Ahad, 27 Maret 2016
Siapa yang bisa menghindar dari
keruwetan hidup? Tidak ada satupun. Bahkan seorang nabi. Maka, yang harus
dilakukan adalah menghadapinya bukan menghindari. Menghadapi keruwetan bisa
dilakukan dengan banyak cara. Walau terkadang tidak sedikit cara untuk menghadapinya
justru membuat keruwetan baru. Di sinilah pengetahuan dibutuhkan.
Orang-orang hebat tidak hanya
mengatasi keruwetan yang ada dalam hidupnya sendiri. Mereka adalah orang-orang
yang berusaha mencari cara untuk membantu menyelesaikan masalah hajat hidup
orang banyak. Para nabi ada dalam posisi ini. Di dalam Al-Qur’an para utusan
Allah dikisahkan sebagai orang-orang yang melawan. Musa melawan Firaun,
Ibrahim melawan Namrudz dan Muhammad melawan manusia-manusia yang melakukan
penindasan pada masanya. Dari semua kisah yang ada, dapat ditemukan satu titik
temu bahwa para nabi selalu berduel atas nama kemanusiaan untuk membuat
perbaikan tata kehidupan manusia yang sudah ruwet.
Nabi terakhir, Muhammad Saw
diberi kitab suci sebagai mukjizat agar manusia menjadikannya pegangan hidup.
Barang siapa menjadikannya pedoman, maka dia akan lolos dari segala keruwetan
atau mampu menghadapi keruwetan dengan cara yang elegan sesuai arahan Tuhan.
Walau demikian untuk memahami al-Qur’an itu sendiri membutuhkan cara yang
ruwet. Ada banyak hal yang harus dikuasai oleh seseorang yang ingin
memahaminya. Namun ini bukan tugas seluruh manusia. Hanya kelompok kecil yang
bisa. Kendati demikian, bukan berarti orang biasa tak mampu menjadikan
al-Qur’an menjadi alat untuk keluar dari keruwetan. Beberapa orang bisa keluar
dari keruwetan hanya dengan membacanya.
Bahkan janji Tuhan sangat indah.
Janji bahwa setiap ada keruwetan, di situ ada berbagai macam jalan keluar.
Tidak hanya satu jalan keluar. Begitulah menurut mufassir dalam menjelaskan dua
ayat terakhir surat al-Nasyr. Apalagi bagi orang yang bertakwa; yakni orang
yang konsisten dengan ucapannya, orang yang tak melanggar aturan hidup bersama
dan orang yang menggunakan akalnya setiap kali melangkah. Orang yang bertindak
serampangan dan tidak menggunakan akal sebagai landasan hidup, mereka adalah
orang yang sedang menciptakan keruwetan baru.
Tokoh-tokoh yang berjasa untuk
Indonesia bukan orang yang merasa diri cukup menyelesaikan keruwetan yang
dihadapi dirinya. Mereka adalah orang yang ingin melepaskan cengkeraman
penindasan yang dirasakan orang lain. Walaupun yang dihadapinya adalah sebuah
kekuatan besar. Musa menghadapi raksasa Firaun, Gandhi melawan penjajah
Inggris, Pangerang DIponegoro melawan Londo dan lain sebagainya. Mereka
adalah manusia yang diabadikan dalam sejarah. Lalu hari ini, apakah masih ada
pemberani yang berani menghadapi kekuatan kedhaliman itu untuk membantu orang
lain? Jawabannya harusnya ada, Dan itu adalah kita.
No comments:
Post a Comment