Senin, 28 Maret 2016
Banyak yang menganggap bahwa yang namanya tafakkur adalah sebatas
berangan-angan ringan sambil melihat ciptaan Tuhan lalu menghasilkan kesimpulan
bahwa Tuhan Maha Besar atau ucapan subhanallah yang diulang-ulang. Tafakkur
tidak ditafsirkan sebagai upaya untuk melakukan penelitian sehingga melahirkan
temuan baru. Temuan ini kemudian membantu manusia melakukan hal-hal bermanfaat.
Misalnya dalam kedokteran, ekonomi atau dalam politik.
Yang bisa melakukan proses tafakkur ini hanya manusia. Tuhan seringkali mengingatkan
manusia untuk melakukan tafakkur ini. Sayang sekali para dai seringkali
menafsirkannya dengan hal yang remeh temeh. Seperti yang tersebut di atas.
Sehingga tak menghasilkan apapun kecuali hal-hal yang sebatas pada ucapan
subhanallah atau Allahu akbar. Selesai tanpa adaya kemafaatan bagi orang lain.
Dalam dunia akademik, penelitan adalah salah satu pilar penting. Dan
lagi-lagi sayang sekali ini justru dilakukan oleh kampus-kampus sekuler. Kampus
Islam masih didominasi oleh juruan Pendidikan Agama Islam yang menghasilkan
calon guru yang tidak berkualitas. Tidak berkualitas karena jurusan ini tidak
melakukan seleksi ketat. Jumlahnya membeludak. Bahkan pesantren-pesantren hari
ini mendirikan kampus sendiri. Yang pertama kali dibuka adalah jurusan PAI
bukan jurusan pertanian, kehutanan atau jurusan lain yang lebih penting.
Dengan demikian, skripsi yang dibuat pun tidak dapat terhindar dari yang
namanya copy-paste. Bukan penelitian mendalam sehingga memunculkan teori
baru. Tidak heran jika sampai hari ini belum ada ilmuwan muslim yang mampu
menemukan metode pendidikan yang ditempuh Imam Ghozali, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina
dan ilmuwan lainnya. Betapa menyedihkan.
Melihat kondisi umat seperti di atas, harapan-harapanku seperti sangat
utopis. Islam yang berkembang di Indonesia khususnya lebih didominasi oleh
fikih dan tasawuf. Kedua hal ini masih berada di garda depan. Dampaknya logika
mistika masih banyak dijadikan cara untuk bertindak. Salah satu contohnya
adalah tafsir terhadap tafakkur di atas. Di sisi lain, mengharapkan penelitian
sebagai aktifitas umat Islam di tengah masyarakat yang menganggap berkah bisa
datang dengan membaca sejarah yang dibahasaarabkan tanpa memahami isi kandungan
adalah suatu hal yang konyol. Mana mungkin melakukan penelitian terhadap
sejarah yang berisi mitos dan keramat orang suci tanpa diketahui sumbernya.
Bisa dianggap kualat, liberal dan pada akhirnya akan tersisih.
No comments:
Post a Comment