Tuesday, October 16, 2012

SENIN, 1 OKTOBER 2012

Hari Kebangkitan Pancasila saat Kesakitan Pancasila. Ideologi berkelas dunia harus dikebiri dalam negara sendiri. Seperti anak kandung yang tak dikasihi karena cacat. Orang tuanya berpaling pada anak tiri yang banyak disukai orang lain karena penampilannya. Padahal di dalamnya ada racun. Memang buku Negara Paripurna layak dibaca semua orang Indonesia untuk kembali pada jati diri agar punya harga diri. Itu hanya khayalan. Tak ada beda dengan bayanganku menjadi pangeran dalam kahyangan. Menjelaskan Pancasila itu tugas semua orang terdidik. Tapi mendidik agar mengerti tak harus dalam kelas. Jumlah jam di kelas tak efektif. Sampai kapan pun. Karena di kelas hanya sebuah rangsangan untuk belajar bukan sebuah keharusan. Hanya sekarang siswa-siswi lebih banyak yang berpikir bahwa belajar harus di kelas, di luar, bablas. Saat ini, dalam kondisi apapun, aku akan tetap terus berpikir bagaimana ilmu dapat dinikmati, tidak memaksa apalagi membuat orang tertekan. Dunia pendidikan formal mengecewakanku. Aku tak suka dengan hal remeh temeh yang dianggap penting. Bahkan menjadi sebuah aturan yang harus ditegakkan. Untungnya aku masih bisa enjoy, merasa menikmati kebersamaan bersama anak-anak di sini. Ada yang belum kutahu kepastiannya. Kabarnya di sini santri tak boleh baca novel. Mudah-mudahan itu tak benar. Aku paham tidak semua orang menyukai baca, tapi bagi seorang santri, membaca itu cukup penting. Namun orang akan jenuh hanya membaca pelajaran dan pelajaran. Bahkan kejenuhan itu membuat orang sama sekali tak membaca. Dengan novel, keinginan membaca akan muncul. Maka, pilihannya dua. Membaca novel atau tidak membaca sama sekali.

No comments:

Post a Comment