnya adalah citra Tan
Malaka masih kalah jauh dibanding Soekarno. Kalau saja Soekarno ikut pemilihan
presiden hari ini, dia mungkin akan kalah. Sederhana saja alasannya, orang
sekarang sensitif dengan masalah poligami. Sedang Soekarno punya istri banyak.
Begitulah orang Indonesia, suka ngurusi masalah pribadi orang lain.
Setelah ini masih ada buku yang
harus kubaca lagi. Buku bergenre sastra yang diberi Nuril. Belum selesai kubaca.
Tiga buku yang diberinya tak selesai kubaca. Padahal targetku adalah selesai
membacanya selama Ramadhan.
Sekarang sepertinya butuh
konsentrasi lebih untuk bisa membaca buku. Tak bisa jika dibarengi dengan
memegang hp lalu membuka twitter atau fb. Membaca media sosial sepertinya lebih
nikmat walaupun sebenarnya tak banyak manfaat. Yang ada justru membuat hati
gemes dan geregetan dengan cuitan orang-orang yang sok tahu soal agama.
Perlulah kiranya mengurangi
intensitas di media sosial lalu kembali konsentrasi membaca buku. Dua hari
khatam satu buku sepertinya harus bisa kulakukan lagi. Baik yang berbahasa Arab
ataupun Inggris kalau ada. Baca al-Quran juga tak boleh dilupakan.
Kalaupun kelak aku tak segera
menikah tahun ini, membaca buku harus jadi pilihan utama agar tak terlalu
memikirkan perempuan. Akhir-akhir ini sudah tak terlalu banyak berpikir tentang
perasaan pada perempuan adalah lompatan prestasi untukku. Dengan begitu, aku
tak terlalu banyak menguras waktu dengan hal-hal pahit dalam kehidupan.
Kemudian, kembali menjadi manusia
yang memaksimalkan otaknya dengan belajar dan menggunakan hatinya untuk banyak
mengingat Tuhan. Keduanya harus dilakukan bersamaan agar tidak melangkah di
jalan yang sesat.
Mari membaca lagi sambil
menyaksikan konser Farewell Westlife.
ndak mikir perempuan karena sudah ada yang mikirin ustadz,,, hehehe
ReplyDeletedulu sy jg suka membaca meski jarang beli buku, sekarang malah parah susah sekali meluangkan waktu untuk membaca,... terlalu banyak faktor yang menghalangi untuk membaca. mungkin dari tulisan antum sy bisa mulai kembali...
hhrus sering baca
ReplyDelete