Resolusi
Jihad telah menjadi kata yang identik dengan perjuangan santri dalam
mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Santri punya andil besar dalam berjuang
melawan penjajah. Untuk memperingati peristiwa tersebut, para Kiai dan tokoh
pesantren membuat sebuah usulan kepada pemerintah agar pada tanggal 22 Oktober
diperingati sebagai hari santri. Sebab pada tanggal itu keluar maklumat yang
disampaikan oleh KH Hasyim Asy’ari. Di dalamnya disebutkan tentang kewajiban
membela tanah air dari penjajahan.
Ada dua hal
yang perlu digarisbawahi dalam peringatan resolusi jihad. Pertama adalah
santri. Definisi santri yang dikenalkan oleh Clifford Geertz (Antropolog asal
Amerika Serikat) sudah tidak berlaku. Tidak ada lagi definisi seperti dahulu
yang menyebut santri adalah kelompok masyarakat di luar masyarakat abangan dan
priyayi. Sebab yang santri adalah orang yang hidup dalam pola kehidupan yang
mengamalkan agama Islam dengan sebaik-baiknya. Mereka mencintai negeri dan mau
berkorban untuk negara. Sisi utamanya yaitu kiai, pesantren, dan santri.
Harus diakui
bahwa saat ini banyak santri yang mengamalkan Islam dengan baik dan lantas
menjadi pejabat. Artinya mereka juga menjadi priyayi. Begitu juga banyak dari
kelompok priyayi yang sudah mengamalkan Islam dengan baik dan berakhlakul
karimah. Maka mereka juga santri. Yang disebut abangan, rata-rata sekarang juga
sudah jadi santri. Dikotomi itu sudah tidak relevan lagi. Maka dalam hal ini
dikotomi tersebut sudah tidak relevan lagi.
Kedua ialah
jihad. Kata jihad tidak boleh dimaknai dengan kekerasan atau terorisme.
Perjuangan di jalan Allah bisa dilakukan dengan berbagai cara selain dengan
kekerasan. Pendiri Nahdlatul Ulama, Kiai Hasyim Asy'ari tentu menginginkan para
santri mengamalkan ajaran Islam sebagai agama penuh welas asih dan rahmat bagi
seluruh alam. Bukan kekerasan.
Sebelum
resolusi Jihad yang dicanangkan oleh Kiai Hasyim Asy'ari, tercatat ada beberapa
perjuangan yang dilakukan oleh kalangan santri dalam rangka berjihad melawan
kolonialisme (penjajahan). Pertama, Revolusi Jawa di bawah pimpinan Kyai
Diponegoro, revolusi Sumatera di bawah pimpinan Kyai Bonjol, revolusi Banten
oleh Kyai Abdul Karim. Revolusi Banten tumbuh sejak Kesultanan Banten sebagai
pemegang otoritas politik dihapuskan oleh begundal Willems Daendels.
Ada tiga
kali pemberontakan terhadap kolonialisme Belanda yang terjadi di Banten.
Pertama, tahun 1850 dipimpin oleh Kyai Wakhia. Kedua, tahun 1888 yang dilakukan
oleh sebagian besar para petani di bawah komando Kyai Abdul Karim dan Kyai
Tubagus Ismail. Ketiga, tahun 1926 di Menes, Kabupaten Pandeglang Banten
dipimpin Kyai Adarhi.
Semua
pemberontakan ini lebih merupakan pertanda keinginan untuk bebas dari
cengkraman kolonialisme. Karena itu Banten disebut kota Revolusi Purba. Kota
yang melahirkan kenistaan dan kesadaran, kata sastrawan Max Havelaar. Banten
juga disebut sebagai tempat persemaian dan gelanggang pemberontakan nusantara.
Pemberontakan
terbesarnya terjadi pada 9 Juli 1888 yang disebut sebagai Pemberontakan
Santri-Petani Banten. Revolusi ini dipimpin langsung oleh Kyai Abdul Karim,
ulama besar dan orang suci di mata rakyat. Ia pemimpin dan guru tarekat
Qadiriyah. Beliau dibantu oleh Kyai Tubagus Ismail, seorang bangsawan Banten
yang merakyat. Ia juga ulama yang jaringannya melampai batas-batas keagamaan.
Karena
kalah, kini revolusi berbasis agama (Islam) tinggal kenangan. Santri tak tahu
apa yang hari ini harus diperjuangkan mati-matian. Kesadaran postkolonialisme
dalam tradisi Islam hanya berkutat dalam persoalan formalitas dan simbol-simbol
belaka. Mereka memelihara mimpi kedatangan ratu adil. Mereka mengidolakan
pahlawan-pahlawan dari luar dirinya.
Agar umat
Islam kembali menang, maka sebelumnya harus tahu jenis dan arsitektur dari
penjajah baru. Kita bisa menyebutnya kaum neolibertarian. Ini adalah produk
terbaru sebagai mutan dan ternak kolonial lama yang beroperasi via pasar bebas.
Singkatnya mereka adalah penyembah pasar bebas. Meninggalkan teori 3G1P (gold,
glory, gospel and poverty), mereka mengkreasi ekonomi baru yang mengutamakan
sistem kapitalisasi pasar perdagangan bebas (the largest market
capitalization).
Mereka
melakukan langkah sebagai berikut; Pertama, penciptaan pasar. Kedua, ekspansi
pasar. Ketiga, privatisasi/penjualan BUMN. Keempat, deregulasi/penghilangan
campur tangan pemerintah. Kelima, pengurangan peran negara dalam layanan sosial
(public service) seperti pangan, sandang, pendidikan, kesehatan dan perumahan.
Keenam, penciptaan utang. Ketujuh, perealisasian sistem finansial berbasis
kertas dan kurs mengambang. Kedelapan, perealisasian kurikulum dan
lembaga-lembaga pendidikan yang menciptakan pegawai dan karyawan. Kesembilan,
perkaderan agensi dan penyebarannya di segala lini. Kesepuluh, perealisasian
masyarakat komersial. Kesebelas, pemelaratan menyeluruh.
Maka jihad
raksasa hari ini adalah dengan merealisasikan kurikulum postkolonial yang
bertumpu pada lima hal: Ruh al-istiqlal (freedom soul/Jiwa bebas); Ruh
al-intiqad (criticism/kritis); Ruh al-ibtiqaar (inovation/inovasi); Ruh
al-ikhtira (invention); Ruh al-idzati (interdependency).
Kurikulum
postkolonial ini menyadarkan peserta didik termasuk para santri untuk memahami
bahwa tak ada ibadah lebih besar pahalanya melebihi ibadah menyelamatkan
negara. Tak ada jihad lebih mulia jejaknya melebihi jihad melawan penjajah. Tak
ada cinta lebih berdentang keras luar biasa melebihi cinta warga pada negaranya
(hubbul wathan minal iman).
Kurikulum
dari pikiran raksasa ini disemai di pesantren-pesantren dan melahirkan pasukan
nusantara yang berkonsolidasi dalam lima tradisi: Merealisasikan
sekolah-sekolah Postkolonial; Mewujudkan Roadmap Indonesia Cerdas dan
Bermartabat; Melakukan reclaim the State; Merealisasikan Janji Proklamasi;
Mentradisikan Negara Pancasila. Inilah tugas besar santri hari ini jika ingin
mencontoh pejuang pendahulunya.
No comments:
Post a Comment