Wednesday, March 14, 2012

MINGGU, 12 FEBRUARI 2012

Baru sempat menuliskan pelatihan terakhir. Peserta pelatihan di MBI semakin akrab dengan tim. Kelompok yang kudapingi saat pelatihan perhitungan dapat menghitung dengan cepat. Beberapa peserta selesai sebelum pemateri. Karena pendampingan tersebut aku bisa mengahafal rumus waktu salat begitu pula yang dialami teman-teman Farabi. Dari tanggal 1 sampai 10 februari menjadi pendamping, tentunya membuat kami berulang-ulang membaca hingga hafal tanpa menghafal. Lalu ada satu hal lagi yang kudapat. Kemarin peserta diajari cara menentuka arah kiblat dengan Mizwala. Selama kuliah bersama dosen, aku belum bisa cara menggunakan alat itu. Kemarin aku melihat Syarif mengajari peserta, akhirnya aku bisa. Salah satu peserta bertanya tentang fenomena di sekitarnya. Bangunan musholla dan masjid terlihat mencolok tak sama bangunannya. Karena belum ada pengecekan, maka belum tentu shafnya berbeda arah kiblatnya. Ada saja cara tim Farabi untuk akrab dengan peserta, seperti yang dilakukan Dito. Dia menggombal peserta putri, seperti yang kulakukan. Tapi itu hanya untuk pengangkraban saja setelah pusing menghitung. Cara itu sangat efektif untuk akrab antar peserta dan pemateri. Dalam penutupan sekitar pukul empat sore, aku harus sambutan lagi. Karena seringnya mengatakan sepatah dua kata dalam sambutan, aku sudah terbiasa, tak perlu menyiapkan secara khusus. Bahkan aku sendiri bisa mengucapkan kata-kata yang bisa menimbulkan tepuk tangan audience. Inilah wujud nyata khoirun nas anfa'uhum linnas. Kami mewujudkan dengan pelatihan ini. Farabi berharap agar peserta bisa melanjutkan sendiri dengan bantuan Mas Jailani dan Mbak Anip selaku senior kami yang mengajar disana. Dasar Atronomi yang dipelajari selama pelatihan mudah-mudahan bisa dijadikan modal untuk mempelajari astronomi. Siapa tahu diantra peserta ada astronot muslim yang pertama kali menginjakkan kakinya di bulan. Bukan hanya itu, perhitungan waktu salat yang dipelajari bisa jadi tolak ukur untuk warga se kabupaten Mojokerto dalam pembuatan kalender. Tentu saja kuucapkan terima kasih kepada tim Farabi yang ikhlas mau menjadi penyebar ilmu tanpa imbalan. Adalah suatu hal yang sangat jarang di zaman materialisme seperti ini. Kira-kira itu ringkasa sambutan yang kusampaikan. Aku salut kepada teman-teman. Makanan dan tempat singgah tak menjadi masalah. Jika tempat tinggal kurang layak, ada yang mengingatkan bahwa niat awal kita tempat tidur di masjid terdekat. Jika makanan datang terlambat, ada yang mengingatkan kalau niat awal kita adalah makan sendiri bukan dari tuan rumah. Tapi kenyataannyakita selalu mendapat tempat singgah khusus dan makan gratis dari pihak pesantren. Tak hanya itu, transportasi ternyata seringkali mendapat tumpangan gratis. Andai saja orang-orang berilmu di Indonesia bisa seperti itu? Mungkin pengetahuan masyarakat Indonesia akan lebih baik. Sayang kebanyakan masih memikirkan uang, uang dan uang sehingga pengetahuan tak bisa tersebar kalau tak ada uang. Bedah jauh dengan ulama dahulu. Sosok ulama salaf adalah orang-orang ikhlas sehingga ilmunya masih dikaji sampai sekarang. Kitabnya msih ada di mana saja tanpa harus ada HAKI atau apapun yang bisa menuntut pembajak ilmu. Semangat peserta pelatihan MBI terwujud setelah penutupan selesai. Mereka menyanyikan yel-yel dengan meriah.Tim Farabi hanya bisa diam mendengarnya sebab yel-yelnya berbahasa Arab dan Inggris. Penuh dengan semangat muda. Seusai pelatihan aku bertemu alumni Mambaus Sholihin yang mengajar di sana. Laiknya seniro yang sudah sukses, cak Zaini tak banyak bicara membicarakan kesuksesannya tapi langsung mengajakku ke warung. Aku ditraktir makan. Malam harinya aku juga ditraktir oleh cak Zainuri, alumni lain yang mengajar di sana. Aku cara mereka untuk menunjukkan keberhasilannya. Tidak dengan kata-kata tapi langsung dengan tindakan nyata.

No comments:

Post a Comment