Wednesday, April 13, 2016

14 APRIL 2016

Nonton Dunia Tanpa Koma dan baca novel Pulang dalam beberapa waktu terakhir membuka wawasan baru tentang dunia di luar sana. Tentang kehidupan wartawan ibu kota, mahasiswi Sorbonne, aktifis dan lain sebagainya. Kata sebagian orang, Novel dan Film adalah karya fiksi. Benar adanya. Tapi bagiku, sefiktif apapun, pasti ada kisah nyata yang menjadi dasar adanya kisah fiksi tersebut sebagaimana tulisan fiktif yang sering kutulis.
Hidup dalam lingkaran yang tidak variatif adalah krangkeng. Hidup dalam satu lingkaran pun tidak ada salahnya. Orang berhak mau memilih jalan hidup apapun. Dan pilihan itu yang pasti adalah didasarkan pada prioritas hidup. Yakni tentang bagaimana dia survival. Berikutnya tidak hanya sekedar tentang bertahan hidup tapi juga menghidupi orang lain hingga akhirnya sampai pada tahap kemewahan. Dalam film ini misalnya, aku melihat kehidupan orang yang berada di luar lingkaranku sebagai seorang mahasiswa yang mendalami agama. Sebenarnya tidak sepenuhnya di luar hidupku sebab film ini bercerita tentang wartawan sebagaimana kehidupanku. Para tokoh adalah orang-orang yang hidup dari tulisan, suka membaca buku dan nonton film.
Melihat aktifitas sehari-hari hidup mencari berita, menulis dana membuat majalah sebetulnya kulakukan. Tapi aku memiliki redaksi yang berbeda dengan tooh-tokoh dalam film ini. Betapa asyiknya mereka, memiliki kantor, apat setiap hari, dikejar deadline dan sesekali berdebat tanpa memikirkan bagaimana nanti majalah didistribusikan dan bagaimana masalah keuangan harus dikelola dengan baik sehingga para crew tidak ikut mumet karena keuangan yang tidak cukup untuk dibuat survival.
 Seandainya aku hari ini adalah redaksi majalah di ibu kota, barangkali hari ini aku sedang meliput masalah ibu-ibu yang melawan pabrik semen atau jadi ikut-ikutan berlebihan membahas tentang keruwetan persiapan Pilgub Jakarta tahun depan. Tapi adakah kehidupan wartawan sebagaimana dalam DTK? Bekerja dengan idealisme tanpa kepentingan politik pemilik media sebagaimana media-media hari ini?
Film ini dibikin pada awal 2000 an, sebelum media serumit ini. Tapi bagaimanapun juga, media tahun 2000 an juga membawa kepentingan politik meski tak terlihat begitu mencolok. Sejak zaman Soe Hok Gie bahkan zaman Indonesia sebelum merdeka, dunia jurnalistik tidak bisa dipisahkan dari kepentingan. Tapi hari ini memang semakin memuakkan jika dibandingkan dengan media zaman Hok Gie. Setidaknya itulah yang bisa kusimpulkan dari buku Zaman Peralihan. Waktu benar-benar mengubah banyak hal. Aku yang dibesarkan dalam lingkaran, lingkungan dan orang-orang biasa. Jika ingin membuat gerakan dan gertakan aku harus belajar dari orang-orang di masa lampau yang berani. Kata Pram, keberanianlah yang dapat membuat bangsa lain tak berani menjajah. Sayangnya sampai hari ini bangsa ini tetaplah penakut. Sama sepertiku yang tak memiliki keberanian.
Para tokoh dalam film adalah orang-orang yang asyik dalam dunia kerja. Usianya lebih tua dari tua dariku hari ini. Mayoritas belum menikah dan tak merasa risau dengan masa lajangnya sama sepertiku. Kisah asmaranya juga begitu mengesankan. Cinta tidak diumbar dalam rayuan dan gombalan. Dialog yang dewasa antar tokoh mengenai buku, pekerjaan, kepribadian, film membuat ketertarikan satu sama lain. Ada rasa sayang dalam ekspresi masing-masing. Jika terjadi konflik, mereka akan saling membantah, memarahi untuk sementara waktu demi kebaikan pekerjaan. Bukan berpura-pura santun tapi dibelakang saling membicarakan keburukan orang lain.


No comments:

Post a Comment