Friday, March 13, 2015

KREDIT GELAR MAGISTER

Sabtu, 14 Maret 2015
Sekitar sepuluh hari yang lalu saya memutuskan untuk hutang lagi pada teman-teman untuk bayar herregistrasi kuliah semester genap. Hutang untuk bayar registrasi semester awal saya sudah hutang sebesar dua juta lima ratus ribu, harga yang sama yang harus kubayar untuk semester ini. Bedanya jika dulu saya hutang kepada satu orang, semester ini saya pinjam kepada lima orang dengan nominal lima ratus ribu per orang. Betapa saya merasakan manfaat punya banyak teman yang bisa mempercayaiku.

Dengan sejumlah hutang tersebut pada akhirnya saya terbetik niat untuk mencari uang dengan mencari kerja halal. Tentu ada banyak pilihan mulai dari jadi tukang parkir hingga jadi penjaga mini market. Tentu saja pekerjaan seperti itu tidaklah cocok denganku. Pengan petunjuk Tuhan akhirnya saya mendapat kemudahan dengan menjadi distributor buku dan alat-alat falak yang diproduksi oleh teman.

Teman yang saya hutangi sebenarnya banyak namun yang bisa memberi uang pada waktu itu hanya empat orang. Sisanya kuusahakan dengan gajiku. Untungnya pas. Sebenarnya bisa dengan meminta dispensasi kepada pihak kampus. Hanya saja saya tak suka dengan hal-hal yang sifatnya administratif yang mengharuskan saya melakukan ini itu.

Hutang ini membuat saya terpacu untuk membayarnya. Saya sepenuhnya sadar, membayarnya adalah kewajiban antar persona yang harus dipenuhi sebagaimana ibadah kepada Tuhan. Bulan ini, Tuhan memberi kemudahan dengan memberiku rezeki lewat pemesanan alat falak yang bisa untuk membayar lima ratus ribu. Dan ada lagi lima ratus ribu dari gaji mengajar di pondok. Sehingga dua orang bisa kulunasi bulan ini. Alhamdulillah.

Dengan sejumlah hutang tersebut, rasanya saya sedang membayar kredit seperti halnya orang yang sedang kredit sepeda motor atau cicil rumah. Bedanya yang saya beli bukan barang mewah melainkan ilmu yang pada saatnya nanti akan memberikanku gelar magister. Ini adalah tantangan bagiku.

Jelas ada yang dikorbankan. Posisiku di pondok yang tak lagi intens. Saya sering ke kantor pos untuk kirim barang kepada pemesan. Walau demikian saya masih sering berada di pondok, menyendiri dengan hp sambil promosi dan melayani pemesan.

Di sela waktu, saya menyempatkan mengetik dan mengedit naskah buku yang akan diterbitkan. Sambil mengetik, saya juga sambil belajar. Kebiasaan baca buku takkan pernah pudar. Begitu pula baca Quran. Harus disempatkan.

Rasanya saya menyadari sebagai bukan orang disiplin. Tak bisa datang ke kantor sekolah tepat waktu karena tidur pagi lalu melakukan hal-hal tak bermanfaat dengan alasan untuk refreshing. Padahal ada banyak hal yang harus kulakukan walau sekedar merenungi makna tulisan yang kubaca.

Yang patut dibingungkan dari diriku adalah soal pengalaman religius yang berubah dari yang sifatnya doktrin tasawuf kini harus dirasionalkan. Susah rasanya menerima informasi walaupun disampaikan seorang habib atau kiai tanpa tahu alasan rasionalnya kecuali ulama-ulama tertentu seperti Gus Mus dan dosen yang secara kepribadiannya bisa dinyatakan sebagai sosok yang 'sholih' dan pemikirannya terus berkembang.

Semester ini mudah-mudahan banyak dosen yang demikian. Yang bisa dijadikan contoh sebagai sosok intelektual yang tetap memegang teguh ajaran Islam sehingga kelak yang kubayar benar-benar menghasilkan ilmu yang bisa nresep dan bermanfaat.




No comments:

Post a Comment