Nonton Dunia Tanpa Koma dan baca novel Pulang dalam
beberapa waktu terakhir membuka wawasan baru tentang dunia di luar sana.
Tentang kehidupan wartawan ibu kota, mahasiswi Sorbonne, aktifis dan lain
sebagainya. Kata sebagian orang, Novel dan Film adalah karya fiksi. Benar
adanya. Tapi bagiku, sefiktif apapun, pasti ada kisah nyata yang menjadi dasar
adanya kisah fiksi tersebut sebagaimana tulisan fiktif yang sering kutulis.
Hidup dalam lingkaran yang tidak variatif adalah
krangkeng. Hidup dalam satu lingkaran pun tidak ada salahnya. Orang berhak mau
memilih jalan hidup apapun. Dan pilihan itu yang pasti adalah didasarkan pada
prioritas hidup. Yakni tentang bagaimana dia survival. Berikutnya tidak hanya
sekedar tentang bertahan hidup tapi juga menghidupi orang lain hingga akhirnya
sampai pada tahap kemewahan. Dalam film ini misalnya, aku melihat kehidupan
orang yang berada di luar lingkaranku sebagai seorang mahasiswa yang mendalami
agama. Sebenarnya tidak sepenuhnya di luar hidupku sebab film ini bercerita tentang
wartawan sebagaimana kehidupanku. Para tokoh adalah orang-orang yang hidup dari
tulisan, suka membaca buku dan nonton film.
Melihat aktifitas sehari-hari hidup mencari berita,
menulis dana membuat majalah sebetulnya kulakukan. Tapi aku memiliki redaksi
yang berbeda dengan tooh-tokoh dalam film ini. Betapa asyiknya mereka, memiliki
kantor, apat setiap hari, dikejar deadline dan sesekali berdebat tanpa
memikirkan bagaimana nanti majalah didistribusikan dan bagaimana masalah keuangan
harus dikelola dengan baik sehingga para crew tidak ikut mumet karena keuangan
yang tidak cukup untuk dibuat survival.
Seandainya aku
hari ini adalah redaksi majalah di ibu kota, barangkali hari ini aku sedang
meliput masalah ibu-ibu yang melawan pabrik semen atau jadi ikut-ikutan
berlebihan membahas tentang keruwetan persiapan Pilgub Jakarta tahun depan.
Tapi adakah kehidupan wartawan sebagaimana dalam DTK? Bekerja dengan idealisme
tanpa kepentingan politik pemilik media sebagaimana media-media hari ini?
Film ini dibikin pada awal 2000 an, sebelum media
serumit ini. Tapi bagaimanapun juga, media tahun 2000 an juga membawa
kepentingan politik meski tak terlihat begitu mencolok. Sejak zaman Soe Hok Gie
bahkan zaman Indonesia sebelum merdeka, dunia jurnalistik tidak bisa dipisahkan
dari kepentingan. Tapi hari ini memang semakin memuakkan jika dibandingkan
dengan media zaman Hok Gie. Setidaknya itulah yang bisa kusimpulkan dari buku
Zaman Peralihan. Waktu benar-benar mengubah banyak hal. Aku yang dibesarkan
dalam lingkaran, lingkungan dan orang-orang biasa. Jika ingin membuat gerakan
dan gertakan aku harus belajar dari orang-orang di masa lampau yang berani.
Kata Pram, keberanianlah yang dapat membuat bangsa lain tak berani menjajah.
Sayangnya sampai hari ini bangsa ini tetaplah penakut. Sama sepertiku yang tak
memiliki keberanian.
Para tokoh dalam film adalah orang-orang yang asyik
dalam dunia kerja. Usianya lebih tua dari tua dariku hari ini. Mayoritas belum
menikah dan tak merasa risau dengan masa lajangnya sama sepertiku. Kisah
asmaranya juga begitu mengesankan. Cinta tidak diumbar dalam rayuan dan
gombalan. Dialog yang dewasa antar tokoh mengenai buku, pekerjaan, kepribadian,
film membuat ketertarikan satu sama lain. Ada rasa sayang dalam ekspresi
masing-masing. Jika terjadi konflik, mereka akan saling membantah, memarahi
untuk sementara waktu demi kebaikan pekerjaan. Bukan berpura-pura santun tapi
dibelakang saling membicarakan keburukan orang lain.
No comments:
Post a Comment