Saturday, March 26, 2016

MENGHADAPI KERUWETAN

Ahad, 27 Maret 2016

Siapa yang bisa menghindar dari keruwetan hidup? Tidak ada satupun. Bahkan seorang nabi. Maka, yang harus dilakukan adalah menghadapinya bukan menghindari. Menghadapi keruwetan bisa dilakukan dengan banyak cara. Walau terkadang tidak sedikit cara untuk menghadapinya justru membuat keruwetan baru. Di sinilah pengetahuan dibutuhkan.

Orang-orang hebat tidak hanya mengatasi keruwetan yang ada dalam hidupnya sendiri. Mereka adalah orang-orang yang berusaha mencari cara untuk membantu menyelesaikan masalah hajat hidup orang banyak. Para nabi ada dalam posisi ini. Di dalam Al-Qur’an para utusan Allah dikisahkan sebagai orang-orang yang melawan.  Musa melawan Firaun, Ibrahim melawan Namrudz dan Muhammad melawan manusia-manusia yang melakukan penindasan pada masanya. Dari semua kisah yang ada, dapat ditemukan satu titik temu bahwa para nabi selalu berduel atas nama kemanusiaan untuk membuat perbaikan tata kehidupan manusia yang sudah ruwet.

Nabi terakhir, Muhammad Saw diberi kitab suci sebagai mukjizat agar manusia menjadikannya pegangan hidup. Barang siapa menjadikannya pedoman, maka dia akan lolos dari segala keruwetan atau mampu menghadapi keruwetan dengan cara yang elegan sesuai arahan Tuhan. Walau demikian untuk memahami al-Qur’an itu sendiri membutuhkan cara yang ruwet. Ada banyak hal yang harus dikuasai oleh seseorang yang ingin memahaminya. Namun ini bukan tugas seluruh manusia. Hanya kelompok kecil yang bisa. Kendati demikian, bukan berarti orang biasa tak mampu menjadikan al-Qur’an menjadi alat untuk keluar dari keruwetan. Beberapa orang bisa keluar dari keruwetan hanya dengan membacanya.

Bahkan janji Tuhan sangat indah. Janji bahwa setiap ada keruwetan, di situ ada berbagai macam jalan keluar. Tidak hanya satu jalan keluar. Begitulah menurut mufassir dalam menjelaskan dua ayat terakhir surat al-Nasyr. Apalagi bagi orang yang bertakwa; yakni orang yang konsisten dengan ucapannya, orang yang tak melanggar aturan hidup bersama dan orang yang menggunakan akalnya setiap kali melangkah. Orang yang bertindak serampangan dan tidak menggunakan akal sebagai landasan hidup, mereka adalah orang yang sedang menciptakan keruwetan baru.

Tokoh-tokoh yang berjasa untuk Indonesia bukan orang yang merasa diri cukup menyelesaikan keruwetan yang dihadapi dirinya. Mereka adalah orang yang ingin melepaskan cengkeraman penindasan yang dirasakan orang lain. Walaupun yang dihadapinya adalah sebuah kekuatan besar. Musa menghadapi raksasa Firaun, Gandhi melawan penjajah Inggris, Pangerang DIponegoro  melawan Londo dan lain sebagainya. Mereka adalah manusia yang diabadikan dalam sejarah. Lalu hari ini, apakah masih ada pemberani yang berani menghadapi kekuatan kedhaliman itu untuk membantu orang lain? Jawabannya harusnya ada, Dan itu adalah kita. 







No comments:

Post a Comment