Friday, February 13, 2015

SAYA PERNAH MERAYAKAN VALENTINE




Jika hari ini melihat anak-anak SMP atau bahkan SD merayakan Valentine, saya tidak kaget. Lha dulu saya pada tahun 2001 pernah melakukan tukar coklat. Waktu itu saya masih kelas lima SD. Saya tegaskan lagi, kelas lima SD.

Saya mengenal kata Valentine beberapa hari sebelum tanggal 14 Februari 2001. Saya lupa kapan tanggalnya. Waktu itu tak ada percekcokan seperti hari ini. Dimana ada banyak orang melakukan kampanye untuk tidak melakukan valentine lengkap dengan tafsir ayat-ayat Quran dan hadis. Ada pula yang menghubung-hubungkan dengan sejarah salah satu umat kristiani dengan berbagai versi.

Saat itu media juga tidak melakukan iklan aneh-aneh. Juga tak ada wawancara terhadap artis-artis perihal valentine. Jadi saya tidak terlalu parno untuk melakukan tukar coklat. Apalagi yang mengajak saya valentine itu adalah teman cewek yang sudah saya suka sejak kelas satu SD. Lha ini namanya pucuk dicinta, ulam tiba. Bagaimana tidak, wong saya saja ndak berani ngajak. Eh ini malah dia yang cantik jelita dan mempesona justru mengenalkan saya apa itu valentine dan mengajak saya tukar coklat. Betapa bahagia saya waktu itu.

Dia dari keluarga kaya. Orang tua saya pas-pasan. Jadi untuk membeli coklat saya harus nyelengi dulu, nabung walau harus tidak njajan demi si cantik itu. Kalau dia saya kira gampang-gampang saja kalau mau beli coklat. Mau coklat mahal pun bisa. Mungkin malah lidah saya yang kampungan ini tidak cocok sama coklat seperti Silver Queen.

Saya tahu di toko langganan tempat biasanya saya belanja rokok untuk warungnya Bu De, ada coklat yang harganya waktu itu lima ratus rupiah. Ya walaupun tidak terlihat elegan, uang saya ya itu saja untuk bisa membeli coklat.

Apesnya, ketika sampai di toko, coklat itu habis. Oh No. Saya kalah sama yang lain yang lagi berburu coklat. Bukan karena di coklat itu disertai kondom. Waktu itu ndak ada itu kondom-kondoman untuk coklat. Ada alat itu kan baru akhir-akhir ini saja. Saya mikirnya momen valentine itu adalah salah satu waktu dimana kondom bisa dijual dengan lebih banyak dari hari-hari biasa. Akhirnya dijadikan kesempatan untuk promosi. Namanya juga orang jualan. Bagi mereka ndak penting masalah moral. Yang penting kan laku dan mereka dapat uang. Urusan merusak msa depan perawan ya urusan lain. Jadi, kalau ada kondom dalam coklat-coklat itu ya karena memang cinta sudah dikapitalisasi. Jangankan cinta, wong agama saja dijadikan alat jualan kok.

Lalu bagaimana nasib saya yang kehabisan coklat?
Dari pada saya harus gagal tukar coklat dengan gadis yang sudah lima tahun saya suka dalam diam, lebih baik saya harus cari akal agar momen spesial sepanjang hidup saya itu tetap menjadi pengalaman yang sweet dalam sejarah hidup.

Saya cari di toko lain, coklat itu ndak ada. Sepertinya banyak senior yang sudah membelinya. Pasti kalah pengalaman dengan anak-anak SMP/SMA. Sekali lagi waktu itu saya masih kelas lima SD.

Solusinya, saya beli coklat yang harganya tiga ratus rupiah dan dua ratus rupiahnya saya belikan permen coklat yang harganya lima puluh rupiah. Sama-sama coklat, tak ada masalah. Selesailah sudah saya beli coklat.

Tapi masalah muncul lagi. Bagaimana cara membungkus coklat itu? La saya sejak lahir sampai seusia itu tak pernah memberi dan diberi kado. Kalau ada tasyakuran di rumah ya Cuma slametan atau kondangan. Ndak ada itu acara ulang tahun sambil nyanyi-nyanyi.

Saya cari wadah yang cukup untuk membungkusnya. Dan saya menemukan wadah pepsodent ukuran sedang. Coklat dan empat permen coklat sudah masuk. Tapi kan pasti lucu sekali kalau hanya begitu. Saya cari akal lagi untuk membungkusnya. Saya buka lemari mbak. Ada kertas kado. Saya lupa warna dan motifnya.

Ternyata setelah berjam-jam mencoba membungkus, hasilnya sangat mengerikan. Bungkusan coklat yang kubuat bukannya indah tapi ngeri. Saya akhirnya ‘konsultasi’ ke tetangga. Dan syukur alhamdulillah dibantu membungkus dengan kertas kado warna pink.

Tepat tanggal 14 Februari, saya datang awal sekali. Langit masih gelap dan sekolah masih sepi. Aku dan dia sudah datang duluan di sekolah. Karena sungkan, waktu tukar coklat ya tak bicara apa-apa. Pegang tangan? Ciuman? Ya nggak mungkin. La melihat matanya saja nyaliku sudah menciut kok. Ya Cuma tukar coklat di dalam kelas saja. Lalu selesai. Adegan tukar coklat tak sampai satu menit. Tak ada rambut berkibar apalagi slow motion.

Saya bahagia sekali. Coklat yang diberikan padaku itu coklat yang diiklankan di tv. Beda dengan punyaku, tak ada iklannya. Dan sudah lama saya penasaran untuk makan coklat itu. Tapi tak bisa membelinya. Sekarang sudah biasa makan malah sudah mblenger. Tahukah? Coklat itu adalah Tango. Buat saya, itu makanan mahal. Saya tak bisa membeli sendiri sampai lulus SD.

Setelah adengan itu semuanya selesai. Entah dari mana, salah satu temanku tahu dan dia cemburu padaku. Beberapa waktu pernah sampai tak berteman lagi padahal itu temanku rumahnya sangat dekat denganku. Saya kalau hari minggu nonton tv di rumahnya karena tak punya tv sendiri.

Saya ndak tahu dia sekarang masih ingat pengalaman konyol itu atau tidak. Saya sudah hilang kontak sama dia. Yang saya tahu anaknya sudah punya anak di Samarinda sana.

Setelah kejadian itu saya tak pernah lagi valentine-an. Banyak alasan juga. Selain dulu pernah ditakut-takuti temanku dengan bumbu sentimen agama, alasan lainnya ya apalagi kalau bukan karena jomblo yang hemat bersahaja.

Pertanyaannya sekarang? Apa yang saya lakukan itu berdosa? Atau masuk dalam tasyabbuh? Kalau dosa, letaknya di sebelah mana? Kalau menurut saya tukaran coklat atau apapun ya boleh-boleh saja. Yang tidak boleh kan zina dan hal-hal yang diharamkan agama. Jadi, tergantung niat dan caranya. Kalau saya dulu valentine itu ya karena saya suka sama teman sekelas itu. Tak ada pikiran sampai zina dan macam-macam. Bisa dekat dengannya saja sudah anugerah kok mau lain-lain.

Pesawat itu kan nggak selamanya jatuh. Tapi orang yang takut jatuh, mending tak usah naik pesawat. Kalau takut berdosa ya tak perlu melakukan. Tapi kalau ada orang kristen merayakan ya biarkan saja wong itu perayaan mereka. Kalau saya dikasih coklat ya saya terima. Lebih senang lagi kalau bukan coklat yang dikasih tapi nasi bungkus. Lebih kenyang.

Bagi siapa pun yang mau valentine monggo. Tapi ingat, jangan macam-macam. Tukar coklat saja cukup. Atau kalau mau melestarikan budaya bangsa, tukar gula jawa saja. Rasanya sama-sama manisnya kan?

Walaupun begitu, menurutku kok kurang pantas orang Jawa ndeso merayakannya. Valentine itu kan identik dengan warna pink. Orang Indonesia yang kulitnya coklat kehitaman seperti saya  kan tidak cocok dengan warna itu. Dan yang lebih penting lagi, lelaki karbitan itu yang ngasih coklat. Lelaki sejati ngasihnya seperangkat alat sholat. Saaah.


Sumber, 14 Februari 2015

No comments:

Post a Comment