Tadi aku harus menyendiri, uzlah dalam masjid gara-gara menghadapi dosen-dosen yang kuanggap payah dalam menjalankan amanatnya. Bagaimana tidak, dia meraup banyak kuntungan dengan berbagaI "proyek" sementara mahasiswa jadi kebingungan karena kewajiban tambahan bertambah. Tak penting juga menanggapinya serius. Yang terpenting sekarang aku harus melakukan sesuatu untuk bersiap menghadapi masa depan. Percuma aku sudah membaca biografi tokoh-tokoh yang kukagumi tapi tak mengikuti jalan yang mereka lakukan. Masalah terbesar yang kuhadap sekarang adalah aku masih takut dicela, aku masih takut dianggap tak baik oleh orang lain meski apa yang kulakukan tak salah. Ya, dalam hal ini aku masih merasa malu jika tak bisa lulus semester delapan. Bukankah lulus semester berapa pun, aku harus wajib belajar. Lagi pula lulus delapan semester tak menjamin orang itu pintar, ahli di bidangnya. Untuk mengisi kekosongan waktu kuliah pada semester sembilan, nampaknya membuat sebuah pesantren akan lebih baik. Pesantren mahasiswa untuk orang-orang yang bisa diajak mandiri tanpa bergantung beasiswa maupun kirima orang tua. Jika ini berhasil, tidaklah berlebihan jika ini kuanggap sebagai bekal untuk melakukan tindakan yang lebih besar lagi. Mendirikan pesantren yang lebih besar misalnya. Seperti yang pernah kucita-citakan selama ini. Berhari-hari, aku masih menjadi sosok yang konyol. Secara idealis, aku meragukan kemampuan mahasiswa yang lulus semester delapan, namun aku sendiri malu jika tak lulus semester delapan. Aku harus tegas dengan jalanku. Masalah dengan orang tua, tinggal menjelaskan saja. Aku perlu memberi penjelasan kepada mereka apa aktifitasku di sini. Mendirikan pesantren, membuat koran dan menjabat jadi ketua merupakan hal yang dapat kubanggakan untuk diceritakan kepada mereka. Memang selama kuliah, prestasi akademikku kurang sebab aku tak mementingkannya. Tapi untuk rajin belajar aku masih bisa. Malah skripsi menjadi penjegalku. Skripsi membuatku tak bisa berkarya, tak membuat tulisan, tak rajin membaca. Singkatnya, pikiranku terjajah. Aku harus segera keluar dari penjajahan ini. Menjadi pribadi mandiri tanpa tuntutan birokrasi. Posisi nyaman, hidup mewah dengan mobil dan rumah serta istri cantik bukan tujuanku. Aku ingin menjadi lelaki sederhana yang tak henti berjuang demi pengetahuan, ilmu dan agama. Aku harus siap melarat seperti yang dibilang bapakku. Menjadi pejuang agama, harus siap melarat. Harta beda dan jabatan akan mejadi cobaan yang susah dihindari. Semoga Allah meridhoi jalanku.
No comments:
Post a Comment