Monday, September 12, 2011

KAMIS, 8 SEPTEMBER 2011

Berlalu dengan cepat waktu ini. Sementara aku merasakan tak dapat memaksimalkan waktu. Setelah kuselesaikan 20 cerpen, rasanya aku agak sulit menelurkan ide-ide lagi. Tak akan pernah kumenyerah.
Aku masih terniang film Di Bawah Lindungan Ka'bah. Betapa seharunya cinta harus dikelola dengan baik agar cinta tak menjadi boomerang yang menyerang seorang pecinta saat menghadap Tuhannya. Cinta memiliki kedekatan yang erat dengan nafsu. Seperti yang pernah kurasakan. Saat aku mencinta, nafsu selalu ikut campur untuk ikut berperan dalam berhubungan. Aku sendiri tak mampu mengendalikannya saat sudah berada dalam jeratan cinta. Ini yang menyebabkanku agak ketakutan untuk mencinta. Kubiarkan diri ini sendiri demi menghindari perbuatan yang tak baik. Seperti kata temanku, seksploitator. Aku tak mau.
Perasaan yang terhanyut dalam cinta akan melebihi apapun. Tiada yang mampu bertahan dalam kesendirian jika sudah dilanda dengan wanita. Pasti ada rasa untuk berdua, berpadu kasih dalam keindahan cinta. Namun ada kalanya pecinta berani menabrak batas, ada juga yang berani berjalan dalam koridor adat dan agama sehingga. Jika tak dapat menahan nafsu akan terjadi sebuah kesesatan dalam bercinta. Lebih tepatnya cinta itu akan hilang berubah jadi nafsu setan. Jika mampu mengendalikan diri, cinta akan terasa indah dan akan lebih indah pada waktunya.
Mata akan menjadi alat yang pertama kali menjadi perangkat nafsu. Mata suka melirik kepada sesuatu yang indah. Mata lelaki suka keindahan wanita. Melihat wanita seksi, cantik dan menggoda diistilahkan dengan mencuci mata. Memang benar mata bisa tercuci tapi akibatnya adalah memperkeruh hati. Untuk itu, memelihara mata dari penglihatan yang tak wajar harus diutamakan setiap insan baik laki-laki maupun perempuan agar hati tak semakin keruh. Jika sudah keruh, sulit membedakan antara hitam dan putih. Semua bisa diterjang atas nama kebaikan meski perbuatannya buruk. Na'udzubillah.
Nampaknya sudah jarang sekali yang mau berbuat demikian. Pemuda-pemudi saat ini tak mengenal malu. Jarang sekali yang merasa dirinya diawasi. Bahkan lebih parah lagi, merasa diawasi tapi tak peduli. Tak takut dosa dan siksa. Semuanya dianggap berlalu begitu saja. Anak-anak SMP-SMA sudah berani meyalurkan nafsunya atas nama cinta dengan berciuman, berpelukan, dan beberapa sudah berani melakukan hubungan suami-istri. Perbuatan itu dianggap suatu kebiasaan bahkan sebagai prestasi.
Sampai kapan perbuatan amoral itu bertahan? Peran orang tua, ulama, dan guru tak mampu merubah remaja untuk berakhlak yang baik. Mereka harus segera disadarkan sebab kurikulum sekolahnya pun tak bisa dikuasai bahkan tak mau peduli dengan sekolah. Yang masih mau membaca, belajar sangat sedikit. Mereka lebih suka ber-smsan dengan kekasihnya lalu janjian dan bermesraan tanpa rasa malu. Ini adalah bencana.

No comments:

Post a Comment