Untuk kesekian kali bapak memintaku potong rambut. Aku hanya tersenyum.
Bukan karena tak patuh pada bapak. Aku enggan saja terlihat seperti om-om
dengan penampilan rapi, berbaju batik atau baju lengan panjang dimasukkan
dengan perut buncit. Penampilan itu memang rapi, penuh wibawa dan membuat orang
segan. Aku tak suka seperti itu. Untuk sementara aku ingin dengan rambut
awut-awutan tapi wangi dan bawa tisu untuk mengelap keringat di wajah.
Ini bukan pula berarti aku mengingkari usiaku yang semakin menua. Juga
bukan karena penampilan demikian adalah tradisi kapitalisme. Bukan. Ini tak ada
dengan ideologi apapun. Aku seperti ini karena alasan di atas. Aku tak suka
melihat om-om berpenampilan rapi. Lebih baik bersarung dengan baju koko lengan
pendek saja. Atau memakai kaos polo seperti yang sering dipakai bapak. Tapi
tanpa topi. Bapak suka memperhatikan penampilan. Penampilan sendiri dan
penampilan anak-anaknya.
Selain soal penampilan, tadi bapak seperti enggan jika aku langsung
melanjutkan S3 langsung. Bapak ingin aku bekerja dan membantu keuangan keluarga
walaupun tidak disampaikan langsung. Jika harus bekerja, mau bekerja dimana?
Dimana saja yang penting bisa bantu keuangan keluarga.
No comments:
Post a Comment