Thursday, June 18, 2009

sirah qalbu

Melepaskan diri dari kemelut adalah kesulitan. Butuh keseriusan dan usaha yang besar. Semakin terbawa arus, kemelut itu akan semakin membuai diri dalam kesesatan yang dilabur dengan keindahan. Hati semakin keruh dan keruh hingga sulit membedakan mana kekeliruan dan mana kebenaran.

Keadaan akan semakin memburuk jika tak ada seorang pun yang memahami siapa dirinya dan apa tujuannya. Kekuatan akal melemah dan cahaya hati makin redup. Yang dirasakan hanya keindahan dan kenikmatan sehingga tak tahu kalau dia berada dalam kesesatan.

Tak ada seorang pun yang sanggup menyadarkan dirinya. Di matanya siang dan malam adalah keindahan, semangat dan kebenaran. Hatinya telah buta, imannya lumpuh dan telinganya tuli. Buta karena tak bisa membedakan, lumpuh sebab kekeruhan dan tuli tak bisa mendengar nasihat akan jalan yang benar.

Seringkali pijar-pijar cahaya hati menyala, namun entah mengapa pijaran tersebut tak bisa bertahan lama. Dan anehnya setelah itu hati semakin gersang.

Suatu saat, kilatan cahaya mencuat dan hati menjadi terbakar karena bertarung dengan kekuatan hati. "ahh" suara teriakan itu terdengar, tanda hitam kelam dan pekatnya hati terbakar oleh kilatan cahaya. Dan keluarlah pijaran-pijaran cahaya di setiap sudut hati.

Selang beberapa hari kekuatan hitam mencoba menyerang dengan merenta memohon agar bisa menempati dan menguasai naluri. Untungnya, saat itu pula cahaya itu sudah menyala dan berkobar menjadi kekuatan putih.

Dekat dan semakin bertambah dekat dengan penyulut cahaya. Hati terasa terlahir kembali. Nurani telah pulih. Tak ada lagi yang membelenggunya. Terasa bebas dan nyaman. Meski terkadang berat untuk bertahan. Suara-suara pembelenggu tak pernah menyerah untuk berusaha menguasai hati.

Kala hati tenteram, kekuatan itu mencoba menyerang dengan pisau tajam. Terasa pilu hati yang telah tenang. Pisau itu sungguh tajam dan menghujam. Tetapi keyakinan hati mampu menangkis segala kebrutalan pisau itu. Suatu yang tajam tak seharusnya dibalas dengan yang tajam pula. Hanya dengan menghalangi tusukan demi tusukan pisau itu akan semakin merapuh dan lama-lama akan melepuh.

Untuk saat ini semua serangan kekuatan itu bisa takluk. Tak akan menyerah untuk melawan serangan itu. Dan membalas serangan itu hanya mengurangi energi. Yang penting untuk saat ini adalah untuk menyulut cahaya itu agar serangan-serangan itu terbiaskan oleh cahaya dan suasanan hati tak akan mungkin bisa terserang.

Kini semua telah mantap dalam ketegaran. Tinggal memancarkan kepada semua anggota tubuh. Ke aliran darah, jantung, paru-paru dan otak yang memepengaruhi pikiran. Sekali lagi tugas berat harus dihadapi. Tidak semudah itu. Jika kalah dari anggota tubuh lainnya, mungkinn kembali lagi semua akan sia-sia. Bisa-bisa hati semakin rapuh dan hancur, kembali keruh dan mengeras.

Terlihat dengan jelas aliran-aliran darah melalui cahaya yang terpancar dari semua sudut hati. " Wahai darah ikuti jalanku". Teriak hati. " Mau kemana wahai hati, kau terang sekali, mau kemana kau pergi" darah bertanya. "aku mau menemui pemberi cahaya ini, kalau kau ikut, sel-selmu akan seperti sudut-sudutku, akan memancarkan cahaya"

to be continued

No comments:

Post a Comment