Sunday, February 1, 2015

MENIKAHLAH DENGANKU, SAYANGKU



Pada sebuah pertanyaan yang kau sampaikan secara bertubi-tubi, aku menyusun kalimat panjang yang tak mungkin bisa mewakili segala kegelisahan hati. Tentang aku yang terlalu buru-buru membicarakan perjodohan dan perihal kenekatanku untuk memilihmu yang sudah punya pasangan.


Yang pertama harus kau tahu adalah hal sepele di dunia. Bahwa ada beberapa hal yang seharusnya diperjuangkan mati-matian dan semestinya terus dihidupkan, seperti doaku agar bisa membahagiakanmu dan harapanku untuk mati di sisimu. 


Aku tahu harapan dan doa tidaklah cukup. Tidak semua perasaan lantas didiamkan lalu mengira bahwa Tuhan adalah biro jodoh yang tak terwakilkan. Aku harus berjuang mati-matian sampai kamu dan abahmu mengamini apa yang kuingini.


Yang selalu ingin kubisikkan padamu kelak adalah,”Berbahagialah. Sebab tugasmu hanya bahagia, dan aku yang berusaha mewujudkannya.”


Tapi apa bahagia itu? Apakah hanya sebuah jalan keluar dari penghianatan atau aku yang memilih diam-diam mendoakan dari pada gagap mengungkap perasaan?


Hari ini aku ingin membicarakan mendung denganmu, tentang langit siang yang selalu muram. Tapi kamu ada di sana, di tempat yang tak lagi kukenal sejak tujuh tahun silam. Apakah aku rindu? Ya, aku rindu. Rindu yang tak pernah mampu diungkap oleh lisan tapi menjelma hujan yang menghapus debu-debu jalanan. 


Katamu ini terlalu singkat. Wahai, sayangku, cinta tak ada hubungannya dengan waktu yang fana. Sebentar atau lama hanya konsep yang dibuat-buat oleh manusia. Sama dengan rasa yang terus dibawa-bawa oleh peradaban. Seperti rindu, pilu, sedih, duka, bahagia dan segala macam rasa. Semuanya bisa dirawat sampai berkarat atau justru dikubur sebelum dia mati.


Kamu benar, aku tak pernah tahu bagaimana kamu pada akhirnya menjadi dewasa dan peristiwa apa saja yang mengirimu hingga pada akhirnya kamu bisa berpikir bahwa memilih bahwa menghafal kitab suci Al-Quran lebih baik dari pada beasiswa keperawatan.


Tentu ada banyak hal yang tak kutahu tentangmu. Seperti kaca mata itu, adakah aku berada di baliknnya. Atau pada bibirmu yang bergincu, adakah kamu menganggap  kata-kataku hanya rayuan tengik yang tak bermakna. 


Dengan segala kedhaifanku, aku ingin memberimu tahu bahwa cinta bukan perasaan abadi yang membawa bahagia. Cinta dicipta agar manusia mengenal luka yang tak bisa dihindari oleh oleh kita. 


Sayangku, pada setiap perjumpaan, kita harus menyiapkan cara perpisahan. Perpisahan yang menuntut kerelaan tanpa melupakan sebab masih ada banyak cerita yang tak perlu dihimpun dalam episode peristiwa. Kita hanya perlu mencari cara bagaimana jika pada akhirnya tidak menjadi melankolia.


Banyak hal yang sudah kulupa darimu seperti caramu menatapku dan warna kesukaanmu, termasuk tanggal berapa kita pertama bertemu. Namun aku tak ingin cepat-cepat bertemu, sebab pertemuan hanya akan melahirkan rindu. Biarkan jarak ini tetap ada agar kita tahu kewarasan orang yang sedang kasmaran.


Aku ingin menjadikanku catatan panjang yang membuatku ingin terus menulis hingga lelah, lalu kamu datang membangkitkanku dengan secangkir teh yang seharum parfummu.


Barangkali kau menganggap ini kekosongan belaka, sajak yang tak bernilai guna ibarat sampah kata yang bercecer di dunia maya. 


“Apa bukti kepastian dan keseriusanmu?” tanyamu.


Duhai, ini bukan kisah kasmaran remaja SMA atau lelucon cinta yang dimainkan anak-anak sekolah. Ini tentang sebuah pilihan yang menentukan nasib di masa mendatang. 


Bagiku, kepastian bukan sekedar kalimat manis yang terungkap dalam kalimat i love you. Kepastianku adalah kedatanganku ke rumahmu lalu menyatakan keinginanku untuk hidup bersamamu lalu memintamu agar melupakan kekasihmu.


Aku sadar dengan apa yang aku lakukan. Dan aku tak menterjemahkannya sebagai sebuah tindakan tercela sebab agama hanya melarang merebut istri orang. Tapi aku tak ingin rasa memiliki ini menjadi sesuatu yang kelewatan sebab aku tak ingin menjadikanmu rendah dengan menganggapmu milikku. Ya, sampai detik ini kamu adalah milik orang tuamu, bukan dia apalagi aku.


Dalam hubungan yang tak bisa diwakili oleh satu istilah ini, aku tak ingin memintamu setia seperti halnya kepastian yang kau tagih padaku. Kepastian yang kau kawinkan dengan keseriusan.


Aku sempat terpikir, kepastian dan keseriusan itu bukanlah kata-kata indah yang kususun dalam kesunyian malam atau semacam teka-teki pembentuk opini yang membuatmu percaya bahwa aku memang sungguh-sungguh. Tidak demikian sayangku. Kepastian adalah keberanianku melamarmu, itu pun jika kau sudah mengizinkanku.


Aku percaya perasaan ini jujur walau aku tak dapat menjamin apakah perasaan ini juga kekal. Sebab yang kusebut dengan cinta ini sama pentingnya dengan hafalan Quran yang harus segera kausetorkan besok pagi dan tugas kuliah yang telah kukerjakan sejak tempo hari.


Sayangku, sekali lagi keserisanku bukanlah sederet puisi. Kesungguhanku adalah pertanyaan,”Maukah kauterima pinangan tanpa sisa cinta yang lain?”


Kamu barangkali mengatakan tidak atau hanya sekedar memunculkan rona bahagia dengan sebuah anggukan yang nyaris tak mampu kubaca. Itu hakmu. Tapi aku ingin pada saatnya nanti, engkau adalah milikku satu, walau aku harus bimbang menunggu.


Ajarilah dia cara berpisah, cara mencintai tanpa harus memiliki agar dia tahu bahwa aku bukan orang ketiga yang merebutmu karena ini bukan kisah Ramayana. Jika pun kelak dia menganggapku seperti Rahwana, ketahuilah sayangku bahwa justru yang diragukan cintanya adalah Rama. 


Bukannya aku membela Rahwana. Dia memang jatuh cinta tanpa butuh waktu lama. Dalam sepersekian menit, Raksasa berkepala sembilan itu melihat Sinta di hutan Belantara lalu memutuskan untuk dibawa ke Alingka untuk dibahagiakan dalam istana. Sedang Rama, kau tahu, demi hewan buruan, dia rela membiarkan istrinya sendiri dalam bahaya.


Dari Ramayana aku belajar bahwa sosok Rama tak pernah mencintai Sinta. Dia bisa mengawininya karena sebuah Sayembara bukan karena cinta yang menyala-nyala sebagaimana Rahwana. 


Rahwana berani mengambil Sinta walau harus meregang nyawa dibunuh musuhnya. Apa kau tahu, Rama yang terkenal sakti tak beni mendatangi Rahwana. Dia menyuruh Hanuman mendatangi Alingka. Suami macam apa yang tak punya nyali untuk istrinya. Ah, sayangku, itu kisah lalu yang mungkin sudah membosankan untukmu.


Tapi Sinta pada akhirnya dikorbankan dalam sebuah upacara yang menguji kesetiaan. Adakah yang lebih menyakitkan dari kesetiaan yang dicurigai? Sinta pun pergi jauh memasuki hutan dalam masa kehamilan. 


Kalau pun ini harus dianggap seperti kisah Ramayana, cintaku sebesar Rahwana yang nekat merebut istri seorang penguasa dengan menyadari segala konsekwensinya. Rahwana tak pernah menyentuh Sinta. Tugas Sinta hanya bahagia di Istana sampai dia rela menerima ajakan Rahwana untuk membangun keluarga karena cinta. Bukan karena terpaksa. 


Ibarat Rahwana, aku akan menunggu tanpa menyentuhmu. Dan kenekatanku bukanlah menculikmu. Tapi dengan segala kekuranganku, datang ke rumahmu untuk melamarmu.


Menikahlah denganku, Sayangku. Aku mencintaimu.


Sumber, 3 Februari 2015

No comments:

Post a Comment