Kamis, 31 Maret 2016
Satu hal
yang harus kembali kusadari bahwa rasa disakiti terkadang perlu ada agar
jari-jariku mau kembali mengabadikan kegelisahan-kegelisahan yang menyeruak di
kepalaku akhir-akhir ini. Tentang ingatanku pada tahun 2012 menjelang aku
diwisuda. Waktu itu aku terpikir untuk pergi ke tempat yang jauh dari
keramaian, menjadi orang yang berjalan sendiri mencari satu tempat yang benar-benar membutuhkan sarjana
yang bisa menjadi tenaga pengajar, membawa pencerahan.
Satu tempat
yang ingin kudatangi ada di Kalimantan Tengah. Setahun sebelumnya ada kakak
kelasku yang kembali ke sana, ke kampong halamannya. Dia sering bercerita
kehidupan di kampungnya yang belum dimasuki listrik. Binatang buas masih banyak
dan hutan masih rindang. Anak-anak di sana susah diajak belajar. Katanya begitu.
Mendengar setiap ceritanya, aku jadi ingin ke sana. Dalam pikiranku dulu, di
Jawa sudah banyak orang pandai. Apalagi di pondokku, tenagaku jelas tak
dibutuhkan. Sudah ada banyak orang pintar di sana. Sementara aku harus kembali
ke pondok sebagai konsekwensi mendapat beasiswa kuliah. Keinginan itu tak
terwujud. Oleh pihak pondok aku disuruh menjadi tenaga pengajar di Blitar. Dan aku
menerimanya.
Aku tadi merasa disakiti oleh kisah di masa
lalu yang harusnya terlupa. Namun bukan itu yang membuatku teringat. Kemarin aku
melihat video documenter Ekspedisi Indonesia Biru garapan Dandi Laksono dan
timnya. Aku melihat ada banyak orang yang bisa hidup bahagia dengan fasilitas
yang sangat jauh dari kehidupan modern.
Dengan
fasilitas yang terbatas baik alat komunikasi, listrik dan transportasi tersebut
menjadikan orang yang menyaksikannya, khususnya diriku berpikir bahwa mereka
ini bukan orang yang banyak keinginan. Mereka hidup apa adanya, bergaul dengan
alam dan memanfaatkan segala yang ada di alam untuk kehidupan sehari-hari
sehingga mereka tak membutuhkan banyak uang. Satu hal lagi, orang-orang yang
sederhana ini sudah pasti jauh dari hal-hal yang bersifat konsumtif apalagi
bermewah-mewahan. Tak ada keinginan untuk memiliki rumah mewah, mobil sporti
dan kemewahan lainnya karena mereka tak melihatnya. Barangkali mereka baru
sebatas mendengar apa itu mobil, apa itu listrik apa itu hape. Hanya mendengar
saja.
Saya kemudian
terpikir mungkin harusnya manusia hidup seperti ini saja. Eksploitasi alam tak
akan menjadi gila-gilaan seperti sekarang, takkan ada pelanggaran HAM, takkan
ada minimarket yang mencekik pemilik toko-toko di desa-desa. Keruwetan takkan
serumit hari ini. Masyarakat hanya perlu diajarkan tauhid dan menggunakan
akalnya. Tak perlu mengajari atau member iming-iming berupa kesenangan yang
harus mengeluarkan uang. Maka barangkali hidup akan jadi lebih damai dengan
keterbatasan. Tetapi, sebenarnya mana yang lebih penting kedamaian atau
kemewahan?
No comments:
Post a Comment