Hari kempat tahun 2017. Bulan Januari. Bulan terakhir aku selesai program Pendidikan Kader Mufassir di Ciputat. Setelah ini aku belum tahu akan kemana. Ada beberapa kemungkinan. Aku menetap di Jakarta jika diterima kerja di Mahkamah Konstitusi, menunggu keberangkatan ke Australia atau pilihan terakhir, kembali ke Gresik.
Aku sudah merencanakan banyak hal jika aku tetap di Gresik. Selain tetap menjadi pimpinan redaksi Al-Fikrah, aku bisa lebih serius membesarkan penerbitan yang kukelol. Di luar itu aku juga akan menyewa tambak di desa, menjadi pemateri sekolah menulis Al-Fikrah dan mengerjakan proyek buku biografi Kiai.
Dari seluruh kegiatan yang kulakukan tujuannya adalah untuk mendapatkan uang. Bukan untuk diriku sendiri. Tetapi untuk orang tua, saudara dan untuk persiapan pernikahan. Ada lagi satu hal yang terlupa, aku akan menjadi tenaga ahli pembuatan monumen Jam Matahari dengan fee besar, bekerja sama dengan CV Dimensi Indonesia yang bekerja di bidang konsultan bangunan. Jika proyek ini sukses, ke depannya akan kubuat proyek lain. Minimal lima tempat selama setahun.
Sebenarnya gaji bekerja di Majalah sudah cukup untuk hidupku. Aku merasa beruntung memiliki skill menulis sehingga pekerjaanku tidak berat. Hanya butuh laptop, buku dan paket data aku bisa menghasilkan uang. Tanpa harus susah payah mencari pekerjaan yang mengeluarkan banyak tenaga. Aku hanya kurang optimal. Banyak waktu terbuang sia-sia karena kemalasanku dan manajemen waktu yang buruk. Aku bekerja sesuka hatiku tanpa jadwal yang jelas. Aku memang bisa mendapatkan uang. Sayangnya tak terlalu banyak jika saja aku bisa lebih maksimal.
Mengapa aku menjadi orang yang berpikir tentang uang? Karena orang tua, saudara dan orang terdekatku membutuhkannya. Mereka adalah dzawil qurba, orang yang dekat denganku. Kebajikan yang nyata jika aku menginfakkan hartaku untuk mereka. Ini bukan berarti aku akan menjadi orang yang mata duitan. Sekalipun harus diakui bahwa godaan untuk mencari uang dengan cara yang tak benar terkadang datang. Untuk itu aku harus tetap menjaga idealisme, tetap mengisi otak dengan bacaan-bacaan yang mempertebal keimanan agar tetap idealis, istiqamah di jalan Tuhan. Kalaupun jika aku tak kaya uang, orang tua dan orang di sekitarku akan memaklumi sebab selama ini aku lebih banyak mencari ilmu.
Beberapa bulan terakhir ini aku bisa memberi uang orang tua dan saudaraku. Alhamdulillah. Artinya aku pun bisa mencari uang dengan cara yang dulu bagi orang tuaku terkesan bukan pekerjaan. Sebab aku tidur, makan dan menghadap laptop atau ponsel saja di rumah.
Aku percaya bahwa rezeki sudah diatur besarannya. Sudah dibagi oleh Allah. Apa yang dikerjakan oleh manusia hanyalah sekadar menjalankan ketentuannya. Ketentuan tersebut bisa saja berubah jika Allah memang berkehendak. Dia fa'aalun limaa yuriid. Zat Yang semau-maunya sendiri. Maka, Dia perintahkan hamba untuk meminta. Permintaan manusia yang pasti dikabulkan. Begitu janjinya. Aku percaya sebab banyak pintaku yang diberi. Kadang dalam jangka waktu yang lama. Rasanya, Allah memberi jika aku siap secara mental.
Tentu saja permintaan ini tak hanya permintaan. Harus ada usaha. Dan, aku berpikir bahwa jawaban dari doa tersebut adalah semangat untuk bekerja. Atau, berupa ide kreatif yang bisa dijadikan sebuah usaha.
No comments:
Post a Comment