Kembali
kuteringat pada tulisanku beberapa bulan lalu. Tentang usiaku yang tak lagi
lama. Aku memperkirakan hanya sampai 27 tahun. Sedang sebentar lagi aku sudah
26 tahun. Kematian bukan yang menakutkan. Yang mengerikan dari mati adalah
kejadian-kejadian setelahnya.
Sejak MTs,
aku pernah memiliki keinginan bahwa kelak jika aku mati, aku ingin mati dalam
keadaan sedang dalam perjalanan atau sedang mencari ilmu. Formal atau non
formal. Saat ini pendidikan formalku sebentar lagi selesai. Tinggal menunggu
wisuda. Sekarang tugas akademik kampus hanya merevisi tesis yang kata penguji
kurang feel tafsirnya. Aku mengakui hal itu. Namun aku agak sakit hati pada
salah satu penguji yang meremehkan. Kata-katanya, entah disengaja atau tidak
sangatlah menyakitkan dan merendahkan. Akan aku ingat perkataannya. Seorang
dosen yang tak pandai menulis tapi begitu hobby mengkoreksi kesalahan tata cara
penulisan. Kasihan sekali ada doktor seperti itu. Semoga beliau tak seperti itu
terus.
Satu lagi
penguji yang bicaranya asal-asalan dan membuat aku down bahkan merasa sangat
bodoh. Seolah apa yang aku tulis tidak berarti sama sekali. Aku terima. Aku
memang bodoh sekali. Hanya saja aku tak menghiraukan ucapan-ucapan itu. Yang
pasti sampai detik ini aku tak ingin melakukan revisi. Untuk batas waktu yang
tak diketahui. Sama seperti waktu aku lulus sarjana dulu. Aku tak sudi merevisi
skripsi.
Mengapa
kualitas magister bisa sebodoh aku? Padahal di kelas, aku adalah yang terpandai
kedua dalam hal nilai. Namun aku juga termasuk yang muda. Aku bisa mendapat
nilai yang cukup baik dan selalu aktif dalam berdiskusi. Aku masih belum pantas
jadi magister ilmu al-Qur'an dan Tafsir karena kurikulum yang bertumpuk-tumpuk
dan beberapa dosen pengajar yang tak mumpuni.
Itu semua
tidak kemudian membuatku berhenti belajar. Sebaliknya aku harus bertanggung
jawab atas gelar yang kusandang. Maka, saya sangat berharap sekali lolos
pendidikan kader mufassir di Jakarta. Mudah-mudahan Tuhan menakdirkanku untuk
bisa lolos. Aku ingin memperdalam ilmu tafsir lagi dan tentunya untuk
memperbaiki tesisku yang katanya kurang nuansa tafsirnya.
Aku terpikir
lagi untuk kembali banyak menulis fiksi. Tulisan akademik masih kulakukan
sebatas sebagai ghost writer. Aku tak melihat kualitas tulisan akademik di
Indonesia memiliki power. Hampir semuanya mandul, tak dapat berbuat apa-apa
selain jadi ajang kenaikan pangkat, mendapat gelar dan hal-hal tidak prinsipil
lainnya.
Aku
barangkali juga demikian. Menulis untuk hal-hal pragmatis yang urusannya adalah
untuk perut. Harusnya tidaklah demikian diriku. Membuat tulisan untuk orang
lain dan aku mendapatkan imbalan atas pekerjaanku. Aku tak tahu apa hukumnya.
Secara muamalah, aku sudah memenuhi prinsip jual beli yakni adanya unsur saling
ridha antara penjual dan pembeli. Barang yang dijual pun bukan sesuatu yang
diharamkan.
Aku harus
berpindah, memikirkan hal-hal yang barangkali sebenarnya bukan untuk ilmu,
namun hanya untuk hasrat pribadiku untuk mendapatkan tepuk tangan, sorak sorai
dan pujian yang hampa atas apa yang kutempuh. Padahal itu semua hanyalah
sekedar tipu-tipu. Betapa hina dina diri ini.
Di sisi
lain, sampai saat ini aku tak dapat membantu orang tua secara ekonomi. Aku juga
masih enggan. Aku belum mengerti arti bekerja dan berkarir. Dua hal yang
seharusnya dipikirkan oleh orang-orang seusiaku. Sedang orang tuaku berpikir
bahwa pekerjaan harus segera kuperoleh agar aku menjadi 'manusia'. Bapak punya
pengertian sendiri tentang makna manusia. Baginya juga bagi banyak masyarakat
Indonesia, menjadi manusia adalah menjadi lelaki yang bekerja dan berkeluarga.
Sesimpel itu.
Aku punya
pengertian yang berbeda. Aku berpikiran bahwa menjadi manusia adalah seperti
halnya diungkapkan Ali Syariati bahwa jika aku merasakan sakit, maka aku hidup.
Jika aku merasakan sakitnya orang lain, maka aku adalah manusia. Dan sampai
saat ini aku belum merasakan itu. Aku tetaplah sosok individualis yang tak
peduli dengan orang lain sambil mengejar ambisi duniawi berupa keinginan untuk
hidup yang santai dan kebutuhan tercukupi sampai mati. Itu saja.
Dengan gaya
hidup demikian, maka salah besar perempuan yang mencintaiku dengan ekspektasi
yang ketinggian. Aku sendiri ragu mengatakan bahwa aku lelaki yang sudah layak
berkeluarga dengan seorang perempuan. Apa ada orang tua yang bisa menerima
prinsip hidupku yang 'liberal' ini? Kalau tahu tentangku, orang tua pasti
enggan menikahkan anak perempuannya denganku. Aku sendiri pun tak ingin
dinikahi. Sudah hidup seperti ini saja sampai mati usia 27 tahun nanti.
No comments:
Post a Comment