Dia menggalaukanku. Mungkin juga aku menggalaukannya. Lihat saja, jerawatnya yang tumbuh di kening putihnya. Tapi masih cantik dan anggun karena memang sudah bawaan. Meski anak penjual buah di pasar, dia seperti anak seorang konglomerat. Cantiknya minta ampun. Aku sering membayangkan bagaimana jika dia akhirnya tidak denganku. Aku sama sekali tak rela. Aku merasa, dirikulah yang berhak bersamanya nanti hingga akhir. Dan aku masih berpikir, kado apa yang tepat buatnya nanti. Apa dengan menyelesaikan novel Chisfiah.
No comments:
Post a Comment