Kusadari, aku yang harus pergi. Pergi dari Naili dan pergi dari sini. Biar saja ada yang merasa sakit atau patah hati. Tak ada yang bisa diandalkan di sini. Semua hanya akan menghabisi waktuku dan memperlambat langkahku. Aku bisa membuat gerakan apapun dengan semangat tapi kalau harus bersama orang-orang malas, kenapa harus dilanjutkan? Bukankah hanya membuat aku kelelahan? Aku harus mengakui bahwa di sini bukan milikku. Pondok ini adalah milik elitnya, sedang aku hanya mengabdi. Tak layak jika aku macam-macam di sini apalagi harus menyukai salah satu santri. Oh, betapa dholimnya aku pada para pemilik pesantren yang membuat larangan pacaran. Ketika Naili datang, mengapa di saat kutak mungkin menggapainya karena dua alasan. Aku sudah mengucap setia pada Nurul dan Peraturan di sini. Rizal Mubit masih bergerilya, menyiapkan diri untuk keluar dari tempat ini. Bukan karena tak kerasan tapi untuk mempersiapkan hal yang lebih besar. Semoga Gusti Allah memberi jalan. Kesadaran lain yang harus tumbuh di diriku ialah bahwa dia, Naili atau santri yang kukagumi di sini bukanlah milikmu meski sejak pertama dia, dia atau dia bisa memenuhi hari-hariku. Tapi mereka bukan untukku selamanya. Aku akan menjadi anak manusia yang punya kemauan tinggi dalam memperbaiki negeri ini. Tidak cukup berteori. Sekecil apapun tindakan itu akan kulakukan. Semua yang meremehkan atau tak mau bersamaku silakan pergi. I will not care. Silakan dengan jalan sendiri-sendiri. Mau jadi pelajar yang malas belajar pun monggo. Mau jadi pelajar yang hanya tenggelam dalam dunia sufi pun monggo.
No comments:
Post a Comment