Friday, October 2, 2015

GENERASI YANG DIBESARKAN TELEVISI

Suci, 3 Oktober 2015

Dulu ada guyonan teman-teman terkait kartun apa yang dilihat sewaktu kecil. Bila yang dilihat adalah Shincan, maka anak itu akan dianggap berkarakter seperti Shincan. Jika yang disukai Doraemon, maka dia punya karakter seperti Nobita dan seterusnya. Biasanya yang jadi bahan olok-olokan adalah Shincan. Sebab tokoh kartun Jepang ini menggambarkan sosok anak TK yang sudah berpikir ‘dewasa’.

Pada sekitar tahun 1995 masih banyak televisi yang menayangkan film kartun khususnya hari Ahad. Selain hari itu, prosentase serial kartun sedikit yakni tiap sore sekitar pukul tiga.

Sebenarnya tidak hanya kartun yang berlimpah pada kisaran tahun 1995-2000. Ada banyak acara yang memang disajikan untuk anak-anak misalnya Ci Luuk Ba, acara lagu anak-anak, Serial Superhero Jepang dan kuis untuk anak-anak. Di luar itu ada sinetron keluarga yang mendidik yakni Keluarga Cemara.

Porsi acara anak-anak mulai menurun pasca tahun 2000. Kartun hari Ahad berkurang dan sore hari banyak dipenuhi infotainment, Talk Show dan acara yang cocok untuk remaja dan orang dewasa. Tidak ada lagi kartun sore. Kalaupun ada tidak sebanyak dulu. Acara lagu anak-anak pun sudah tiada.

Orang-orang kreatif yang menyajikan acara yang cocok ditonton untuk anak-anak tidak berkurang. Penyebab berkurangnya acara anak-anak diantaranya adalah tidak diberikannya ruang oleh media dan rating masyarakat untuk melihat acara dewasa lebih banyak. Lebih-lebih sinetron. Jika dulu sinetron ditayangkan seminggu sekali, sekarang penayangannya bisa setiap hari.

Anak-anak dulu bukannya tidak menonton sinetron. Sama saja, generasi 90-an yang memiliki televisi sendiri atau yang nonton ke rumah tetangga juga tahu jadwal sinetron. Misalnya Tersanjung yang tayang khusus hari Jum’at malam, Cinta SMU hari Kamis malam, Tersayang hari Rabu malam dan lainnya. Sekarang tidak lagi seperti itu. Stasiun televise berlomba membuat sinetron yang ditonton setiap hari.

Tanpa disadari, sinetron inilah yang mempengaruhi pola berpikir anak kecil dan remaja. Dalam beberapa hal, pengaruh sinetron melebihi pendidikan yang didapatkan di sekolah. Bisa dilihat dari hal yang terkecil seperti cara berpakaian dan cara bergaul. Di luar itu masih banyak lagi yang mempengaruhi anak-anak yang tumbuh berkembang di atas tahun 2000.

Pengaruh ini sangatlah signifikan. Televisi menjadi alat kampanye perubahan mental anak-anak tanpa disadari. Lebih-lebih hari ini hampir semua rumah didapati televisi di sebagai hiburan keluarga yang murah. Dalam hal ini tidak ada salahnya jika orang tua bisa menjadi lembaga sensor. Kalau tidak, pengaruh acara-acara di TV inilah yang lebih powerfull dibandingkan dengan pelajaran sekolah maupun dari guru-guru ngaji. Mulai dari cara berpakaian pemain sinetron, FTV yang menampilkan adegan anak memarahi orang tua, gaya hidup artis yang glamor, tingkah pola anak band di panggung, berita pertiakaian keluarga selebritis dan pengaruh negative lain yang luput dari pengawasan Lembaga Sensor Film.

Anak-anak inilah yang tumbuh dewasa dalam didikan televisi. Para artis menjadi guru dan panutan. Sementara itu, orang tua justru tidak memberikan fasilitas tempat belajar atau sekedar rak buku untuk anak-anaknya. Tidak ada upaya bagaimana orang tua bisa membelikan buku bacaan untuk anaknya walau hanya sebulan sekali. Sebaliknya orang tua rutin memberi uang pulsa untuk anaknya.

Ada banyak sosok inspiratif yang tidak disorot media. Baik yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal. Mereka inilah yang perlu kiranya dikenalkan kepada anak-anak baik melalui orang tua atau guru di sekolah. Televisi pun hanya sedikit yang menampilkan karena memang yang dikejar adalah rating bukan untuk mendidik masyarakat.

Kenyataan ini tidak bisa dicegah dengan demontrasi atau melarang TV menayangkan sinetron. Sebab Fatwa MUI tentang haramnya melihat infotainment pun tidak digubris. Maka, cara yang tepat untuk mengatasi agar anak tidak dididik secara keliru oleh televisi adalah memaksimalkan peran orang tua. Orang tua harus member jadwal belajar, nonton TV dan mendampingi anaknya saat nonton TV. Singkatnya, orang tua harus berperan jadi lembaga sensor dalam keluarga. Jika tidak bisa, solusi radikalnya adalah dengan menjual televisi dan uangnya untuk rak dan buku untuk anak-anaknya yang masih sekolah.

No comments:

Post a Comment