Bukan karena hari pertama jadi dosen yang menarik hari ini. Bukan. Hanya hari ini aku didekati oleh seorang santri kelas satu smp. Namanya hafid, panggilannya Apet santri asal Malang. Di kelas kulihat dia sering tidur, tapi kubiarkan. Wajahnya lucu, agak gemuk tapi pendek. Dia sepertinya belum betah di pondok ini. Beberapa waktu lalu kudekati dia saat menulis pelajaran. Dia minta sms padaku ingin disambangi karena tangannya sakit, cantengen. Kuberikan pada untuk sms. Dan dia senang lalu menulis. Hari ini dia datang padaku saat aku baca buku di depan gubug. Dengan wajah lucunya dia duduk si sampingku. Kutanyai dia. "Orang tuamu datang saat istighasah kemarin." "Iya," jawabnya. Lalu kutanya. "Berapa sakumu per bulan?" "Bukan sebulan, Mas. Dua minggu sekali." "Berapa?" tanyaku. "Dua puluh ribu." katanya. Hah. Kukira dia anak orang kaya. Tapi dari jumlah sakunya, mungkin tidak. Jadi santri memang harus sabar. Aku tak bisa membayangkan berapa jumlah uangnya yang dikeluarkan perharinya. Yang penting dia kerasan dan mau mengkaji pengetahuan di sini dengan baik. Apa pun cobaannya. Malam ini aku mengikuti rapat pengurus pondok. Aku hanya diam, mendengarkan segala jenis keluhan, permasalahan dan aturan-aturan di pondok. Ya, selama sebulan di sini, aku mengamati segala permasalahan yang ada di sini dengan pendapatku. Kali ini dari sudut pandang orang lain yang sudah menahun di sini. Nampaknya aku cukup mendengarkan saja nanti kalau ada waktunya akan kusampaikan ide, bukan masalah. Yang kubaca selama ini ada benarnya. Beda pendapat antar gus. Haha. Ingin tertawa saja. Lalu kudapati praktek aliran hukum positivistik. Seperti aturan-aturan ini, itu yang harus diselesaikan dengan sanksi ini itu. Tanpa mengetahui apa penyebabnya.
No comments:
Post a Comment