AHAD, 29 MARET 2015
Mengurangi bacaan sastra ternyata berpengaruh pada kemampuanku menulis kata-kata romantis. Tak ada masalah. Malah harus disyukuri jika akhir-akhir ini tak ada hasrat membaca novel. Keinginan membaca buku-buku tafsir lah yang mengurangi keinginan membaca sastra.
Mengurangi bacaan sastra ternyata berpengaruh pada kemampuanku menulis kata-kata romantis. Tak ada masalah. Malah harus disyukuri jika akhir-akhir ini tak ada hasrat membaca novel. Keinginan membaca buku-buku tafsir lah yang mengurangi keinginan membaca sastra.
Rasa cintaku pada Quran tak dapat kuwujudkan dengan hafalan.
Waktu kelas tiga aku telah berusaha dan
gagal. Saat kuliah semester tiga pun pernah. Dan gagal pula. Barangkali rasa
cinta itu berubah jadi keinginan untuk mampu menafsiri ayat-ayat Quran. Kemarin
Pak Abbad menyarankan untuk membuat tafsir dengan tiga pendekatan sekaligus. Bayani,
Burhani dan Irfani.
Kitab tafsir dengan tiga pendekatan itu belum ada. Selama
ini yang ada baru menggunakan salah satu dari ketiganya. Pembagian yang
dirumuskan oleh Al-Jabiri tersebut sangat perlu untuk memahami teks al Quran
yan begitu luas sekali. Apalagi orang sepertiku. Pendekatan bayani saja takkan
pernah bisa memenuhi rasa penasaranku dalam menjelaskan ayat-ayat Quran. Tafsir
bayani adalah dengan penjelasan yang didasarkan dengan ayat Quran atau hadis
seperti tafsir At-Tabari.
Sedang burhani adalah dengan pendekatan akal pikiran seperti
tafsir Al Manar Muhammad Abduh. Sedang irfani bisa dikatakan dengan pendekatan
sufistik seperti kitab Ahkamul Quran karya Muhyiddin Ibnu ‘Arabi.
Terkadang terjadi perbedaan makna pada kitab tafsir dengan
ketiga pendekatan tersebut. Bagi orang yang belum tahu tentang ketiga pembagian
ini tentu akan dengan mudah menyalahkan orang yang berbeda. Padahal semuanya
digali dari sumber yang sama, Al-Quran.
Apakah mungkin melakukan proyek tafsir dengan tiga
pendekatan sekaligus? Mungkin saja. Tapi penulisnya tentu bukan saya saat ini
yang bodoh ini. Baca Ayatul Ahkam Syaikh Ali Assobuni saja belum pernah khatam.
Itu pun sudah banyak yang lupa kecuali terma baru-baru ini saja. Seperti
tentang soal hukum pidana dalam Islam, sanksi bagi pezina dan pelaku
homoseksual. Untuk yang lainnya sudah banyak yang lupa.
Kemarin aku sempat bertanya, apakah penganut aliran radikal
itu menafikan ilmu tafsir sama sekali sehingga cara memaknai Quran pun sangat
kaku, tanpa memperhatikan sejarah dan faktor sosial yang mengiringi turunnya
Quran pada waktu itu.
Sekarang, malah ada sekelompok golongan yang sudah merasa
puas dengan menyampaikan pengajian hanya dengan bermodal terjemahan. Sementara
cara baca ayat Quran masih banyak yang masih keliru, baik makharijul huruf
maupun bacaannya. Aku tahu niatnya baik. Tapi mengapa tak belajar dulu sebelum
menyampaikan kepada orang lain?
Mantab pak. Kegagalan adalah awal dari kesuksesan. Dan Allah punya kehendak lain yang antum bisa melakukanya. :)
ReplyDeleteIya. TInggal dijalankan secara maksimal saja.
ReplyDelete