Wednesday, March 14, 2012

SELASA, 28 FEBRUARI 2012

Guru. Dia adalah pengabdi. Lagu hymne guru pas sekali untuk penggambaran sosok guru. Dengarkan, resapi lagu itu. Liriknya dalam. Kesimpulan dari lagu itu, jika ingin jadi manusia mulia dan terpuji. Jadilah guru. Senja tanpa kegiatan membuatku malas berdiri. Ingin terus berbaring, beritikaf di depan televisi. Kakak iparku mendadak mengajakku mendistribusikan SK dan soal-soal try out di beberapa desa di kecamatan Modo. Aku tak menolak ajakannya. Kuingin melihat desa-desa dan penduduk Modo. Tak sia-sia. Ternyata kakakku adalah sosok pejuang gigih. Pejuang agama yang tak banyak berteori ataupun berorasi. Meskipun lelah setelah kegiatan sehari sebagai guru, ia tetap menjalankan tugasnya sendiri mengirimkan surat-surat tanpa meminta orang lain membantu. Akhirnya aku tahu pelosok-pelosok desa di kecamatan Modo. Jalan antar desa yang berlubang dan rusak berat hampir ada di semua daerah. Ada yang bermaterial aspal ada juga yang beton. Semuanya hancur padahal belum setahun. Desa-desa yang kudatangi sepi. Di tengah sawah dan masih banyak bambu-bambu liar. Tak ada suara kendaraan, suara deru pabrik dan keramaian kota lainnya. Rumah yang pertama kali kudatangi adalah seorang guru. Sebelum sampai di sana, motor berhenti karena ada mobil pengangkut padi. Sopir dan pengangkut padinya kenal kakakku. Dari mereka kami mendapat kabar kalau rumah yang kami tuju sedang tak ada karena sedang melahirkan di Lamongan. Tapi kami tetap kesana dan bertemu orang tua serta saudara. Surat bisa disampaikan. Aku hanya berpikir siapkah jika aku mengabdikan diri di desa seperti itu? Seperti kakak dan orang yang kami datangi. Menjadi guru madrasah swasta yang tak tahu dibayar berapa. Kurasakan ada sesuatu di hati yang mengatakan, aku harus mengabdi di pelosok. Karena pengabdian yang sesungguhnya ada di pelosok. Daerah-daerah yang mungkin susah mendapatkan akses pendidikan. Di Jawa masih banyak daerah seperti itu apalagi di luar Jawa. Perjalanan berlanjut, di tengah sawah ada Madrasah Aliyah yang dulunya adalah gedung SD yang sudah tak terpakai. Yang membuatku tersentuh adalah kepala sekolahnya yang sangat tua. Lebih dari tujuh puluh tahun. Semangatnya masih kuat. Bukan karena gaji atau tempt yang enak. Malah gedung sekolah dan ruang kepala sekolahnya belum layak sama sekali. Ruang guru, sekretariat dan perpustakaan ada dalam satu ruang. Hanya dipisah oleh triplek-triplek kecil. Semua itu tak mengurungkan niat para pengajar. Mereka masih semangat mengurus administrasi madrasah hingga senja gelap datang. Siapkah aku mengabdi di sekolah yang miris atau lebih miris lagi?

No comments:

Post a Comment