Wednesday, March 30, 2016

KEINGINAN YANG TERLUPAKAN

Kamis, 31 Maret 2016

Satu hal yang harus kembali kusadari bahwa rasa disakiti terkadang perlu ada agar jari-jariku mau kembali mengabadikan kegelisahan-kegelisahan yang menyeruak di kepalaku akhir-akhir ini. Tentang ingatanku pada tahun 2012 menjelang aku diwisuda. Waktu itu aku terpikir untuk pergi ke tempat yang jauh dari keramaian, menjadi orang yang berjalan sendiri mencari satu  tempat yang benar-benar membutuhkan sarjana yang bisa menjadi tenaga pengajar, membawa pencerahan.

Satu tempat yang ingin kudatangi ada di Kalimantan Tengah. Setahun sebelumnya ada kakak kelasku yang kembali ke sana, ke kampong halamannya. Dia sering bercerita kehidupan di kampungnya yang belum dimasuki listrik. Binatang buas masih banyak dan hutan masih rindang. Anak-anak di sana susah diajak belajar. Katanya begitu. Mendengar setiap ceritanya, aku jadi ingin ke sana. Dalam pikiranku dulu, di Jawa sudah banyak orang pandai. Apalagi di pondokku, tenagaku jelas tak dibutuhkan. Sudah ada banyak orang pintar di sana. Sementara aku harus kembali ke pondok sebagai konsekwensi mendapat beasiswa kuliah. Keinginan itu tak terwujud. Oleh pihak pondok aku disuruh menjadi tenaga pengajar di Blitar. Dan aku menerimanya.

 Aku tadi merasa disakiti oleh kisah di masa lalu yang harusnya terlupa. Namun bukan itu yang membuatku teringat. Kemarin aku melihat video documenter Ekspedisi Indonesia Biru garapan Dandi Laksono dan timnya. Aku melihat ada banyak orang yang bisa hidup bahagia dengan fasilitas yang sangat jauh dari kehidupan modern.

Dengan fasilitas yang terbatas baik alat komunikasi, listrik dan transportasi tersebut menjadikan orang yang menyaksikannya, khususnya diriku berpikir bahwa mereka ini bukan orang yang banyak keinginan. Mereka hidup apa adanya, bergaul dengan alam dan memanfaatkan segala yang ada di alam untuk kehidupan sehari-hari sehingga mereka tak membutuhkan banyak uang. Satu hal lagi, orang-orang yang sederhana ini sudah pasti jauh dari hal-hal yang bersifat konsumtif apalagi bermewah-mewahan. Tak ada keinginan untuk memiliki rumah mewah, mobil sporti dan kemewahan lainnya karena mereka tak melihatnya. Barangkali mereka baru sebatas mendengar apa itu mobil, apa itu listrik apa itu hape. Hanya mendengar saja.

Saya kemudian terpikir mungkin harusnya manusia hidup seperti ini saja. Eksploitasi alam tak akan menjadi gila-gilaan seperti sekarang, takkan ada pelanggaran HAM, takkan ada minimarket yang mencekik pemilik toko-toko di desa-desa. Keruwetan takkan serumit hari ini. Masyarakat hanya perlu diajarkan tauhid dan menggunakan akalnya. Tak perlu mengajari atau member iming-iming berupa kesenangan yang harus mengeluarkan uang. Maka barangkali hidup akan jadi lebih damai dengan keterbatasan. Tetapi, sebenarnya mana yang lebih penting kedamaian atau kemewahan?

No comments:

Post a Comment