Pernahkah mendengar cerita tentang seseorang yang dipanggil ustazd kehabisan uang hingga menghutan kepada santri? Pasti pernah. Dan kini itu sedang kualami. Hampir sebulan berada di sini hanya dengan saku sebesar tiga ratus ribu. Sebagian besar uang kupakai belanja buku lainnya untuk keperluan harian. Sejak beberapa hari lalu uang sudah habis untungnya masih ada uang santri yang bisa kupakai sementara waktu. Aku sendiri belum tahu di sini digaji atau tidak. Tempat tinggal dan makan gratis sudah cukup untukku. Hah, inilah yang memang kujalani. Entah sampai kapan. Lalu apakah aku masih ingin menikah tahun depan? Masih. Aku semakin dekat dengan Nurul. Aku masih menjalankan rencana besarku namun bukan berarti itu akan menganggu stabilitas keteguhanku dalam hidup 'seenak sendiri' seliarku. Proses pembuatan cerpen sedang berjalan ke tahap berikut. Penulis kuminta mengetik karyanya. Sementara pikiranku mencoba menggarap karya lain yaitu majalah dan pembuatan lajnah falakiyah. Kedua program itu 'dipesan' oleh pihak gus-gus di sini. Hampir sebulan di sini, aku mengikuti jamaah tanpa harus mengikuti mainstream menggunakan jubah sebab aku masih belum punya. Bahkan celana untuk mengajar pun aku punya satu. Terpaksa meminjam santri. Lalu aku juga tak punya baju takwa. Selama mengikuti acara-acara pondok, aku hanya memakai batik dan baju orangeku. Keduanya pemberian orang. Aku memang malas belanja pakaian meski sebenarnya ingin punya. Pakaianku yang banyak adalah kaos. Padahal kulihat ustadz-ustadz yang tinggal bersamaku hanya memakai kaos dalam berwarna putih. Aku masih belum tahu alasan mereka hanya menggunakan kaos putih itu. Sosok Chisfiah di dunia nyata sudah menyadari bahwa dirinya kujadikan inspirasi dalam tulisanku. Mudah-mudahan dia dan teman-temannya paham kalau aku tak bermaksud untuk mencintainya atau menjadi pasangannya. Tidak.
No comments:
Post a Comment