Jika hari ini melihat anak-anak SMP atau bahkan SD merayakan Valentine, saya tidak kaget. Lha dulu saya pada tahun 2001 pernah melakukan tukar coklat. Waktu itu saya masih kelas lima SD. Saya tegaskan lagi, kelas lima SD.
Saya
mengenal kata Valentine beberapa hari sebelum tanggal 14 Februari 2001. Saya lupa
kapan tanggalnya. Waktu itu tak ada percekcokan seperti hari ini. Dimana ada
banyak orang melakukan kampanye untuk tidak melakukan valentine lengkap dengan tafsir
ayat-ayat Quran dan hadis. Ada pula yang menghubung-hubungkan dengan sejarah
salah satu umat kristiani dengan berbagai versi.
Saat
itu media juga tidak melakukan iklan aneh-aneh. Juga tak ada wawancara terhadap
artis-artis perihal valentine. Jadi saya tidak terlalu parno untuk melakukan
tukar coklat. Apalagi yang mengajak saya valentine itu adalah teman cewek yang
sudah saya suka sejak kelas satu SD. Lha ini namanya pucuk dicinta, ulam tiba. Bagaimana
tidak, wong saya saja ndak berani ngajak. Eh ini malah dia yang cantik jelita
dan mempesona justru mengenalkan saya apa itu valentine dan mengajak saya tukar
coklat. Betapa bahagia saya waktu itu.
Dia dari
keluarga kaya. Orang tua saya pas-pasan. Jadi untuk membeli coklat saya harus
nyelengi dulu, nabung walau harus tidak njajan demi si cantik itu. Kalau dia
saya kira gampang-gampang saja kalau mau beli coklat. Mau coklat mahal pun
bisa. Mungkin malah lidah saya yang kampungan ini tidak cocok sama coklat
seperti Silver Queen.
Saya
tahu di toko langganan tempat biasanya saya belanja rokok untuk warungnya Bu
De, ada coklat yang harganya waktu itu lima ratus rupiah. Ya walaupun tidak
terlihat elegan, uang saya ya itu saja untuk bisa membeli coklat.
Apesnya,
ketika sampai di toko, coklat itu habis. Oh No. Saya kalah sama yang lain yang
lagi berburu coklat. Bukan karena di coklat itu disertai kondom. Waktu itu ndak
ada itu kondom-kondoman untuk coklat. Ada alat itu kan baru akhir-akhir ini
saja. Saya mikirnya momen valentine itu adalah salah satu waktu dimana kondom
bisa dijual dengan lebih banyak dari hari-hari biasa. Akhirnya dijadikan
kesempatan untuk promosi. Namanya juga orang jualan. Bagi mereka ndak penting
masalah moral. Yang penting kan laku dan mereka dapat uang. Urusan merusak msa
depan perawan ya urusan lain. Jadi, kalau ada kondom dalam coklat-coklat itu ya
karena memang cinta sudah dikapitalisasi. Jangankan cinta, wong agama saja
dijadikan alat jualan kok.
Lalu
bagaimana nasib saya yang kehabisan coklat?
Dari
pada saya harus gagal tukar coklat dengan gadis yang sudah lima tahun saya suka
dalam diam, lebih baik saya harus cari akal agar momen spesial sepanjang hidup
saya itu tetap menjadi pengalaman yang sweet dalam sejarah hidup.
Saya
cari di toko lain, coklat itu ndak ada. Sepertinya banyak senior yang sudah
membelinya. Pasti kalah pengalaman dengan anak-anak SMP/SMA. Sekali lagi waktu
itu saya masih kelas lima SD.
Solusinya,
saya beli coklat yang harganya tiga ratus rupiah dan dua ratus rupiahnya saya
belikan permen coklat yang harganya lima puluh rupiah. Sama-sama coklat, tak
ada masalah. Selesailah sudah saya beli coklat.
Tapi
masalah muncul lagi. Bagaimana cara membungkus coklat itu? La saya sejak lahir
sampai seusia itu tak pernah memberi dan diberi kado. Kalau ada tasyakuran di
rumah ya Cuma slametan atau kondangan. Ndak ada itu acara ulang tahun sambil
nyanyi-nyanyi.
Saya
cari wadah yang cukup untuk membungkusnya. Dan saya menemukan wadah pepsodent
ukuran sedang. Coklat dan empat permen coklat sudah masuk. Tapi kan pasti lucu
sekali kalau hanya begitu. Saya cari akal lagi untuk membungkusnya. Saya buka
lemari mbak. Ada kertas kado. Saya lupa warna dan motifnya.
Ternyata
setelah berjam-jam mencoba membungkus, hasilnya sangat mengerikan. Bungkusan
coklat yang kubuat bukannya indah tapi ngeri. Saya akhirnya ‘konsultasi’ ke
tetangga. Dan syukur alhamdulillah dibantu membungkus dengan kertas kado warna
pink.
Tepat
tanggal 14 Februari, saya datang awal sekali. Langit masih gelap dan sekolah
masih sepi. Aku dan dia sudah datang duluan di sekolah. Karena sungkan, waktu
tukar coklat ya tak bicara apa-apa. Pegang tangan? Ciuman? Ya nggak mungkin. La
melihat matanya saja nyaliku sudah menciut kok. Ya Cuma tukar coklat di dalam
kelas saja. Lalu selesai. Adegan tukar coklat tak sampai satu menit. Tak ada
rambut berkibar apalagi slow motion.
Saya
bahagia sekali. Coklat yang diberikan padaku itu coklat yang diiklankan di tv. Beda
dengan punyaku, tak ada iklannya. Dan sudah lama saya penasaran untuk makan
coklat itu. Tapi tak bisa membelinya. Sekarang sudah biasa makan malah sudah
mblenger. Tahukah? Coklat itu adalah Tango. Buat saya, itu makanan mahal. Saya tak
bisa membeli sendiri sampai lulus SD.
Setelah
adengan itu semuanya selesai. Entah dari mana, salah satu temanku tahu dan dia
cemburu padaku. Beberapa waktu pernah sampai tak berteman lagi padahal itu
temanku rumahnya sangat dekat denganku. Saya kalau hari minggu nonton tv di
rumahnya karena tak punya tv sendiri.
Saya
ndak tahu dia sekarang masih ingat pengalaman konyol itu atau tidak. Saya sudah
hilang kontak sama dia. Yang saya tahu anaknya sudah punya anak di Samarinda
sana.
Setelah
kejadian itu saya tak pernah lagi valentine-an. Banyak alasan juga. Selain dulu
pernah ditakut-takuti temanku dengan bumbu sentimen agama, alasan lainnya ya
apalagi kalau bukan karena jomblo yang hemat bersahaja.
Pertanyaannya
sekarang? Apa yang saya lakukan itu berdosa? Atau masuk dalam tasyabbuh? Kalau dosa,
letaknya di sebelah mana? Kalau menurut saya tukaran coklat atau apapun ya
boleh-boleh saja. Yang tidak boleh kan zina dan hal-hal yang diharamkan agama. Jadi,
tergantung niat dan caranya. Kalau saya dulu valentine itu ya karena saya suka
sama teman sekelas itu. Tak ada pikiran sampai zina dan macam-macam. Bisa dekat
dengannya saja sudah anugerah kok mau lain-lain.
Pesawat
itu kan nggak selamanya jatuh. Tapi orang yang takut jatuh, mending tak usah
naik pesawat. Kalau takut berdosa ya tak perlu melakukan. Tapi kalau ada orang
kristen merayakan ya biarkan saja wong itu perayaan mereka. Kalau saya dikasih
coklat ya saya terima. Lebih senang lagi kalau bukan coklat yang dikasih tapi
nasi bungkus. Lebih kenyang.
Bagi
siapa pun yang mau valentine monggo. Tapi ingat, jangan macam-macam. Tukar
coklat saja cukup. Atau kalau mau melestarikan budaya bangsa, tukar gula jawa
saja. Rasanya sama-sama manisnya kan?
Walaupun
begitu, menurutku kok kurang pantas orang Jawa ndeso merayakannya. Valentine
itu kan identik dengan warna pink. Orang Indonesia yang kulitnya coklat kehitaman
seperti saya kan tidak cocok dengan
warna itu. Dan yang lebih penting lagi, lelaki karbitan itu yang ngasih coklat.
Lelaki sejati ngasihnya seperangkat alat sholat. Saaah.
Sumber, 14 Februari 2015

No comments:
Post a Comment