Monday, September 5, 2011

KAMIS, 1 SEPTEMBER 2011

Sudah memasuki bulan September. Lebaran kemarin adalah lebaran yang cukup rame. Kudapati jama'ah sholat id yang membeludak di masjid hingga jalan-jalan. Seandainya suasana jama'ah di kampung halamanku seperti tadi? Betapa ramainya desaku.
Seperti biasa, dalam penentuan awal bulan syawal terjadi perbedaan pendapat. Dan kali ini pendapat orang NU yang dimenangkan. Sebetulnya aku lebih condong pada pendapat Muhammadiyah yang menentukan hari raya pada tanggal 30 Agustus. Namun kusendiri masih ragu. Pertarungan dalil dan pendapat ilmiah antara NU dan Muhammadiyah masih belum bisa disatukan. Aku melihat NU masih kolot dalam memahami dalil awal bulan. Sehingga tak berani menentukannya tanpa rukyah dengan mata kepala taua teleskop.
Muhammadiyah melakukan rukyah bil ilmmy, artinya keberadaan hilal dapat ditentukan tanpa rukyat. Karena Menag, Depag, MUI mayoritas orang NU, wajar jika pendapat NU dimenangkan. Aku condong pendapat Muhammadiyah namun akhirnya memilih pemerintah dalam mengambil pendapat.
Sebuah fakta tentang kebenaran Muhammadiyah terjadi saat malam takbiran, bulan sudah terlihat tinggi. Tak mungkin itu tanggal satu. Biasanya tanggal satu tak terlihat dari rumah. Namun malam itu kumelihatnya. Entah apa yang ada dalam pikiran ormas-ormas islam di Indonesia sehingga tak bisa akur. Kuharap suatu saat nanti ada yang mengalah.

No comments:

Post a Comment