Thursday, June 9, 2016

4 JUNI 2016

Kembali kuteringat pada tulisanku beberapa bulan lalu. Tentang usiaku yang tak lagi lama. Aku memperkirakan hanya sampai 27 tahun. Sedang sebentar lagi aku sudah 26 tahun. Kematian bukan yang menakutkan. Yang mengerikan dari mati adalah kejadian-kejadian setelahnya.

Sejak MTs, aku pernah memiliki keinginan bahwa kelak jika aku mati, aku ingin mati dalam keadaan sedang dalam perjalanan atau sedang mencari ilmu. Formal atau non formal. Saat ini pendidikan formalku sebentar lagi selesai. Tinggal menunggu wisuda. Sekarang tugas akademik kampus hanya merevisi tesis yang kata penguji kurang feel tafsirnya. Aku mengakui hal itu. Namun aku agak sakit hati pada salah satu penguji yang meremehkan. Kata-katanya, entah disengaja atau tidak sangatlah menyakitkan dan merendahkan. Akan aku ingat perkataannya. Seorang dosen yang tak pandai menulis tapi begitu hobby mengkoreksi kesalahan tata cara penulisan. Kasihan sekali ada doktor seperti itu. Semoga beliau tak seperti itu terus.

Satu lagi penguji yang bicaranya asal-asalan dan membuat aku down bahkan merasa sangat bodoh. Seolah apa yang aku tulis tidak berarti sama sekali. Aku terima. Aku memang bodoh sekali. Hanya saja aku tak menghiraukan ucapan-ucapan itu. Yang pasti sampai detik ini aku tak ingin melakukan revisi. Untuk batas waktu yang tak diketahui. Sama seperti waktu aku lulus sarjana dulu. Aku tak sudi merevisi skripsi.

Mengapa kualitas magister bisa sebodoh aku? Padahal di kelas, aku adalah yang terpandai kedua dalam hal nilai. Namun aku juga termasuk yang muda. Aku bisa mendapat nilai yang cukup baik dan selalu aktif dalam berdiskusi. Aku masih belum pantas jadi magister ilmu al-Qur'an dan Tafsir karena kurikulum yang bertumpuk-tumpuk dan beberapa dosen pengajar yang tak mumpuni.

Itu semua tidak kemudian membuatku berhenti belajar. Sebaliknya aku harus bertanggung jawab atas gelar yang kusandang. Maka, saya sangat berharap sekali lolos pendidikan kader mufassir di Jakarta. Mudah-mudahan Tuhan menakdirkanku untuk bisa lolos. Aku ingin memperdalam ilmu tafsir lagi dan tentunya untuk memperbaiki tesisku yang katanya kurang nuansa tafsirnya.

Aku terpikir lagi untuk kembali banyak menulis fiksi. Tulisan akademik masih kulakukan sebatas sebagai ghost writer. Aku tak melihat kualitas tulisan akademik di Indonesia memiliki power. Hampir semuanya mandul, tak dapat berbuat apa-apa selain jadi ajang kenaikan pangkat, mendapat gelar dan hal-hal tidak prinsipil lainnya.

Aku barangkali juga demikian. Menulis untuk hal-hal pragmatis yang urusannya adalah untuk perut. Harusnya tidaklah demikian diriku. Membuat tulisan untuk orang lain dan aku mendapatkan imbalan atas pekerjaanku. Aku tak tahu apa hukumnya. Secara muamalah, aku sudah memenuhi prinsip jual beli yakni adanya unsur saling ridha antara penjual dan pembeli. Barang yang dijual pun bukan sesuatu yang diharamkan.

Aku harus berpindah, memikirkan hal-hal yang barangkali sebenarnya bukan untuk ilmu, namun hanya untuk hasrat pribadiku untuk mendapatkan tepuk tangan, sorak sorai dan pujian yang hampa atas apa yang kutempuh. Padahal itu semua hanyalah sekedar tipu-tipu. Betapa hina dina diri ini.

Di sisi lain, sampai saat ini aku tak dapat membantu orang tua secara ekonomi. Aku juga masih enggan. Aku belum mengerti arti bekerja dan berkarir. Dua hal yang seharusnya dipikirkan oleh orang-orang seusiaku. Sedang orang tuaku berpikir bahwa pekerjaan harus segera kuperoleh agar aku menjadi 'manusia'. Bapak punya pengertian sendiri tentang makna manusia. Baginya juga bagi banyak masyarakat Indonesia, menjadi manusia adalah menjadi lelaki yang bekerja dan berkeluarga. Sesimpel itu.

Aku punya pengertian yang berbeda. Aku berpikiran bahwa menjadi manusia adalah seperti halnya diungkapkan Ali Syariati bahwa jika aku merasakan sakit, maka aku hidup. Jika aku merasakan sakitnya orang lain, maka aku adalah manusia. Dan sampai saat ini aku belum merasakan itu. Aku tetaplah sosok individualis yang tak peduli dengan orang lain sambil mengejar ambisi duniawi berupa keinginan untuk hidup yang santai dan kebutuhan tercukupi sampai mati. Itu saja.

Dengan gaya hidup demikian, maka salah besar perempuan yang mencintaiku dengan ekspektasi yang ketinggian. Aku sendiri ragu mengatakan bahwa aku lelaki yang sudah layak berkeluarga dengan seorang perempuan. Apa ada orang tua yang bisa menerima prinsip hidupku yang 'liberal' ini? Kalau tahu tentangku, orang tua pasti enggan menikahkan anak perempuannya denganku. Aku sendiri pun tak ingin dinikahi. Sudah hidup seperti ini saja sampai mati usia 27 tahun nanti.

No comments:

Post a Comment