Manusia macam apa itu. Bukankah dia tahu bahwa rasul saja tak pernah marah sampai memukul? Tapi bisa-bisanya memukul. Ya, sekalipun tak menyakitkan tapi itu menyakiti hati. Aku tersindir dengan kejadian yang baru saja terjadi. Itu jelas bukan pendidikan yang baik. Terlebih beberapa santri menyaksikannya. Barangkali itu dianggap sebagai suatu kebiasaan olehnya yang menurut Adhon temanku tak perlu dibiasakan. Sikap-sikap seperti inilah yang membuatku ingin hengkang dari sini. Aku bisa melakukan banyak hal yang jauh lebih besar. Mudah-mudahan. Ya, aku sudah cukup mendapat pelajaran bahwa sikap penyabar itu suatu hal yang mahal. Aku yang tak suka marah dan kemarahan harus bersyukur sedalam-dalamnya atas anugerah itu. Jika aku hengkang, aku harus meninggalkan segalanya, termasuk murid yang kusayangi. Sudah saatnya merencanakan langkah yang lebih baik. Rizal Mubit tak bisa dibeginikan. Ini pelecehan. Ternyata Naili tahu yang terjadi tadi. Dia pun mengirim tulisan padaku, bertanya apa yang telah terjadi. Entah karena kuatir atau apa, pada akhirnya kujawab tuliSan itu. Bahwa kejadian tadi membuatku tersindir dan yang paling penting, itulah yang membuatku ingin segera hengkang dari sini. Bahwa apa yang terjadi di sini akan menjadi semacam sejarah bagi kehidupan semua santri. Tapi aku lupa untuk menenangkan hatinya. Pasti dia juga ikut terbebani. Aku lupa mengingatkannya agar tetap tenang dan terus belajar agar jadi orang hebat kelak. Orang hebat, Naili. Yang berkelas internasional. Bukan orang kolot yang merasa kebenaran hanya apa yang ada di otaknya. Belajarlah terus, Sayang. Jangan menangisi kepergianku nanti.
No comments:
Post a Comment