1. Pendahuluan
Astronomi, dalam salah satu sumber yang pernah penulis baca adalah ilmu tertua dalam sejarah peradaban manusia 'ratu sains'. Ini terbukti dengan sikap manusia yang terkagum-kagum dengan kerlap-kerlip bintang yang kemudian dipercayai sebagai mitos dan pada akhirnya dimanfaatkan keteraturan pergerakannya untuk mengetahui peredaran waktu.
Nabi Idris As, salah satu utusan Allah yang wajib diketahui oleh semua umat islam, dalam kitab Khulashoh al-Wafiyah, disebutkan sebagai orang yang pertama kali mengetahui ilmu falak. Ilmu falak ini tidak lain adalah ilmu astronomi. Namun dalam perkembangan terakhir terdapat pemaknaan yang memisahkan makna astronomi dan falak. Astronomi mempelajari benda-benda langit secara umum sedangkan falak hanya mempelajari lintasan benda-benda langit.[1]
Perkembangan astronomi baik pada masa pra islam, pada masa kejayaan islam dan pasca kejayaan islam sebenarnya adalah keberhasilan ilmuan-ilmuan dalam menghasilkan karya dan penemuan-penemuannya berdasarkan observasi terhadap benda-benda langit.
Karena alasan yang tersebut di atas.dalam menjelaskan perkembangan astronomi di dunia islam penulis hanya menjelaskan beberapa ulama-ulama islam yang ahli di bidang astronomi disertai karya dan sumbangsihnya terhadap ilmu astronomi tersebut
2. Sekilas Tentang Astronomi Pra Islam
Jejak astronomi tertua ditemukan dalam peradaban bangsa Sumeria dan Babilonia yang tinggal di Mesopotamia (3500-3000 SM). Bangsa Sumeria hanya menerapkan bentuk-bentuk dasar astronomi seperti pembagian lingkaran menjadi 360 derajat dan pengetahuan mereka terhadap konstelasi bintang berupa rasi bintang pada segel, vas, dan papan permainan. Nama rasi Aquarius yang dikenal saat ini berasal dari bangsa Sumeria.
Astronomi juga sudah dikenal masyarakat India kuno. Sekitar tahun 500 SM, Aryabhata melahirkan sistem matematika yang menempatkan bumi berputar pada porosnya. Aryabhata membuat perkiraan mengenai lingkaran dan diameter bumi. Brahmagupta (598–668 SM) juga menulis teks astronomi yang berjudul Brahmasphutasiddhanta pada tahun 628 SM. Dialah astronom pendahulu yang menggunakan aljabar untuk memecahkan masalah-masalah astronomi.
Masyarakat Cina kuno 4000 SM juga sudah mengenal astronomi. Awalnya, astronomi di Cina digunakan untuk mengatur waktu. Orang Cina menggunakan kalender lunisolar. Namun, kerena perputaran matahari dan bulan berbeda, para ahli astronomi Cina sering menyiapkan kalender baru dan membuat observasi.
Bangsa Yunani kuno juga amat tertarik dengan astronomi. Adalah Thales yang mengawalinya pada abad ke-6 SM. Menurut dia, bumi itu berbentuk datar. Phytagoras sempat membantah pendapat itu dengan menyatakan bumi itu bulat. Dua abad berselang, Aristoteles melahirkan terobosan penting yang menegaskan menyatakan bahwa bumi itu bulat bundar.
Aristachus pada abad ke-3 SM sempat melontarkan pendapat bahwa Bumi bukanlah pusat alam semesta. Teori itu tak mendapat tempat pada masa itu. Era astronomi klasik ditutup Hipparchus pada abad ke-1 SM yang melontarkan teori geosentris. Bumi itu diam dan dikelilingi oleh matahari, bulan, dan planet-planet yang lain. Sistem geosentris itu disempurnakan Ptolomeus pada abad ke-2 M .
2. Astronomi Islam dan Perkembangannya
Setelah keruntuhan kebudayaan Yunani dan Romawi pada abad pertengahan, maka kiblat kemajuan sains berpindah ke bangsa Arab. Begitu pula Astronomi yang berkembang begitu pesat pada masa keemasan Islam. Karya-karya astronomi Islam kebanyakan ditulis dalam bahasa Arab dan dikembangkan para ilmuwan di Timur Tengah, Afrika Utara, Spanyol dan Asia Tengah.
Salah satu bukti dan pengaruh astronomi Islam yang cukup signifikan adalah penamaan sejumlah bintang yang menggunakan bahasa Arab, seperti Aldebaran dan Altair, Alnitak, Alnilam, Mintaka (tiga bintang terang di sabuk Orion), Aldebaran, Algol, Altair, Betelgeus.
Selain itu, astronomi Islam juga mewariskan beberapa istilah dalam 'ratu sains' itu yang hingga kini masih digunakan, seperti alhidade, azimuth, almucantar, almanac, denab, zenit, nadir, dan vega. Kumpulan tulisan dari astronomi Islam hingga kini masih tetap tersimpan dan jumlahnya mencapaii 10 ribu manuskrip.
Ahli sejarah sains, Donald Routledge Hill, membagi sejarah astronomi Islam ke dalam empat periode. Periode pertama (700-825 M) adalah masa asimilasi dan penyatuan awal dari astronomi Yunani, India dan Sassanid. Periode kedua (825-1025) adalah masa investigasi besar-besaran dan penerimaan serta modifikasi sistem Ptolomeus. Periode ketiga (1025-1450 M), masa kemajuan sistem astronomi Islam. Periode keempat (1450-1900 M), masa stagnasi, hanya sedikit kontribusi yang dihasilkan. [2]
A. Periode Pertama (700-825 M)
Periode ini ditandai dengan penerjemahan secara besar-besaran karya-karya astronomi dari bahasa Latin dan India ke bahasa Arab.
Anwar Rifa'i dalam bukunya al-Islam fi Hadlratihi wa Nidhamihi menyebutkan bahwa pada tahun 155 H/737 M (tujuh tahun sebelum runtuhnya kekuasaan Bani Ummayah), orang-orang Arab telah menterjemahkan buku Kunci Perbintangan karangan Hermes dari bahasa Arab Latin ke bahasa Arab.[3]
Kemudian pada tahun 136 H/ 754 M atas perintah Khalifah manshur (khalifah Bani Abbas kedua) al-Fazari menterjemahkan Sindhind atau Sindhanta Barahmagupta dari bahasa India. Kemudian Ya'qub Ibnu Thariq menerjemahkan Sindhanta Aryabhrata. Sedangkan Hunain bin Ishaq menterjemahkan buku Almagest karangan Claudius Ptolomeus. [4]
Pada periode pertama ini kita juga bisa mengetahui beberapa astronom seperti al Fadl bin Naubakh (w. 815 M) yang berhasil membangun kota Baghdad bersama Masyaallah berdasarkan Zij Shahi atau Zij Shahaiyari (The Table of King). Masyaallah dikenal sebagai ahli bintang yang berhasil yang berhasil meningkat meneliti bintang-bintang di angkasa dengan alat cipatannya berupa astrolable (perkakas kuno yang biasa digunakan untuk mengukur kedudukan benda langit pada bola langit).
Menurut penulis astronom-astronom muslim yang hidup pada periode pertama tidak hanya yang tersebut di atas. Masih ada beberapa ahli astronomi yang belum sempat penulis lacak.
B. Periode Kedua (825-1025 M)
Seperti yang disebutkan oleh Donald Routledge Hill periode ini adalah masa investigasi besar-besaran dan penerimaan serta modifikasi sistem Ptolomeus.
Astronom Yang termasuk pada periode kedua adalah Thabit Ibnu Qurrah (824-901 M). Ia lahir di Harran yang sekarang menjadi Turki tenggara akan tetapi dia menghabiskan hidupnya di Baghdad.[5] Dengan pandangan-pandangan barunya dalam dunia astronomi mampu membawa astronomi ke tingkat yang lebih sempurna. Ia mempunyai observatorium di Baghdad. Di sana ia menyelidiki jarak matahari dan bumi, mencatat berapa lama satu tahun menurut jalannya matahari. Ia juga menyokong pendapat dan teori tentang timbulnya gangguan getaran radio dari penggerak equinox. Untuk mengukur getaran ini, ia menambahkan dua dua bola astronomi pada delapan bola astronomi Ptolomeus.
Abu Ma'syar (w. 885). Namanya dikenal di eropa dengan Albumasyar. Ia menemukan adanya pasang surut air laut sebagai akibat pergerakan bulan terhadap bumi. Dua bukunya yang terkenal adalah al-Madkholul Kabir dan Ahkamus Sinni wal Mawalid.
Kemudian Abu Ja'far ibn Musa al-Khawarizmi (w. 849) menghasilkan karangan kitab berjudul al-Mukhtasar fi Hisab al-Muqabalah. Buku tersebut berisi tabel-tabel yang digunakan untuk menentukan saat terjadinya bulan baru, terbit-terbenam matahari, bulan, planet, dan untuk prediksi gerhana. Buku ini sangat mempengaruhi cendekiawan-cendekiawan Eropa.[6] Al-Kharizmi sangat berperan aktif dalam perkembangan ilmu astronomi baik dunia atau di Eropa.
Ahli astronomi lainnya, seperti Al-Batanni (w. 319 H/931 M) di dunia barat dikenal dengan Albatenius banyak mengoreksi perhitungan Ptolomeus mengenai orbit bulan dan planet-planet tertentu. Dia membuktikan kemungkinan gerhana matahari tahunan dan menghitung secara lebih akurat sudut lintasan matahari terhadap bumi, perhitungan yang sangat akurat mengenai lamanya setahun matahari 365 hari, 5 jam,46 menit dan 24 detik. Ia juga mampu menetapkan letak bintang dan menciptakan alat peneropong bintang.[7]
Astronom Islam juga merevisi orbit bulan dan planet-planet. Al-Battani mengusulkan teori baru untuk menentukan kondisi dapat terlihatnya bulan baru. Tak hanya itu, ia juga berhasil mengubah sistem perhitungan sebelumnya yang membagi satu hari ke dalam 60 bagian (jam) menjadi 12 bagian (12 jam), dan setelah ditambah 12 jam waktu malam sehingga berjumlah 24 jam.
Buku fenomenal karya Al-Battani ( Kitabu Ma'rifati mathla'l Buruj Baina Arbail Falak) pun diterjemahkan Barat. Buku 'De Scienta Stelarum De Numeris Stellarum' itu kini masih disimpan di Vatikan. Tokoh-tokoh astronomi Eropa seperti Copernicus, Regiomantanus, Kepler dan Peubach tak mungkin mencapai sukses tanpa jasa Al-Battani. Copernicus dalam bukunya 'De Revoltionibus Orbium Clestium' mengaku berutang budi pada Al-Battani.[8]
Al-Sufi (903-986 M) yang disebut Orang Barat dengan Azophi, nama lengkapnya adalah Abdur Rahman as-Sufi. Al-Sufi merupakan sarjana Islam yang mengembangkan astronomi terapan. Ia berkontribusi besar dalam menetapkan arah laluan bagi matahari, bulan, dan planet dan juga pergerakan matahari. Dalam Kitab Al-Kawakib as-Sabitah Al-Musawwar, Azhopi menetapkan ciri-ciri bintang, memperbincangkan kedudukan bintang, jarak, dan warnanya. Ia juga menulis mengenai astrolabe dan seribu satu cara penggunaannya.
Al-Biruni (973-1050 M) Ahli astronomi yang satu ini, turut memberi sumbangan dalam bidang astrologi pada zaman Renaissance. Ia telah menyatakan bahwa bumi berputar pada porosnya. Pada zaman itu, Al-Biruni juga telah memperkirakan ukuran bumi dan membetulkan arah kota Makkah secara saintifik dari berbagai arah di dunia. Dari 150 hasil buah pikirnya, 35 diantaranya didedikasikan untuk bidang astronomi.
Al-Farghani. Nama lengkapnya Abu'l-Abbas Ahmad ibn Muhammad ibn Kathir al-Farghani. Ahli-ahli astronomi barat yang hidup pada masa itu mengenalnya dengan nama Alfarghanus. Ia merupakan salah seorang sarjana Islam dalam bidang astronomi yang amat dikagumi. Beliau adalah merupakan salah seorang ahli astronomi pada masa Khalifah Al-Ma'mun. Dia menulis mengenai astrolabe dan menerangkan mengenai teori matematik di balik penggunaan peralatan astronomi itu. Kitabnya yang paling populer adalah Fi Harakat Al-Samawiyah wa Jaamai Ilm al-Nujum tentang kosmologi. Dan bukunya yang telah ke dalam bahasa Inggris adalah Element of Astronomy.
Di mesir, Daulat Fatimiyah telah lama berdiri. Di sini juga ilmu pengetahuan berkembang dengan pesatnya. Di bawah pemerintahan khalifah Aziz Billah dan al-Hakim Biamrillah, seorang ilmuwan besar bernama Ibnu Yunus, menurut Goerge Sarton adalah seorang ahli astronomi besar pada abad 19 M. Namanya menjadi besar setelah berhasil menemukan bandul (ayunan) yang dapat dipergunakan untuk mengetahui detik-detik waktu dalam meneropong benda-benda langit, sebagaimana bandul yang digunakan jam dinding. Hal ini membuktikan bahwa jauh sebelum Galileo Galilei yang dianggap oleh banyak orang sebagai penemu bandul sebenarnya telah ditemukan Ibnu Yunus sebelumnya.
Dari hasill observatorim yang dilakukan di Jabal Muqattam, Ibnu Yunus berhasil menemukan rubu' berlubang (Gunners quadrant) yang digunakan untuk mengukur gerak bintang. Alat tersebut terkenal dengan sebutan Zij kabir Hakimi atau Zij Ibnu Yunus. Karyanya ini telah menggantikan buku karya Claudius Ptolomeus.
Karya-karya lain Ibnu Yunus adalah Kitabul Mail mengenai kemiringan matahari dan Kitabul Ta'dil al Muhkam, tentang gerhana matahari dan bulan. Ia juga mempunyai bahasan-bahasan mengenai daftar bayang-bayang, tentang daftar azimuth matahari, ukuran ketinggian matahari, serta jadwal waktu sholat. Setelah Ibnu Yunus wafat pada tahun 399 H/1009 M. Ibnun Nabdi meneruskan penelitian Ibnu Yunus di Mesir pada tahun 1040.
Astronom yang semasa dengan Ibnu Yunus adalah Abul Qasim al Majriti (338-398/950-1007). Ia adalah astronom pertama di Andalusia. Dialah orang yang pertama mengomentari buku karangan al-Khawarizmi dan peta astronomis Ptolomeus. Karangan-karangannya dalam bidang astronomi adalah ringkasan equinox bintang dan Zij al-Battani, sebuah risalah tentang astrolable, keterangan mengenai buku Almagest, serta sebuah buku mengenai alam serta pengaruhnya terhadap makhluk-makhluk hidup.
C. Periode ketiga (1025-1450 M)
Masa ini adalah kemajuan sistem astronomi Islam. Pada masa ini Sejumlah, ahli astronomi Islam bermunculan, Nasiruddin at-Tusi (598-673 H/1201-1274) berhasil memodifikasi model semesta episiklus Ptolomeus dengan prinsip-prinsip mekanika untuk menjaga keseragaman rotasi benda-benda langit. Dia juga ahli astronomi yang membangun observatorium di Maragha atas perintah Hulagu. Dengan observatoriumnya tersebut ia membuat tabel-tabel data astronomis benda-benda langit dengan nama Jadwalul Kaniyan.
Al-Zarqali (1029-1087 M) Saintis Barat mengenalnya dengan panggilan Arzachel. Wajah Al-Zarqali diabadikan pada setem di Spanyol, sebagai bentuk penghargaan atas sumbangannya terhadap penciptaan astrolabe yang lebih baik. Bersama Ibnu Shaid ia membuat menciptakan jadwal astronomi Toledao dan juga merupakan seorang ahli yang menciptakan astrolabe yang lebih kompleks bernama Shahifah az Zarqali atau Saphaea Arzachelis.
Jabir Ibn Aflah (1145 M), Sejatinya Jabir Ibn Aflah atau Geber adalah seorang ahli matematik Islam berbangsa Spanyol. Namun, Jabir pun ikut memberi warna da kontribusi dalam pengembangan ilmu astronomi. Geber, begitu orang barat menyebutnya, adalah ilmuwan pertama yang menciptakan sfera cakrawala mudah dipindahkan untuk mengukur dan menerangkan mengenai pergerakan objek langit. Karangannya adalah al-Hailah, Ishlahul Majesti yang berisikan kritikan terhadap buku Ptolomeus. Dan salah satu karyanya yang populer adalah Kitab al-Hay'ah.
Dunia astronomi juga tak bisa lepas dari bidang optik. Melalui bukunya Mizan al-Hikmah, Al Haitham mengupas kerapatan atmofser. Ia mengembangkan teori mengenai hubungan antara kerapatan atmofser dan ketinggiannya. Hasil penelitiannya menyimpulkan ketinggian atmosfer akan homogen di ketinggian lima puluh mil.
Sebagai tambahan bukunya tentang ilmu semesta Ptolomeus, On the Configuration of the World, al Haitham mengkritik gagasan ptolomeus tentang teori geosentrisnya. Ia meragukan penjelasan terminologi gerakan secara phisik nyata dengan kontruksi geometris tiruan. Ibnu Haitham meragukan bahwa bentuk nyata planet bisa secara phisik diproduksi oleh bentuk khayal dan wahana.[9]
Ibnu Shatir (1304-1375 M) adalah tokoh yang menginspirasi Copernicus dalam mencetuskan teori heliosentrisnya. Karena teori tersebut tidak sesuai dengan gereja, akibatnya Copernicus dimusuhi gereja dan dianggap pengikut setan. Demikian juga Galileo, yang merupakan pengikut Copernicus, secara resmi dikucilkan oleh Gereja Katolik dan dipaksa untuk bertobat, namun dia menolak.
D. Periode Keempat (1450-1900 M)
Pada periode ini ilmu astronomi sudah tidak begitu cemerlangsebagaimana masa-masa sebelumnya. Namun pada periode ini masih bisa ditemukan beberapa ilmuan astronomi muslim sedikit banyak mampu mengembangkan ilmuan-ilmuan pendahulunya. Di antara ilmuan astronomi yang berada pada periode ini adalah adalah Muhammad Turghay Ulughbeik Giyath al-Din Jamshid al-Kushy, Qadizada al-Rumy dan `Ali ibn Muhammad al-Qashji. Dan Taqi al-Din Muhammad ibn Ma'ruf al-Rashyd al- Dimashqiy yang hidup pada zaman kekuasaan Sultan Murad III (1574-1595).
Di antara mereka yang paliong menonjol adalah Turghay Ulughbeik (797-853 H/1394-1449 M) yang lahir di Salatin Iskandaria. Karyanya yang monumental adalah jadwal Ulughbeik (Zij Sulthani), yaitu tabel astronomi tentang matahari dan bulan. Tabel yang berupa data astronomi ini banyak dijadikan rujukan pada ilmu hisab selanjutnya.[10]
Setelah Ulughbeik, astronom astronomi mulai mengalami kemunduran. Karya dan penemuan kurang memuaskan seperti pada periode-periode sebelumnya. Namun setelah wafatnya Ulughbeik masih bisa ditemukan bebrapa observatorium. Dan yang terakhir adalah observatorium yang dimiliki umat islam pada masa kekuasaan Sultan`Murad III dengan ahli astronominya bernama Taqi al-Din Muhammad ibn Ma'ruf al-Rashyd al- Dimashqiy.
3. Observatorium
Sejatinya observatorium pertama di dunia dibangun astronom Yunani bernama Hipparchus (150 SM). Namun, di mata ahli astronomi Muslim abad pertengahan, konsep observatorium yang dilahirkan Hipparcus itu jauh dari memadai. Sebagai ajang pembuktian, para sarjana Muslim pun membangun observatorium yang lebih moderen pada zamannya.
Sejumlah astronom Muslim yang dipimpin Nasiruddin al-Tusi berhasil membangun observatorium astronomi di Maragha pada 1259 M. Observatorium itu dilengkapi perpustakaan dengan koleksi buku mencapai 400 ribu judul. Observatorium Maragha juga telah melahirkan sejumlah astronom terkemuka seperti, QuIb al-Din al-Shirazy, Mu'ayyid al-Din al-Urdy, Muiyi al-Din al-Maghriby, dan banyak lagi.
Ahli astronomi Barat, Kevin Krisciunas dalam tulisannya berjudul The Legacy of Ulughbeik mengungkapkan, observatorium termegah yang dibangun sarjana Muslim adalah Ulughbeik. Observatorium itu dibangun seorang penguasa keturunan Mongol yang bertahta di Samarkand bernama Muhammad Turghay Ulughbeik. Dia adalah seorang pejabat yang menaruh perhatian terhadap astronomi.
"Ketertarikan dalam astronomi bemula, ketika dia mengunjungi Observatorium Maragha yang dibangun ahli astronomi Muslim terkemuka, Nasiruddin al-Tusi,'' tutur Krisciunas. Geliat pengkajian astronomi di Samarkand mulai berlangsung pada tahun 1201. Namun, aktivitas astronomi yang sesungguhnya di wilayah kekuasaan Ulugh Beg mulai terjadi pada 1408 M.
Ghirah astronomi di Samarkand mengalami puncaknya ketika Ulughbeik mulai membangun observatorim pada 1420. Menurut Kriscunas, berdasarkan laporan yang ditulis ahli astronomi pada saat iru, Al-Kashi aktivitas pengkajian astronomi di Observatorium Ulughbeik didukung oleh tujuh puluh sarjana. Para ahli astronomi itu mendapatkan perlakukan istimewa dengan fasilitas dan gaji yang luar biasa besarnya.
Observatorium ini beroperasi selama 50 tahun. Sayangnya, setelah Ulughbeikh meninggal, obeservatorium itu pun mengalami kehancuran. Sejumlah astronom telah lahir dari lembaga itu yakni, Giyath al-Din Jamshid al-Kushy, Qadizada al-Rumy dan `Ali ibn Muhammad al-Qashji. Observatorium yang terakhir milik Islam dibangun di Istanbul tahun 1577, di zaman kekuasaan Sultan Murad III (1574-1595) yang didirikan Taqi al-Din Muhammad ibn Ma'ruf al-Rashyd al- Dimashqiy.
DAFTAR PUSTAKA
Azhari, Susiknan. Ilmu Falak Teori dan praktek, Yogyakarta: Lazuardi.
Evans, James. 1998. The History and Practice of Ancient Astronomy, New York: Oxford University Press.
Khazin, Muhyidin. 2004. Ilmu Falak Dalam Teori dan Praktik Yogyakarta: Buana Pustaka.
Murtadho, Moh. 2008. Ilmu Falak Praktis, Malang: UIN Malang Press.
Thaha, Ahmadi. 1983. Astronomi Dalam Islam Surabaya: PT Bina Ilmu.
http://www.republika.co.id
[1] Lihat Muhyiddin Khazin, Ilmu Falak Dalam Teori dan Praktik,
[2] http://www.republika.co.id
[3] Lih. Ahmadi Thaha. Astronomi Dalam Islam cet pertama, Surabaya: PT Bina Ilmu, 1983, hlm. 18
[4] ibid, hlm. 23
[5] James Evans, The History and Practice of Ancient Astronomy, New York: Oxford University Press, 1998. hlm. 275
[6] Susiknan Azhari, Ilmu Falak Teori dan Praktek, Yogyakarta: Lazuardi, hlm. 7
[7] ibid, hlm 8
[8] op cit.
[9] James Evans, loc cit, hlm. 396
[10] Moh. Murtadho, Ilmu Falak Praktis,
No comments:
Post a Comment