Monday, August 1, 2016

2 Agustus 2016


Ide hidup bersamamu sudah kita susun dalam tulisan-tulisan yang kita kirim melalui bbm dan whatssapp. Tentang bagaimana nanti kau akan merawat sifat kekanak-kanakanku, setelah aku berdebat habis-habisan dengan mahasiswaku atau setelah membantah keputusan rektor atas kenaikan biaya kuliah.

Lelaki perlu seorang perempuan yang bisa menjaga sifat kekanak-kanakan suaminya. Sebab dalam dunia anak-anak, tiada dendam di waktu sore setelah pagi hari saling berpukulan dan baku hantam. Dalam dunia anak-anak hanya ada permainan, kebahagiaan dan tak ada ingatan akan hutang. Seperti yang dulu kita lewati setiap hari di ruang kelas yang sempit dan pengap.

Keadaan seperti itu harus kau rawat, Sayang. Karena di luar waktuku bersamamu, aku akan kembali bergelut lagi dalam dunia orang dewasa yang menuntutku terlihat bijaksana dengan dasi yang kau pasangkan di dada dan terlihat berwibawa dengan kopyah yang menempel di kepala.

Sayang, sudah seminggu aku di Ibu kota. Aku berpikir bahwa apa yang kubaca dan kupelajari selama ini tak ada artinya, Tahukah mengapa? karena orang-orang di sini tak memakainya. Yang digunakan hanya akal-akalan dan usaha untuk mencari uang. Kalau ada kesempatan menjadi licik, maka harus licik. Menjadi orang lurus akan susah kaya. Seperti orang yang kutemui semalam, seorang kepala sekolah dasar bergelar magister pendidikan yang terpaksa narik ojek malam-malam. Di sini rumusnya, menjadi sedikit munafik, akan mempercepat penumpukan harta.

Kelicikan di ibukota adalah perihal yang biasa. Apapun profesi dan jabatannya. Sebab Tuhan seperti tak hadir di sini. Sedang manusia merasa tak diawasi. Tuhan ada di hati masing-masing orang ketika adzan berkumandang. Ketika sudah keluar dari ritual, Tuhan kembali disingkirkan.

Istriku, ibu kota membuatku menjadi banyak merenung, tentang teman-temanku yang berubah. Teman-teman yang kuingat sangat pandai berdiskusi tentang Islam, tentang hukum dan tentang mata kuliah yang menuntut banyak membaca. Tapi kini mereka tak lagi seperti itu, mereka menjadi sosok-sosok baru yang entah siapa. Tapi biarlah, Sayang. Itu adalah pilihan. Perubahan itu tidak salah, Sayang. Siapa pun pasti berubah. Sama dengan pilihanku hari ini juga. Kembali hidup dalam lingkungan yang menjadikanku banyak mengingat Tuhan dan membaca firman-Nya.

Sayang, apakah kamu seorang penyihir? Sehingga kiriman emoji tangisan yang kau tulis setelah kata rindu membuatku tak berkutik? Katamu, baru kali ini tahu rindu. Itulah dampak buruk yang diciptakan jarak. Kau perlu mengenalnya sebagai wujud bahwa hati manusia punya rasa. Kau jelas belum pernah mengalaminya, Sayang. Sedang aku, adalah karib hubungan yang berjarak. Dan jarak yang kita ciptakan adalah yang terjauh dari segala hubungan yang pernah kurasa.

Dengan begitu, mulai saat ini kau mulai tahu bahwa cinta bukan hanya tentang interaksi fisik yang menjelma jadi pelukan erat dan ciuman yang hangat. Cinta lebih dari itu semua, Sayang. Kau sudah tahu bahwa cinta itu bisa juga menjelma doa atau mengkristal jadi aktifitas yang disukai oleh orang yang dicinta. Seperti yang kau lakukan, kau rela menyediakan waktu untuk membaca buku-buku sastra, membaca buku-buku agama dan novel-novel sejarah.

Sedang cinta dan sayang yang kukenalkan padamu adalah bait-bait puisi, sekumpulan paragraf melankoli yang lebih rumit dari birokrasi pengurusan KTP di kantor catatan sipil di kota kelahiranku. Cinta itu juga energi menghafal banyak lirik yang menjabarkan tentang rindu sepasang kekasih yang berada di benua yang berbeda.

Istriku, malam ini kita berdiskusi panjang tentang poto-potomu yang ada di dunia maya. Tentang kecantikanmu yang membuat banyak pria tergoda untuk menyapamu, menanyai pin bbmu dan nomor hapemu. Tentu, mereka ingin mengenalmu dan barangkali diantara mereka ada pula yang menginginkanmu. Sekali lagi kusampaikan, aku adalah pencemburu kelas kakap. Tak ingin jika orang yang kusayangi berbagi rasa termasuk berbagi kecantikan yang seharusnya hanya aku yang memilikinya. Parasmu, bentuk tubuhmu dan segala yang melekat dalam tubuhmu bisa dinikmati oleh orang lain walaupun hanya sebatas pandangan, sekadar  poto yang terpajang dinding facebookmu.

Seandainya kita hidup di zaman Majapahit, barangkali aku tak secerewet ini. Sebab waktu itu, perempuan tak berbaju bukanlah aurat yang mengundang syahwat sebagaimana yang ada di beberapa pedalaman Indonesia saat ini. Dulu di Nusantara begitu. Perempuan tak berbaju sebagaimana laki-laki. Namun semua berubah semenjak orang Timur Tengah datang dengan membawa ajaran barunya. Mereka bilang kepada penguasa setempat agar tubuh perempuan ditutupi. Untuk menutup kehormatan katanya. Sejak saat itu, ada peraturan yang menuntut perempuan menutup tubuhnya. Dimulai dengan dadanya yang memakai kemben, lalu perutnya, lengannya, rambutnya dan bahkan wajahnya. Katanya sebagai syarat untuk masuk surga.

Sejak saat itu pandangan akan perempuan berubah. Perempuan adalah makhluk yang harus ditutupi tubuhnya, perempuan boleh dicaci maki jika tak menurut suaminya. Bahkan katanya, malaikat ikut melaknatnya. Jika mengizinkan lelakinya untuk dimadu, maka Tuhan memberikan sepetak surga. Aku tak ingin begitu, Sayang. Kau tetaplah istriku yang harus kuhormati sebagaimana aku hormat kepada ibuku. Tak boleh aku melukai hati ibuku. Tak boleh aku bertindak semauku. Begitu pun dirimu padaku.

Dulu tak seperti sekarang, Sayang. Dulu lelaki dan perempuan bertelanjang dada sudah biasa. Mata lelaki tak jelalatan sehingga hari ini dalam layar televisi harus diburamkan agar lelaki menjaga pandangan. Singkatnya perempuan selalu disalahkan. Walaupun perempuan sendiri inginnya selalu benar. Saat berjalan dia dianggap anak panah setan. Bahkan jika terjadi perkosaan, penyebabnya adalah perempuan yang berpakaian tak sopan. Sementara lelaki menjadi makhluk yang bebas dari kekhilafan. Maka, kita harus berani jujur bahwa kebenaran bukan soal jenis kelamin. Kebenaran adalah ketika kita tak menyakiti orang lain.

Dan itu kini terjadi padamu. Kau jadi korbannya, Sayang. Kata Anis Mansour penulis Mesir, perempuan banyak yang memikirkan kecantikan sebab ada banyak lelaki yang melotot karena keindahan penampilan. Pada akhirnya, kau dan jutaan perempuan lain berusaha tampil cantik. Entah karena siapa dan untuk apa. Yang pasti untuk menarik perhatian lawan jenisnya. Herannya, jika sudah ada lelaki yang tertarik hingga menikahinya, perempuan tetap saja berusaha menarik perhatian. Untuk apa?

Sayang, aku tak memaksamu harus menutup tubuhmu seperti lelaki yang berkening hitam dan berjenggot tebal. Kalau pun kau mau, itu bukan karena paksaanku atau karena kau sekedar ikut-ikutan. Tapi, Sayang aku minta satu. Kalau kau mau memenuhinya, aku minta jika kau berpoto dan merasa cantik dalam poto itu, tak perlu kauunggah di dunia maya atau kau jadikan dp bbm, cukup kirimkan saja untukku. Aku akan menafsirkan kecantikan itu dalam sajak-sajak puisi yang membuatmu semakin rindu padaku. rindu yang memaksaku pulang dan kembali menjumpaimu dalam pelukan panjang, erat dan hangat seolah esok kita tak lagi bertemu sebab Tuhan akan menjemputku lebih dulu, meninggalkan kau dan anak-anak kita yang lucu.

“Aku tak ingin melepasnya, Sayang. Kau mati saja dalam pelukku.” Katamu.

“Aku takkan membuka diri dan hatiku untuk selainmu. Aku akan sendiri sampai mati, menjemputmu agar aku menjadi pengantinmu di surga.” lanjutmu.

Sayang, kebahagiaan terindah di dunia ini adalah pernah menjadi kekasihmu. Biarkan aku mati tanpa air matamu. Hidupmu masih panjang, untuk menabung kebahagiaan di surga, atau penderitaan di neraka. Sedang aku sendiri tak tahu. Di surga atau neraka kah aku? Yang kutunggu adalah doa-doamu untukku agar siksaku diringankan agar kau tak mengalami nasib buruk sepertiku, menjadi pendosa yang layak disiksa Tuhan melalui malaikat-malaikatnya. Kau, Sayang masih memiliki banyak waktu untuk memohon ampun dan membiakkan kebaikan sehingga anak-anak kita menjadi orang-orang yang berguna karena nilai kebaikan yang diajarkan olehku dan olehmu di sela waktu yang disibukkan dengan pekerjaan, dengan dunia yang membuatku linglung sampai lupa kewajiban di hadapan Tuhan.

Bertahanlah, Istriku. Sampai kau tua. Seperti pesan terakhir Jack kepada Rose dalam dingin yang membeku laut Atlantik. Sampai kau merawat cucu-cucu kita. Satu di antara cucu kita akan selalu mengingatkanmu padaku. Rambutnya, langkah kakinya, tawanya bahkan caranya melihatmu. Jika cucu itu telah lahir, berilah nama sepertiku agar aku kembali hadir menjadi anak kecil yang lucu. Dialah yang akan membunuh segala kesedihanmu, sedih yang dirawat oleh rindu yang menumpuk dalam hati yang terpuruk.
Asrama Baitul Qur’an, 3 Agustus 2016



No comments:

Post a Comment