25 Agustus 2016
Sudah lama aku gemar membaca buku-buku
sejarah. Aku lupa kapan tepatnya. Sampai pada akhirnya pada tahun 2016 saya
menulis karya ilmiah mengenai sejarah Islam di Indonesia. Dalam proses
penulisan itu, saya semakin yakin bahwa bangsa ini belum memiliki sejarah yang
otentik. Banyak mitos bertebaran dalam buku-buku yang ditulis oleh orang-orang
di masa lampau. Ironisnya hal ini dipercayai oleh banyak orang sehingga tidak
mempedulikan fakta yang terjadi di masa lampau.
Sejarah suatu bangsa bisa menentukan jati
diri masyarakatnya. Tanpa mengetahui sejarahnya, bangsa Indonesia tak tahu
arah. Seperti hari ini. Identitas masyarakat Indonesia tidak jelas. Hal ini
diperparah dengan masuknya budaya luar tanpa sensor. Tak ada arah, tak ada
tujuan, tak ada nasionalisme. Kesadaran ini harus dimulai dari sejarah. Sejarah
harus ditulis dengan jujur sesuai dengan data dan fakta bukan untuk tujuan
tertentu seperti untuk melanggengkan kekuasaan sebagaimana yang sudah ada.
Dulu, sejarah ditulis dalam manuskrip yang
dinamakan babat atau serat. Di dalamnya banyak cerita mistis yang tidak bisa
diterima rasio. Penulisan sejarah yang seperti ini akan bermasalah sebab tidak
bisa dibuktikan sehingga orang hanya tenggelam pada dongeng-dongeng yang
menyesatkan nalar. Akibatnya, kehebatan yang seharusnya bisa dipelajari dari
orang-orang di masa lalu pun tak bisa dipelajari. Kegigihan orang di masa lalu
tak dapat diteladani sebab semuanya sesolah adalah sudah campur tangan Tuhan.
Dalam hal ini maka dalam penulisan sejarah
perlu melibatkan ilmu sosial. Sejauh ini penulisan sejarah dengan menggunakan
analisis ilmu antropologi dan sosiologi justru dilakukan oleh orang Barat.
Misalnya Cliffort Geertz, Mark R Wookward, Martin Van B dan masih banyak
lainnya. Bahkan Raffless pun menulis History Of Java. Penulisan sejarah orang
Barat ini tentunya salah satu hal yang memalukan sebab bukan orang Indonesia
yang menulis sejarahnya tapi orang lain.
Kajian sejarah akan lebih rumit lagi jika
sudah bertemu dengan agama. Umat beragama di Indonesia masih banyak yang belum
memiliki kesadaran pentingnya sejarah dalam beragama. Agama dilakukan sebatas
hal-hal yang sifatnya normatif-formalis sehingga menjadi sebuah ajaran yang
statis. Dampaknya, semakin ke sini agama justru menjadi masalah bukan memberi solusi.
Oleh karena itu, seorang pengkaji sejarah
perlu untuk memiliki meodologi dalam memahami sejarah. Muaranya nanti adalah
pemahaman kisah masa lalu yang bisa dirasio dan diambil pelajaran. Bukan
hal-hal mistis yang berhenti sebagai legenda romantis seperti kisah Bandung
Bondowoso dan Roro Jonggrang dan yang sejenisnya terlebih setelah masuknya
agama Islam. Ya, benar. Pasca Islam datang banyak cerita-cerita mistis
berkeliaran. Kejayaan Nusantara yang rasional pun pudar. Mengapa Nusantara dulu
rasional? Sebab peradaban Nusantara adalah peradaban lautan. Di laut orang
harus rasional sebab dalam menciptakan kapal orang harus tahu ilmu fisika,
teknik dan arsitek. Saat berlayar harus bisa menguasai ilmu geografi dan
perbintangan. Ketika berperang harus bisa menciptakan senjata dan menguasai
strategi perang.
Setelah Islam datang, raja-raja menjadi
feodal. Tak mau menguasai lautan dan hidup tenang karena doa-doa dan
wirid-wirid yang menjadi mantra. Tak ada upaya rasional untuk kembali menjadi
manusia ilmiah. Saat Belanda datang, masyarakat Nusantara tak berdaya. Kalah
dalam segalanya. Sementara itu, serat, babad dan catatan-catatan kerajaan
dibuat hanya untuk menciptakan legitimasi agar kuasa politiknya tidak digoyah
oleh pemberontakan. Dalam hal ini bisa dicek cerita-cerita dalam serat Centini
atau Babad Tanah Jawi.
No comments:
Post a Comment