Ide hidup
bersamamu sudah kita susun dalam tulisan-tulisan yang kita kirim melalui bbm
dan whatssapp. Tentang bagaimana nanti kau akan merawat sifat kekanak-kanakanku,
setelah aku berdebat habis-habisan dengan mahasiswaku atau setelah membantah
keputusan rektor atas kenaikan biaya kuliah.
Lelaki perlu
seorang perempuan yang bisa menjaga sifat kekanak-kanakan suaminya. Sebab dalam
dunia anak-anak, tiada dendam di waktu sore setelah pagi hari saling berpukulan
dan baku hantam. Dalam dunia anak-anak hanya ada permainan, kebahagiaan dan tak
ada ingatan akan hutang. Seperti yang dulu kita lewati setiap hari di ruang
kelas yang sempit dan pengap.
Keadaan
seperti itu harus kau rawat, Sayang. Karena di luar waktuku bersamamu, aku akan
kembali bergelut lagi dalam dunia orang dewasa yang menuntutku terlihat
bijaksana dengan dasi yang kau pasangkan di dada dan terlihat berwibawa dengan
kopyah yang menempel di kepala.
Sayang,
sudah seminggu aku di Ibu kota. Aku berpikir bahwa apa yang kubaca dan
kupelajari selama ini tak ada artinya, Tahukah mengapa? karena orang-orang di
sini tak memakainya. Yang digunakan hanya akal-akalan dan usaha untuk mencari
uang. Kalau ada kesempatan menjadi licik, maka harus licik. Menjadi orang lurus
akan susah kaya. Seperti orang yang kutemui semalam, seorang kepala sekolah dasar
bergelar magister pendidikan yang terpaksa narik ojek malam-malam. Di sini rumusnya,
menjadi sedikit munafik, akan mempercepat penumpukan harta.
Kelicikan di
ibukota adalah perihal yang biasa. Apapun profesi dan jabatannya. Sebab Tuhan
seperti tak hadir di sini. Sedang manusia merasa tak diawasi. Tuhan ada di hati
masing-masing orang ketika adzan berkumandang. Ketika sudah keluar dari ritual,
Tuhan kembali disingkirkan.
Istriku, ibu
kota membuatku menjadi banyak merenung, tentang teman-temanku yang berubah.
Teman-teman yang kuingat sangat pandai berdiskusi tentang Islam, tentang hukum
dan tentang mata kuliah yang menuntut banyak membaca. Tapi kini mereka tak lagi
seperti itu, mereka menjadi sosok-sosok baru yang entah siapa. Tapi biarlah,
Sayang. Itu adalah pilihan. Perubahan itu tidak salah, Sayang. Siapa pun pasti
berubah. Sama dengan pilihanku hari ini juga. Kembali hidup dalam lingkungan
yang menjadikanku banyak mengingat Tuhan dan membaca firman-Nya.
Sayang,
apakah kamu seorang penyihir? Sehingga kiriman emoji tangisan yang kau tulis
setelah kata rindu membuatku tak berkutik? Katamu, baru kali ini tahu rindu. Itulah
dampak buruk yang diciptakan jarak. Kau perlu mengenalnya sebagai wujud bahwa
hati manusia punya rasa. Kau jelas belum pernah mengalaminya, Sayang. Sedang
aku, adalah karib hubungan yang berjarak. Dan jarak yang kita ciptakan adalah
yang terjauh dari segala hubungan yang pernah kurasa.
Dengan begitu,
mulai saat ini kau mulai tahu bahwa cinta bukan hanya tentang interaksi fisik
yang menjelma jadi pelukan erat dan ciuman yang hangat. Cinta lebih dari itu
semua, Sayang. Kau sudah tahu bahwa cinta itu bisa juga menjelma doa atau
mengkristal jadi aktifitas yang disukai oleh orang yang dicinta. Seperti yang
kau lakukan, kau rela menyediakan waktu untuk membaca buku-buku sastra, membaca
buku-buku agama dan novel-novel sejarah.
Sedang cinta
dan sayang yang kukenalkan padamu adalah bait-bait puisi, sekumpulan paragraf
melankoli yang lebih rumit dari birokrasi pengurusan KTP di kantor catatan
sipil di kota kelahiranku. Cinta itu juga energi menghafal banyak lirik yang
menjabarkan tentang rindu sepasang kekasih yang berada di benua yang berbeda.
Istriku,
malam ini kita berdiskusi panjang tentang poto-potomu yang ada di dunia maya.
Tentang kecantikanmu yang membuat banyak pria tergoda untuk menyapamu, menanyai
pin bbmu dan nomor hapemu. Tentu, mereka ingin mengenalmu dan barangkali
diantara mereka ada pula yang menginginkanmu. Sekali lagi kusampaikan, aku
adalah pencemburu kelas kakap. Tak ingin jika orang yang kusayangi berbagi rasa
termasuk berbagi kecantikan yang seharusnya hanya aku yang memilikinya.
Parasmu, bentuk tubuhmu dan segala yang melekat dalam tubuhmu bisa dinikmati
oleh orang lain walaupun hanya sebatas pandangan, sekadar poto yang
terpajang dinding facebookmu.
Seandainya
kita hidup di zaman Majapahit, barangkali aku tak secerewet ini. Sebab waktu
itu, perempuan tak berbaju bukanlah aurat yang mengundang syahwat sebagaimana
yang ada di beberapa pedalaman Indonesia saat ini. Dulu di Nusantara begitu.
Perempuan tak berbaju sebagaimana laki-laki. Namun semua berubah semenjak orang
Timur Tengah datang dengan membawa ajaran barunya. Mereka bilang kepada penguasa
setempat agar tubuh perempuan ditutupi. Untuk menutup kehormatan katanya. Sejak
saat itu, ada peraturan yang menuntut perempuan menutup tubuhnya. Dimulai
dengan dadanya yang memakai kemben, lalu perutnya, lengannya, rambutnya dan
bahkan wajahnya. Katanya sebagai syarat untuk masuk surga.
Sejak saat
itu pandangan akan perempuan berubah. Perempuan adalah makhluk yang harus
ditutupi tubuhnya, perempuan boleh dicaci maki jika tak menurut suaminya.
Bahkan katanya, malaikat ikut melaknatnya. Jika mengizinkan lelakinya untuk
dimadu, maka Tuhan memberikan sepetak surga. Aku tak ingin begitu, Sayang. Kau
tetaplah istriku yang harus kuhormati sebagaimana aku hormat kepada ibuku. Tak
boleh aku melukai hati ibuku. Tak boleh aku bertindak semauku. Begitu pun
dirimu padaku.
Dulu tak
seperti sekarang, Sayang. Dulu lelaki dan perempuan bertelanjang dada sudah
biasa. Mata lelaki tak jelalatan sehingga hari ini dalam layar televisi harus
diburamkan agar lelaki menjaga pandangan. Singkatnya perempuan selalu
disalahkan. Walaupun perempuan sendiri inginnya selalu benar. Saat berjalan dia
dianggap anak panah setan. Bahkan jika terjadi perkosaan, penyebabnya adalah
perempuan yang berpakaian tak sopan. Sementara lelaki menjadi makhluk yang
bebas dari kekhilafan. Maka, kita harus berani jujur bahwa kebenaran bukan soal
jenis kelamin. Kebenaran adalah ketika kita tak menyakiti orang lain.
Dan itu kini
terjadi padamu. Kau jadi korbannya, Sayang. Kata Anis Mansour penulis Mesir,
perempuan banyak yang memikirkan kecantikan sebab ada banyak lelaki yang
melotot karena keindahan penampilan. Pada akhirnya, kau dan jutaan perempuan
lain berusaha tampil cantik. Entah karena siapa dan untuk apa. Yang pasti untuk
menarik perhatian lawan jenisnya. Herannya, jika sudah ada lelaki yang tertarik
hingga menikahinya, perempuan tetap saja berusaha menarik perhatian. Untuk apa?
Sayang, aku
tak memaksamu harus menutup tubuhmu seperti lelaki yang berkening hitam dan
berjenggot tebal. Kalau pun kau mau, itu bukan karena paksaanku atau karena kau
sekedar ikut-ikutan. Tapi, Sayang aku minta satu. Kalau kau mau memenuhinya,
aku minta jika kau berpoto dan merasa cantik dalam poto itu, tak perlu
kauunggah di dunia maya atau kau jadikan dp bbm, cukup kirimkan saja untukku.
Aku akan menafsirkan kecantikan itu dalam sajak-sajak puisi yang membuatmu
semakin rindu padaku. rindu yang memaksaku pulang dan kembali menjumpaimu dalam
pelukan panjang, erat dan hangat seolah esok kita tak lagi bertemu sebab Tuhan
akan menjemputku lebih dulu, meninggalkan kau dan anak-anak kita yang lucu.
“Aku tak
ingin melepasnya, Sayang. Kau mati saja dalam pelukku.” Katamu.
“Aku takkan
membuka diri dan hatiku untuk selainmu. Aku akan sendiri sampai mati,
menjemputmu agar aku menjadi pengantinmu di surga.” lanjutmu.
Sayang,
kebahagiaan terindah di dunia ini adalah pernah menjadi kekasihmu. Biarkan aku
mati tanpa air matamu. Hidupmu masih panjang, untuk menabung kebahagiaan di
surga, atau penderitaan di neraka. Sedang aku sendiri tak tahu. Di surga atau
neraka kah aku? Yang kutunggu adalah doa-doamu untukku agar siksaku diringankan
agar kau tak mengalami nasib buruk sepertiku, menjadi pendosa yang layak
disiksa Tuhan melalui malaikat-malaikatnya. Kau, Sayang masih memiliki banyak
waktu untuk memohon ampun dan membiakkan kebaikan sehingga anak-anak kita
menjadi orang-orang yang berguna karena nilai kebaikan yang diajarkan olehku
dan olehmu di sela waktu yang disibukkan dengan pekerjaan, dengan dunia yang
membuatku linglung sampai lupa kewajiban di hadapan Tuhan.
Bertahanlah,
Istriku. Sampai kau tua. Seperti pesan terakhir Jack kepada Rose dalam dingin
yang membeku laut Atlantik. Sampai kau merawat cucu-cucu kita. Satu di antara
cucu kita akan selalu mengingatkanmu padaku. Rambutnya, langkah kakinya,
tawanya bahkan caranya melihatmu. Jika cucu itu telah lahir, berilah nama
sepertiku agar aku kembali hadir menjadi anak kecil yang lucu. Dialah yang akan
membunuh segala kesedihanmu, sedih yang dirawat oleh rindu yang menumpuk dalam
hati yang terpuruk.
Asrama Baitul
Qur’an, 3 Agustus 2016
No comments:
Post a Comment