Dalam Arus Balik, pada abad enam belas,
selain ada begundal asing yang menamakan Habib Sayyid Al Masawa, ada juga sosok
yang mendaku diri dengan Sunan Rajeg. Keduanya hidup di masa yang sama dan di
daerah yang sama, Tuban. Keduanya juga sama-sama orang asing yang mencari
penghidupan di bumi Nusantara. Secara politik, keduanya bermusuhan walaupun
agamanya sama. Sebab Sunan Rajeg dulunya adalah kepala bandar Tuban yang
diresuffle Tumenggung Wilwatikta (Raja Tuban, ayah Sunan Kalijaga) kemudian diganti Habib Almasawa. Tentang Al
Masawa ini pernah kuceritakan di status beberapa bulan yang lalu.
Tahukah apa yang dilakukan Sunan Rajeg?
Dia menghimpun kekuatan untuk melawan Demak
sebab kata dia, Demak tidak pantas menyebut diri sebagai kerajaan Islam karena
kurang islami. Sedangkan islam yang sebenarnya adalah ajaran Sunan Rajeg.
Sunan Rajeg membangun kekuatan dengan
memanfaatkan kefasihanna berbicara Islam di saat agama pra Islam masih
mayoritas. Dia pun memiliki banyak pengikut. Mereka suka mengkafir-kafirkan
orang di luar kelompoknya.
Untuk menunjukkan dirinya lebih Islam, salah
satu caranya adalah pakaiannya dan para pengikutnya putih-putih dan bersorban
pula. Siapa pun yang mau sowan, harus dipaksa masuk Islam dulu, termasuk dua
tawanan asal Portugis, Esteban dan Rodriguez. Keduanya dimanfaatkan untuk
membuat Meriam, senjata paling canggih di dunia saat itu
Hingga suatu ketika dia dianggap sebagai
pemberontak kerajaan dan ditumpas pasukan yang dipimpin Wiranggaleng yang asli
Jawa. Sungguh kasihan nasibnya. Belum sampai ke Demak, sudah dihabisi di Tuban.
Saturday, October 15, 2016
Sunan Rajeg
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment