Suci,
3 Oktober 2015
Dulu
ada guyonan teman-teman terkait kartun apa yang dilihat sewaktu kecil. Bila yang
dilihat adalah Shincan, maka anak itu akan dianggap berkarakter seperti Shincan.
Jika yang disukai Doraemon, maka dia punya karakter seperti Nobita dan
seterusnya. Biasanya yang jadi bahan olok-olokan adalah Shincan. Sebab tokoh
kartun Jepang ini menggambarkan sosok anak TK yang sudah berpikir ‘dewasa’.
Pada sekitar
tahun 1995 masih banyak televisi yang menayangkan film kartun khususnya hari
Ahad. Selain hari itu, prosentase serial kartun sedikit yakni tiap sore sekitar
pukul tiga.
Sebenarnya
tidak hanya kartun yang berlimpah pada kisaran tahun 1995-2000. Ada banyak
acara yang memang disajikan untuk anak-anak misalnya Ci Luuk Ba, acara lagu
anak-anak, Serial Superhero Jepang dan kuis untuk anak-anak. Di luar itu ada
sinetron keluarga yang mendidik yakni Keluarga Cemara.
Porsi
acara anak-anak mulai menurun pasca tahun 2000. Kartun hari Ahad berkurang dan
sore hari banyak dipenuhi infotainment, Talk Show dan acara yang cocok untuk
remaja dan orang dewasa. Tidak ada lagi kartun sore. Kalaupun ada tidak
sebanyak dulu. Acara lagu anak-anak pun sudah tiada.
Orang-orang
kreatif yang menyajikan acara yang cocok ditonton untuk anak-anak tidak
berkurang. Penyebab berkurangnya acara anak-anak diantaranya adalah tidak
diberikannya ruang oleh media dan rating masyarakat untuk melihat acara dewasa
lebih banyak. Lebih-lebih sinetron. Jika dulu sinetron ditayangkan seminggu
sekali, sekarang penayangannya bisa setiap hari.
Anak-anak
dulu bukannya tidak menonton sinetron. Sama saja, generasi 90-an yang memiliki televisi
sendiri atau yang nonton ke rumah tetangga juga tahu jadwal sinetron. Misalnya Tersanjung
yang tayang khusus hari Jum’at malam, Cinta SMU hari Kamis malam, Tersayang
hari Rabu malam dan lainnya. Sekarang tidak lagi seperti itu. Stasiun televise berlomba
membuat sinetron yang ditonton setiap hari.
Tanpa
disadari, sinetron inilah yang mempengaruhi pola berpikir anak kecil dan
remaja. Dalam beberapa hal, pengaruh sinetron melebihi pendidikan yang
didapatkan di sekolah. Bisa dilihat dari hal yang terkecil seperti cara
berpakaian dan cara bergaul. Di luar itu masih banyak lagi yang mempengaruhi
anak-anak yang tumbuh berkembang di atas tahun 2000.
Anak-anak
inilah yang tumbuh dewasa dalam didikan televisi. Para artis menjadi guru dan
panutan. Sementara itu, orang tua justru tidak memberikan fasilitas tempat
belajar atau sekedar rak buku untuk anak-anaknya. Tidak ada upaya bagaimana
orang tua bisa membelikan buku bacaan untuk anaknya walau hanya sebulan sekali.
Sebaliknya orang tua rutin memberi uang pulsa untuk anaknya.
Ada
banyak sosok inspiratif yang tidak disorot media. Baik yang masih hidup ataupun
yang sudah meninggal. Mereka inilah yang perlu kiranya dikenalkan kepada
anak-anak baik melalui orang tua atau guru di sekolah. Televisi pun hanya
sedikit yang menampilkan karena memang yang dikejar adalah rating bukan untuk
mendidik masyarakat.
Kenyataan
ini tidak bisa dicegah dengan demontrasi atau melarang TV menayangkan sinetron.
Sebab Fatwa MUI tentang haramnya melihat infotainment pun tidak digubris. Maka,
cara yang tepat untuk mengatasi agar anak tidak dididik secara keliru oleh televisi
adalah memaksimalkan peran orang tua. Orang tua harus member jadwal belajar,
nonton TV dan mendampingi anaknya saat nonton TV. Singkatnya, orang tua harus berperan
jadi lembaga sensor dalam keluarga. Jika tidak bisa, solusi radikalnya adalah
dengan menjual televisi dan uangnya untuk rak dan buku untuk anak-anaknya yang
masih sekolah.

No comments:
Post a Comment