Selalu saja bila ada kasus penggusuran atau konflik agraria antara perusahaan dan warga. Dengan alasan apapun dan atas nama apapun, aku merasa geregetan dan kecewa terhadap pemerintah daerah yang melakukan dengan pendekatan kekerasan atau memakai cara-cara yang tidak mengenakkan. Sebab, dalam setiap penggusuran dan konflik tanah ada tangisan yang mengharukan. Ada kesedihan yang memilukan. Dari orang-orang yang kehilangan pekerjaan dan tempat tinggal.
Aku pernah belajar HAM baik dari buku, kuliah atau pelatihan. Kasus di atas melanggar HAM, pasti. Tapi bukan itu yang membuatku sedih. Melainkan bayangan di kepalaku jika saja yang terusir dan dirampas haknya itu adalah orang tuaku, saudaraku, tetanggaku dan orang-orang yang kukenal. Betapa pedihnya.
Kasus ini marak, banyak dan terjadi setiap tahun. Orang tak berpunya dirampas haknya oleh orang kaya yang serakah.
Yang aku kagumi dalam setiap kasus negara vs warga adalah teman-teman yang mendampingi secara hukum, teman-teman media yang membantu menguak kebenaran yang disembunyikan dan bapak ibu yang gigih tak takut ancaman. Dalam pemikiranku, mereka ini sangat islami, melanjutkan salah satu perjuangan para nabi. Biar ini dianggap berlebihan namun aku punya alasan. Sebab para nabi dahulu adalah pemberontak ketidakadilan, Musa didampingi Harun mendampingi kaumnya memberontak Firaun, Ibrahim melawan Namruz, Muhammas saw melawan Abu Lahab dan Abu Jahal dan lainnya. Tentu bukan sosoknya yang dilawan tapi ketidakadilan yang memicu penindasan.
Lalu mengapa banyak yang menganggap usaha perlawanan oleh advokat publik, media yang setia mendampingi kasus dan bapak ibu yang gigih berusaha mengambil haknya sebagai perbuatan yang islami? Berbeda dengan sikap terhadap kasus Palestina yang jauh di sana, kasus di Mesir beberapa waktu lalu atau akhir-akhir ini yang terjadi di Syiria? Yang jauh di sana diteriakkan lantang yang ada di negara sendiri didiamkan? Karena kurang Islam kah warga negara Indonesia?
Sebab hari ini dan barangkali sampai kiamat nanti, agama (islam) berhenti hanya pada simbol, pakaian, neraka-surga. Sedangkan persoalan akhlak diterjemahkan sebagai unggah ungguh, tata krama Jawa bukan disiplin dan profesionalitas. Sehingga sosok yang dianggap islami adalah yang berpakaian tertentu, hafal banyak dalil yang entah apa manfaatnya lalu dikagumi banyak wanita. Kalau menikah maharnya ayat al-Quran. Di desa, mereka jadi pengkhotbah Jumat yang isinya monoton tiap tahunnya sebab khatibnya kurang baca buku. Khutbah yang kosong dan kalah pengaruhnya dibandingkan hoax.
No comments:
Post a Comment