Friday, March 6, 2015

SAMIN VS SEMEN

Rabu, 6 Maret 2015

Sudah lama ingin melihat video dokumenter di youtube berjudul Samin vs Semen. Baru malam ini sempat melihatnya. Saya kira tentang konflik lama suku Samin di daerah Pati yang pernah saya jumpai beberapa tahun lalu waktu ke rumah teman. Ternyata tidak.

Geram rasanya melihat aparat yang berbicara atas nama undang-undang untuk mengusir warga pemilik tanah untuk kepentingan pemilik pabrik Semen. Betapa trengginasnya polisi mengusir ibu-ibu yang membela haknya sebagai pemilik tanah leluhur. Beberapa waktu kemarin bahkan saya melihat video ibu-ibu dipukuli polisi. Siapa yang tidak ingin misuhi aparat itu. Beraninya sama ibu-ibu. Begal dibiarkan saja.

Apa tak sadar kalau gaji mereka dari pajak yang dibayar oleh warga?

Memang tak bisa langsung menyalahkan polisi. Tentunya mereka melakukan itu sebagai ketaatan atas tugas. Lalu siapa yang bertanggung jawab? Siapa lagi kalau bukan pemerintah, pemilik pabrik dan ilmuwan yang memutuskan pembuatan pabrik di lahan petani Rembang.

Tanah untuk pembangunan pabrik semen memang akan diganti uang. Singkatnya akan dibeli dengan janji-janji diberi pekerjaan dan macam-macam. Siapa pula percaya janji orang seperti itu. Yang dibutuhkan orang Jawa ini tanah, air dan makan bukan semen. Begitu kata salah seorang ibu yang diwawancarai.

Kalau ingin membangun pabrik, mbok ya cari tempat yang jarang penduduk seperti di luar Jawa. Seperti di Papua dimana harga semen mahal. Lebih dari sejuta. Kalau mau membangun pabrik di Jawa ya  sama saja mau mengusir pemilik tanah dengan janji palsu ini itu.

Ibu-ibu sampai rela membuat tenda demi menolak pembangunan semen. Polisi dan tentara tidak juga punya belas kasih. Tetap ingin mengusir mereka mengatasnamakan undang-undang. Ruwet.

Dalam keadaan seperti ini, kemana bupati? Gubernur? Bukankah mereka dipilih oleh warganya agar jadi pemimpin. Tapi kok malah menyengsarakan rakyatnya demi keuntungan orang-orang tertentu. Saya yakin ha-hal semacam ini kerap terjadi di daerah lain dengan contoh kasus yang berbeda. Semoga tidak terjadi di desaku.

No comments:

Post a Comment