Tuesday, March 29, 2016

TAFAKKUR DAN LOGIKA MISTIKA

Senin, 28 Maret 2016

Banyak yang menganggap bahwa yang namanya tafakkur adalah sebatas berangan-angan ringan sambil melihat ciptaan Tuhan lalu menghasilkan kesimpulan bahwa Tuhan Maha Besar atau ucapan subhanallah yang diulang-ulang. Tafakkur tidak ditafsirkan sebagai upaya untuk melakukan penelitian sehingga melahirkan temuan baru. Temuan ini kemudian membantu manusia melakukan hal-hal bermanfaat. Misalnya dalam kedokteran, ekonomi atau dalam politik.

Yang bisa melakukan proses tafakkur ini hanya manusia. Tuhan seringkali mengingatkan manusia untuk melakukan tafakkur ini. Sayang sekali para dai seringkali menafsirkannya dengan hal yang remeh temeh. Seperti yang tersebut di atas. Sehingga tak menghasilkan apapun kecuali hal-hal yang sebatas pada ucapan subhanallah atau Allahu akbar. Selesai tanpa adaya kemafaatan bagi orang lain.

Dalam dunia akademik, penelitan adalah salah satu pilar penting. Dan lagi-lagi sayang sekali ini justru dilakukan oleh kampus-kampus sekuler. Kampus Islam masih didominasi oleh juruan Pendidikan Agama Islam yang menghasilkan calon guru yang tidak berkualitas. Tidak berkualitas karena jurusan ini tidak melakukan seleksi ketat. Jumlahnya membeludak. Bahkan pesantren-pesantren hari ini mendirikan kampus sendiri. Yang pertama kali dibuka adalah jurusan PAI bukan jurusan pertanian, kehutanan atau jurusan lain yang lebih penting.

Dengan demikian, skripsi yang dibuat pun tidak dapat terhindar dari yang namanya copy-paste. Bukan penelitian mendalam sehingga memunculkan teori baru. Tidak heran jika sampai hari ini belum ada ilmuwan muslim yang mampu menemukan metode pendidikan yang ditempuh Imam Ghozali, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina dan ilmuwan lainnya. Betapa menyedihkan.

Melihat kondisi umat seperti di atas, harapan-harapanku seperti sangat utopis. Islam yang berkembang di Indonesia khususnya lebih didominasi oleh fikih dan tasawuf. Kedua hal ini masih berada di garda depan. Dampaknya logika mistika masih banyak dijadikan cara untuk bertindak. Salah satu contohnya adalah tafsir terhadap tafakkur di atas. Di sisi lain, mengharapkan penelitian sebagai aktifitas umat Islam di tengah masyarakat yang menganggap berkah bisa datang dengan membaca sejarah yang dibahasaarabkan tanpa memahami isi kandungan adalah suatu hal yang konyol. Mana mungkin melakukan penelitian terhadap sejarah yang berisi mitos dan keramat orang suci tanpa diketahui sumbernya. Bisa dianggap kualat, liberal dan pada akhirnya akan tersisih.


No comments:

Post a Comment