Monday, March 16, 2015

TRADISI GUNJING

Selasa, 17 Maret 2015

Setiap manusia punya kekurangan.

Kalimat kepalang klise dan kelewat membosankan untuk didengar atau dibaca. Semua tahu dan menginsafi kebenarannya. Saya menulisnya lagi sebab merasa kurang senang jika kebenaran kalimat tersebut tidak memberikan kesadaran untuk tidak ngerasani orang lain. 

Gunjing-menggunjing rasanya memang asyik apalagi pendengarnya merasa menikmatinya. Saya sendiri sebisa mungkin untuk menghindari. Jika terjadi maka usaha yang saya lakukan adalah dengan mencoba mencari kebaikan orang yang digunjing dalam suatu pembicaraan. Atau bisa dengan mengalihkan pembicaraan.

Kalau mau mengingatkan agar berhenti menggunjing rasanya agak sulit kalau tidak memiliki keberanian menegur orang lain. Padahal dengan teguran, gunjingan bisa berhenti. Dengan catatan dilakukan secara elegan.

Tradisi baru muncul dengan munculnya penggunjingan di dunia maya yang semakin merajalela. Terlebih di facebook dan twitter. Budaya negatif tersebut begitu cepat menular tanpa ada kontrol. Bahkan penyebaran hal-hal negatif di dunia maya justru lebih cepat dibanding dengan energi positif.

Apa hal ini disebabkan karena orang Indonesia memang diciptakan begitu? Sebagaimana fakta semesta yang menyatakan bahwa orang yang hidup di daerah tropis tidak dapat menjadi penguasa peradaban karena terlalu dimanjakan alam?

Boleh jadi demikian.

Semakin kesini, justru cacian dan makian menjadi sebuah kebanggaan dengan alasan banyak orang bertopeng dengan kesantunan untuk menutupi keburukannya. Memang benar adanya. Ada sekian koruptor atau penjahat berbaju sopan dan religius untuk membentuk opini bahwa dia baik. Namun tidak semuanya seperti itu. Jadi tak perlu mencela atau menggunjing kekurangan orang. Hak sesama manusia adalah mengingatkan bukan mencaci. 

Ah tapi itu sulit. Yang lebih aman adalah dengan menyendiri dan mendoakan orang-orang yang berbuat buruk. Orang sekarang sulit diingatkan. Memberi nasihat malah akan menghabiskan waktu dan energi serta menghambat kemajuan diri. Lebih baik uzlah sambil perbanyak membaca wirid. Tentu dengan terus berkarya dan berupaya memikirkan tindakan apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki kondisi tanpa menggunjing dan mencaci.


No comments:

Post a Comment