Jika ingin
memahami apa iu logika mistika, buku Madilog adalah sumber
utama. Buku yang ditulis pada tahun 1943 tersebut saat ini banyak dijumpai di toko-toko
buku. Pada masa orde baru buku ini pasti dicurigai sebagai buku komunis dan peredaranya
dibatasi. Padahal buku ini sangat membuka wawasan dan mencerahkan pemkiran.
Walaupun pada bab sains, susah sekali memahaminya.
Logika Misitika
yang dibahas oleh Tan sejak jauh-jauh hari, sekarang masih terlihat
dimana-mana, terutama bagi umat beragama. Dampaknya adalah, fungsi logika
pemikiran menjadi dangkal sekali. Misalnya, mengagumi keturunan nabi atau
keturunan sahabat nabi karena ketampanannya atau perangai individualnya bukan
tentang apa yang dilakukan oleh mereka unuk negaranya, untuk peradaban Islam.
Orang menulis
tentang tawassul minum kopi karena ada orang tertentu minum kopi. Kenapa tidak
sekalian tawassul kepada pembuat kopi atau mendoakan pemilik warung kopi yang
hidupnya tetap miskin? Lantas membantu memasarkan produk kopinya di tengah
serangan produk kopi sachetan yang dibikin oleh perusahaan-perusahaan? Mengapa
pemikiran manusia Indonesia menjadi sedangkal itu?
Logika mistika
yang diajarkan di lembaga pendidikan dan tersebar secara viral di social media
akan susah dilawan. Logika mistika kemudian diperkuat oleh cara memahami konsep
barokah yang keliru. Orang lebih mencari barokah dari seseorang baik yang hidup
atau sudah mati dari pada harus bersusah payah berjuang untuk. Bukan berarti
ini kemudian menafkikan ziarah. Bukan. Tapi bagaimana ziarah ini dilakukan
dengan mengenang apa yang dilakukan oleh orang yang sudah meninggal ketika
hidup untuk kemudian ditiru. Ini sangat penting. Walaupun ada ironi di
tempat-tempat ziarah tersebut. Biasanya tak jauh dari makam tokoh yang diziarahi
akan dijumpai banyak pengemis. Lalu dimana letak barokahnya? Orang-orang yang
hidup ternyata tidak bisa membantu pengemis ini untuk pindah profesi dan hidup
lebih baik.
Jangan heran
jika kemudian Indonesia saat ini dijajah
di sana-sini. Kata Gus Mus, apapun yang terjadi di Indonesia adalah tanggung
jawab umat Islam sebagai mayoritas. Menurutku ini adalah tanggung jawab orang
NU yang perlu untuk memperbaiki konsep pendidikannya. Jika tidak, sampai
kapanpun kondisi akan sama saja. Konsep barokah dan hal-hal yang berkaitan
dengan logika mistika harus direduksi agar lebih realistis dan rasionalis.
Walaupun dalam beberapa hal memang harus percaya dengan hal-hal gaib. Tapi
kegaiban ini apa?
Harus diakui
bahwa al-Qur’an yang menjadi sumber utama umat Islam belum banyak disentuh
walupun banyak dibaca dan dihafalkan. Kajian mengenai isi kandungan al-Qur’an
ini masih sangat kurang. Orang memahami Islam baru sebatas pada maslaah fikh
dan tidak banyak tahu mengenai keadilan sosial dan masalah kemasyarakatan yang
juga harus diperjuangkan. Masalah keadilan ini juga harus diperjuangan melalui
agama sebab ketidakadilan lah sumber kemaksiatan. Adanya ketidakadilan orang
miskin semakin miskin. Kemiskinan membuat frustasi dan akhirnya mencari
pekerjaan yang tidak halal. Pekerjaan yang tidak halal akan berdampak pada
perilaku diri dan anaknya. Akhirnya bentuk kemaksiatan lain akan dilakukan.
Orang kaya yang
semakin kaya menjadi gila harta. Harta dihabiskan dengan cara yang dilarang
Allah. Masuk pelacuran, minuman keras dan lain sebagainya. Namun di sisi lain
si kaya yang buruk perangainya ini menjadi bos dengan anak buah yang
bermacam-macam. Ada yang baik, taat dan ada pula yang tidak baik. Lalu dalam
hal ini agama ada di mana? Hanya untuk membentengi diri saja dari perbuatan
buruk. Tidak mampu berbuat apa-apa ketika kekuatan asing menjajah umat Islam. Agama
tak berkutik di hadapan kapitalisme.
Kayaknya perlu bikin laman sendiri yg spesial bahas Logika Mistika dalam koridor spiritualitas dan budaya Islam javanisme deh,sayang banget kalo keselang-seling sama genre alay, terlalu bagus buat kelewat mata.
ReplyDeletehttps://rizalmubit.wordpress.com/
ReplyDelete