Saturday, August 27, 2016

TENTANG SEJARAH INDONESIA

25 Agustus 2016

Sudah lama aku gemar membaca buku-buku sejarah. Aku lupa kapan tepatnya. Sampai pada akhirnya pada tahun 2016 saya menulis karya ilmiah mengenai sejarah Islam di Indonesia. Dalam proses penulisan itu, saya semakin yakin bahwa bangsa ini belum memiliki sejarah yang otentik. Banyak mitos bertebaran dalam buku-buku yang ditulis oleh orang-orang di masa lampau. Ironisnya hal ini dipercayai oleh banyak orang sehingga tidak mempedulikan fakta yang terjadi di masa lampau.

Sejarah suatu bangsa bisa menentukan jati diri masyarakatnya. Tanpa mengetahui sejarahnya, bangsa Indonesia tak tahu arah. Seperti hari ini. Identitas masyarakat Indonesia tidak jelas. Hal ini diperparah dengan masuknya budaya luar tanpa sensor. Tak ada arah, tak ada tujuan, tak ada nasionalisme. Kesadaran ini harus dimulai dari sejarah. Sejarah harus ditulis dengan jujur sesuai dengan data dan fakta bukan untuk tujuan tertentu seperti untuk melanggengkan kekuasaan sebagaimana yang sudah ada.

Dulu, sejarah ditulis dalam manuskrip yang dinamakan babat atau serat. Di dalamnya banyak cerita mistis yang tidak bisa diterima rasio. Penulisan sejarah yang seperti ini akan bermasalah sebab tidak bisa dibuktikan sehingga orang hanya tenggelam pada dongeng-dongeng yang menyesatkan nalar. Akibatnya, kehebatan yang seharusnya bisa dipelajari dari orang-orang di masa lalu pun tak bisa dipelajari. Kegigihan orang di masa lalu tak dapat diteladani sebab semuanya sesolah adalah sudah campur tangan Tuhan.

Dalam hal ini maka dalam penulisan sejarah perlu melibatkan ilmu sosial. Sejauh ini penulisan sejarah dengan menggunakan analisis ilmu antropologi dan sosiologi justru dilakukan oleh orang Barat. Misalnya Cliffort Geertz, Mark R Wookward, Martin Van B dan masih banyak lainnya. Bahkan Raffless pun menulis History Of Java. Penulisan sejarah orang Barat ini tentunya salah satu hal yang memalukan sebab bukan orang Indonesia yang menulis sejarahnya tapi orang lain.

Kajian sejarah akan lebih rumit lagi jika sudah bertemu dengan agama. Umat beragama di Indonesia masih banyak yang belum memiliki kesadaran pentingnya sejarah dalam beragama. Agama dilakukan sebatas hal-hal yang sifatnya normatif-formalis sehingga menjadi sebuah ajaran yang statis. Dampaknya, semakin ke sini agama justru menjadi masalah bukan memberi solusi.

Oleh karena itu, seorang pengkaji sejarah perlu untuk memiliki meodologi dalam memahami sejarah. Muaranya nanti adalah pemahaman kisah masa lalu yang bisa dirasio dan diambil pelajaran. Bukan hal-hal mistis yang berhenti sebagai legenda romantis seperti kisah Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang dan yang sejenisnya terlebih setelah masuknya agama Islam. Ya, benar. Pasca Islam datang banyak cerita-cerita mistis berkeliaran. Kejayaan Nusantara yang rasional pun pudar. Mengapa Nusantara dulu rasional? Sebab peradaban Nusantara adalah peradaban lautan. Di laut orang harus rasional sebab dalam menciptakan kapal orang harus tahu ilmu fisika, teknik dan arsitek. Saat berlayar harus bisa menguasai ilmu geografi dan perbintangan. Ketika berperang harus bisa menciptakan senjata dan menguasai strategi perang.

Setelah Islam datang, raja-raja menjadi feodal. Tak mau menguasai lautan dan hidup tenang karena doa-doa dan wirid-wirid yang menjadi mantra. Tak ada upaya rasional untuk kembali menjadi manusia ilmiah. Saat Belanda datang, masyarakat Nusantara tak berdaya. Kalah dalam segalanya. Sementara itu, serat, babad dan catatan-catatan kerajaan dibuat hanya untuk menciptakan legitimasi agar kuasa politiknya tidak digoyah oleh pemberontakan. Dalam hal ini bisa dicek cerita-cerita dalam serat Centini atau Babad Tanah Jawi.


No comments:

Post a Comment