Monday, March 30, 2015

ANGKAT PENA MENULIS SASTRA?

AHAD, 29 MARET 2015

Mengurangi bacaan sastra ternyata berpengaruh pada kemampuanku menulis kata-kata romantis. Tak ada masalah. Malah harus disyukuri jika akhir-akhir ini tak ada hasrat membaca novel. Keinginan membaca buku-buku tafsir lah yang mengurangi keinginan membaca sastra.

Rasa cintaku pada Quran tak dapat kuwujudkan dengan hafalan. Waktu kelas tiga aku telah  berusaha dan gagal. Saat kuliah semester tiga pun pernah. Dan gagal pula. Barangkali rasa cinta itu berubah jadi keinginan untuk mampu menafsiri ayat-ayat Quran. Kemarin Pak Abbad menyarankan untuk membuat tafsir dengan tiga pendekatan sekaligus. Bayani, Burhani dan Irfani.

Kitab tafsir dengan tiga pendekatan itu belum ada. Selama ini yang ada baru menggunakan salah satu dari ketiganya. Pembagian yang dirumuskan oleh Al-Jabiri tersebut sangat perlu untuk memahami teks al Quran yan begitu luas sekali. Apalagi orang sepertiku. Pendekatan bayani saja takkan pernah bisa memenuhi rasa penasaranku dalam menjelaskan ayat-ayat Quran. Tafsir bayani adalah dengan penjelasan yang didasarkan dengan ayat Quran atau hadis seperti tafsir At-Tabari.

Sedang burhani adalah dengan pendekatan akal pikiran seperti tafsir Al Manar Muhammad Abduh. Sedang irfani bisa dikatakan dengan pendekatan sufistik seperti kitab Ahkamul Quran karya Muhyiddin Ibnu ‘Arabi.

Terkadang terjadi perbedaan makna pada kitab tafsir dengan ketiga pendekatan tersebut. Bagi orang yang belum tahu tentang ketiga pembagian ini tentu akan dengan mudah menyalahkan orang yang berbeda. Padahal semuanya digali dari sumber yang sama, Al-Quran.

Apakah mungkin melakukan proyek tafsir dengan tiga pendekatan sekaligus? Mungkin saja. Tapi penulisnya tentu bukan saya saat ini yang bodoh ini. Baca Ayatul Ahkam Syaikh Ali Assobuni saja belum pernah khatam. Itu pun sudah banyak yang lupa kecuali terma baru-baru ini saja. Seperti tentang soal hukum pidana dalam Islam, sanksi bagi pezina dan pelaku homoseksual. Untuk yang lainnya sudah banyak yang lupa.

Kemarin aku sempat bertanya, apakah penganut aliran radikal itu menafikan ilmu tafsir sama sekali sehingga cara memaknai Quran pun sangat kaku, tanpa memperhatikan sejarah dan faktor sosial yang mengiringi turunnya Quran pada waktu itu.

Sekarang, malah ada sekelompok golongan yang sudah merasa puas dengan menyampaikan pengajian hanya dengan bermodal terjemahan. Sementara cara baca ayat Quran masih banyak yang masih keliru, baik makharijul huruf maupun bacaannya. Aku tahu niatnya baik. Tapi mengapa tak belajar dulu sebelum menyampaikan kepada orang lain?


2 comments:

  1. Mantab pak. Kegagalan adalah awal dari kesuksesan. Dan Allah punya kehendak lain yang antum bisa melakukanya. :)

    ReplyDelete
  2. Iya. TInggal dijalankan secara maksimal saja.

    ReplyDelete