Sunday, August 5, 2012

MINGGU, 27 MEI 2012

Tadi pagi aku menghadiri rapat kerja pengurus korkom HMI Walisongo. Satu yang menjadi masalah besar bagiku. Ideologi. Apakah aku mampu merubah ideologi kawan-kawanku yang sudah tak berasaskan Islam. Aku tahu tak ada yang merasa kalau ideologinya telah berubah. Begitu pun diriku. Mungkin. Dengan cara apa akan kusampaikan betapa pentingnya sebuah ideologi sebelum bekerja, sebelum berjuang, sebelum mengabdi. Jika tiada ideologi, semua aktifis akan melanjutkan penjajahan, memuluskan imperialisme atas negeri ini. Percuma mengutuk kemunafikan, tiada guna menjelek-jelekkan hedonisme kalau suatu saat nanti akan terjatuh juga dalam lubang tersebut. Senjata terampuh untuk melawannya, sementara ini, bagiku adalah moral transendental, merasa diawasi Allah. Itulah yang diajarkan para Kiai. Namun perkara yang tampak sepele itu seolah menjadi beban, berat, sangat berat sebab manusia, termasuk diriku lebih menyukai kesenangan duniawi yang bersifat pragmatis dibanding ukhrowi yang masih lama terbukti kenikmatannya. Apa yang kulakukan semoga bisa dianggap sebagai langkah untuk berbagi, menjadi manusia bermanfaat seperti yang kuingin. Paling tidak, bisa menjadi cara untuk melebur dosa-dosa yang menggunung. Moral jadi hal yang mahal namun jarang yang ingin memiliki. Aku terkadang merasa marah kepada diri sendiri dan kepada orang-orang yang merasa nyaman di bawah ketiak orang tuanya. Kumerasa mereka adalah sosok egois, memikirkan diri sendiri tanpa berpikir untuk orang lain. Inilah rusaknya moral. Cukup. Aku tak mau terbawa emosi ini. Pendidikan macam apa yang diajarkan di SMA, di kampus hingga mencetak mesin-mesin pekerja yang tak memandang moral, hanya mementingkan perut dan nikmat sesaat. Aku benci kehidupan yang semakin rusak ini kepada manusia yang bangga dengan dosa-dosanya bahagia dengan ateismenya. Sebentar lagi kiamat segera datang. Kanjeng nabi Muhammad, penyempurna akhlak telah jauh meninggalkan umatnya, ajaran-ajaran yang diharapkannya akan menjadi penerang dianggap sebagai barang usang. Aku ingin sosok Muhammad itu mengajariku arti bermoral, makna beribadah kepada Allah, supaya kubisa menangis di hadapan Allah. Ah, mana mungkin aku bisa menangis karena Allah, melakukan maksiat saja merasa tak berdosa. Astaghfirullah....

No comments:

Post a Comment