Thursday, April 14, 2016

LOGIKA MISTIKA DAN AGAMA

Jika ingin memahami apa iu logika mistika, buku Madilog adalah sumber utama. Buku yang ditulis pada tahun 1943 tersebut saat ini banyak dijumpai di toko-toko buku. Pada masa orde baru buku ini pasti dicurigai sebagai buku komunis dan peredaranya dibatasi. Padahal buku ini sangat membuka wawasan dan mencerahkan pemkiran. Walaupun pada bab sains, susah sekali memahaminya.
Logika Misitika yang dibahas oleh Tan sejak jauh-jauh hari, sekarang masih terlihat dimana-mana, terutama bagi umat beragama. Dampaknya adalah, fungsi logika pemikiran menjadi dangkal sekali. Misalnya, mengagumi keturunan nabi atau keturunan sahabat nabi karena ketampanannya atau perangai individualnya bukan tentang apa yang dilakukan oleh mereka unuk negaranya, untuk peradaban Islam.
Orang menulis tentang tawassul minum kopi karena ada orang tertentu minum kopi. Kenapa tidak sekalian tawassul kepada pembuat kopi atau mendoakan pemilik warung kopi yang hidupnya tetap miskin? Lantas membantu memasarkan produk kopinya di tengah serangan produk kopi sachetan yang dibikin oleh perusahaan-perusahaan? Mengapa pemikiran manusia Indonesia menjadi sedangkal itu?
Logika mistika yang diajarkan di lembaga pendidikan dan tersebar secara viral di social media akan susah dilawan. Logika mistika kemudian diperkuat oleh cara memahami konsep barokah yang keliru. Orang lebih mencari barokah dari seseorang baik yang hidup atau sudah mati dari pada harus bersusah payah berjuang untuk. Bukan berarti ini kemudian menafkikan ziarah. Bukan. Tapi bagaimana ziarah ini dilakukan dengan mengenang apa yang dilakukan oleh orang yang sudah meninggal ketika hidup untuk kemudian ditiru. Ini sangat penting. Walaupun ada ironi di tempat-tempat ziarah tersebut. Biasanya tak jauh dari makam tokoh yang diziarahi akan dijumpai banyak pengemis. Lalu dimana letak barokahnya? Orang-orang yang hidup ternyata tidak bisa membantu pengemis ini untuk pindah profesi dan hidup lebih baik.
Jangan heran jika kemudian Indonesia saat ini  dijajah di sana-sini. Kata Gus Mus, apapun yang terjadi di Indonesia adalah tanggung jawab umat Islam sebagai mayoritas. Menurutku ini adalah tanggung jawab orang NU yang perlu untuk memperbaiki konsep pendidikannya. Jika tidak, sampai kapanpun kondisi akan sama saja. Konsep barokah dan hal-hal yang berkaitan dengan logika mistika harus direduksi agar lebih realistis dan rasionalis. Walaupun dalam beberapa hal memang harus percaya dengan hal-hal gaib. Tapi kegaiban ini apa?
Harus diakui bahwa al-Qur’an yang menjadi sumber utama umat Islam belum banyak disentuh walupun banyak dibaca dan dihafalkan. Kajian mengenai isi kandungan al-Qur’an ini masih sangat kurang. Orang memahami Islam baru sebatas pada maslaah fikh dan tidak banyak tahu mengenai keadilan sosial dan masalah kemasyarakatan yang juga harus diperjuangkan. Masalah keadilan ini juga harus diperjuangan melalui agama sebab ketidakadilan lah sumber kemaksiatan. Adanya ketidakadilan orang miskin semakin miskin. Kemiskinan membuat frustasi dan akhirnya mencari pekerjaan yang tidak halal. Pekerjaan yang tidak halal akan berdampak pada perilaku diri dan anaknya. Akhirnya bentuk kemaksiatan lain akan dilakukan.
Orang kaya yang semakin kaya menjadi gila harta. Harta dihabiskan dengan cara yang dilarang Allah. Masuk pelacuran, minuman keras dan lain sebagainya. Namun di sisi lain si kaya yang buruk perangainya ini menjadi bos dengan anak buah yang bermacam-macam. Ada yang baik, taat dan ada pula yang tidak baik. Lalu dalam hal ini agama ada di mana? Hanya untuk membentengi diri saja dari perbuatan buruk. Tidak mampu berbuat apa-apa ketika kekuatan asing menjajah umat Islam. Agama tak berkutik di hadapan kapitalisme.


2 comments:

  1. Kayaknya perlu bikin laman sendiri yg spesial bahas Logika Mistika dalam koridor spiritualitas dan budaya Islam javanisme deh,sayang banget kalo keselang-seling sama genre alay, terlalu bagus buat kelewat mata.

    ReplyDelete