Kengerian Afghanistan selama ini hanya kubaca sepintas dari media. Beritanya juga sepenggal-sepenggal. Yang paling sering tentang Taliban dan bom bunuh diri. Dua hal itu seolah menjadi momok dunia. Keberadaa kelompok ekstremis Islam Taliban memang benar adanya. Begitu juga dengan bom bunuh diri. Afganistan selalu menjadi rebutan penguasa duni. Sejak zaman Alexander agung, Jengis Khan sampai komunisme Uni Sofiet. Terakhir Amerika yang ingin berkuasa atas nama kemanusiaan. Negara yang selalu menghadapi peperangan membentuk watak keras warganya. Kematian menjadi hal yang biasa, nyawa tak ada harganya dan hidup susah terus melanda. Negara yang berada di Asia tengah tersebut berada di wilayah pegunungan dan padang pasir. Mayoritas pendudukNya Islam yang fanatik. Entah fanatik Sunni-Syiah maupun fanatik etnik. Banyak daerah yang belum bisa merasakan listrik. Jika dibandingkan dengan Indonesia, kayaknya masih jauh. Konflik berkepanjangan di Afganistan membuat warganya banyak yang pasrah dan tak betah. Seringkali orang Afghan menyelundup keluar dari negaranya. Seperti bulan lalu. Ada warga Afganishtan tertangkap di perairan Indonesia. Aku ingin ke sana. Ingin tahu apakah benar yang ditulis Agustinus Wibowo dalam Selimut Debu. Biar kubisa lebih banyak bersyukur dengan hidupku di sini. Meski tak punya banyak uang seperti sekarang yang penting bisa makan, bisa menikmati listrik dan tak menghadapi cuaca ekstrim.
No comments:
Post a Comment