Saturday, June 4, 2016

3 JUNI 2016

Ujian tesis telah selesai. Ujianku adalah yang terlama. Banyak pertanyaan yang tak bisa kujawab secara memuaskan sehingga pada akhirnya saya merasa begitu bodoh dan tak ingin lagi menjadi seorang pelajar dalam perguruan tinggi. Aku sempat terpiki untuk menjadi begitu.


Semua ini tak dapat dilepaskan dari sejarah awal aku ingin kuliah tahun 2014 silam. Bermula dari rasa sakit hati dikhianati seorang kekasih hingga akhirnya putus. Aku menjadi seperti seorang lelaki yang gila. Aku tak dapat berpikir jernih sebab rasa sakit dari hati yang menyerang otak. Beberapa bulan aku menjadi pendiam, tak dapat konsentrasi dan merasa bersalah sendiri. Sampai waktu itu aku memutuskan untuk puasa Dawud.

Selama beberapa waktu, puasa berhasil membuatku terlupa akan rasa sakit sedikit demi sedikit. Namun pikiranku tak lagi bisa jernih. Sampai aku berusaha mencari perempuan yang mau kunikahi. Pernah aku bermimpi bertemu seorang adik kelas waktu di Semarang. Dengan pikiranku yang tak jernih, kemudian aku merasa bahwa di jodohku sehingga aku harus segera melamarnya. Urusan ditolak atau tidak, biar dia yang memutuskan. Akhirnya aku ditolak.

Aku terus berpikir untuk menikah dan menikah. Hingga akhirnya suatu ketika aku akan dijodohkan dengan seorang penghafal Qur’an sekitar sebulan setelah lebaran. Sebelumnya aku punya keinginan untuk kuliah tapi hanya sedikit. Aku masih menikmati menjadi guru dan pendidik di Pondok saat itu. Keinginan kuliah hanya sepuluh persen saja. Yang paling tepat saat itu adalah menikah dengan seseorang yang memiliki profesi sama denganku. Terlebih seorang penghafal Qur’an sebab pondok tempatku mengabdi membutuhkan guru yang hafal Qur’an. 

Singkat cerita, aku bertemu dengan seorang Kiai yang menjadi khatib pada khutbah idul fitri tahun itu. Setelah berbincang, dia memberikan tawaran untukku menikah. Sampai akhirnya aku datang ke rumah seseorang di daerah perbatasan antara Gresik Lamongan. 

Aku datang jauh-jauh dari Blitar untuk dua hal, mengambil sepeda motor dan menemui perempuan itu. Untuk ta’aruf kata orang-orang. Kudatangi rumah seorang Kiai yang akan menjodohkan. Di tengah perjalanan, ada operasi polisi, aku tak membawa sim. Polisi menilang.

Waktu itu hari Jum’at sama seperti hari ini. Karena jumat, waktu singkat. Aku lupa dulu aku datang ke rumah perempuan itu sebelum atau setelah jum’atan. Yang pasti, aku disambut dengan hangat dengan ayahnya, juga dengan keluarga lain. Kutemui gadis itu dan tak ada getar saat aku melihatnya. Waktu itu aku sudah memperkirakan bahwa tak mungkin aku bisa hidup bersamanya.

Sore harinya aku kembali ke Blitar. Karena terlalu malam, aku singgah dulu di Denanyar. Tak ada pikiran untuk kuliah. Rasa sakit karena terhianati sudah mulai menghilang kecuali kalau diingat-ingat. Rasa sakitnya akan tetap terus ada kalau disulut oleh ingatan-ingatan tentang kepercayaan yang terkhianati.

Hari sabtu, aku sampai Blitar dan kembali dengan aktifitas mengajar. Minggu, aku mendapat pertanyaan berisi sms dan pula pernyataan dari pihak keluarga perempuan. Tak mungkin aku menolak lamaran dengan cepat tanpa alasan. Sementara dari pihak sana, kembali menanyaiku melalui Kiai khatib. Aku belum menjawab sebelum ada alasan. Terpikirlah olehku sebuah brosur pendaftaran kuliah. Aku melihat tanggalnya, masih ada waktu pendaftaran gelombang dua. Batas pendaftaran kurang dua hari.

Dengan tergesa-gesa kukumpulkan segala persyaratan sampai dengan proposal tesis kubuat. Hari selasa aku berangkat daftar. Aku diterima meski tanpa ijazah. Surat keterangan lulus ujian munaqosah yang kupakai jadi penggantinya. Kertas ukuran A5 sebanyak dua lembar. Aku tak punya uang mendaftar sebanyak tiga ratus ribu. Terpaksa aku pinjam uang sejumlah itu kepada salah satu muridku di pondok. Betapa sebenarnya aku tak siap untuk kuliah. Prosentase keinginan untuk benar-benar belajar hanya sekitar 10 persen saja. Sebab saat itu aku masih punya rasa bahwa belajar tak di bangku kuliah. Aku masih bisa belajar terus tanpa kuliah saat itu. Bahkan mungkin aku membaca lebih banyak buku dari pada kebanyakan mahasiswa. Selain itu pula aku masih produktif menulis.

Dengan diantar oleh teman ke Tulungagung, aku mendaftar. Di sana aku sempat ragu apakah akan diterima atau tidak. Akhirnya aku diterima. Aku bersyukur. Akhirnya ketika aku ditanya oleh pihak perempuan mengenai keputusanku, aku bisa menjawab: “Hari Jum’at saya bisa memberikan keputusan.” Hari itu adalah pengumuman hasil seleksi tulis dan lisan.

Aku diterima sebagai mahasiswa dengan perasaan yang biasa-biasa saja. Yang penting waktu itu aku bisa menjawab penolakan pernikahan. Semangat kuliah hanya biasa-biasa saja. Bahkan uang untuk mendaftar pun aku tak punya. Sementara batas waktu pendaftaran sangat singkat. 

Setelah dierima, maka aku harus mendaftar ulang dengan uang sejumlah dua juta lima ratus ribu rupiah. Dari mana aku dapat uang sebanyak itu. Aku pun berpikir untuk menghutang. Tapi pada siapa. 

Tak lama berpikir, aku teringat ada Saifuddin yang bekerja di Dirjen Pajak di Papua. Aku yakin dia beruang banyak. Uang sejumlah itu pasti bisa kupinjam darinya. Tak perlu waktu lama dia memutuskan untuk menghutangiku. Sampai sekarang hutang itu baru kubayar sebagian. 

Setelah aku resmi diterima jadi mahasiswa dan mulai kuliah. Semangat yang awalnya hanya 10% meningkat jadi 70%. Rasa sakit akan penghianatan pun mulai sirna. Perempuan yang kuajak ta’aruf’ dan keluarganya bisa menerima alasanku. 

Kuliah dimana-mana sama saja (kecuali di Timur Tengah mungkin). Presentasi, buat makalah, diskusi dan seterusnya. Begitu terus sampai satu semester selesai. Kuliah tidak mematikan pikiranku untuk menjadi oang kritis. Aku suka bertanya hal-hal yang ’tak beres’ di kampus. Dan aku menemukannya. Aku menyebutnya nepotisme organisatoris. Kata teman, itu namanya cara berpikir primordial.

Apa yang bisa dilakukan melihat primodialisme seorang professor yang sudah haji dan lama nyantri? Hanya menggerutu dan menuliskannya. Hanya itu saja. Kebijakan bagi-bagi kue yang merugikan mahasiswa tak dapat dihindari. Dosen-dosen yang mengampu mata kuliah bukan orang-orang yang ahli di bidangnya. Terjadilah malpraktik dalam dunia pendidikan setingkat pascasarjana. Tak mungkin demonstrasi dan tak mungkin pula mengajak diskusi atau audiensi mengenai ini. Waktu yang singkat di kampus ditambah dengan kesibukan di luar serta rasa tak mau tahu bahkan barangkali menganggap hal itu wajar membuat banyak mahasiswa diam. Yang terpenting bisa kuliah lalu lulus dan mendapatkan gelar. Aku pun akhirnya berpikir demikian. Aku kuliah tak lain adalah agar mendapat gelar. Untuk mendapat ilmu tak perlu kuliah mahal-mahal. Uang registrasi bisa digunakan untuk membeli buku dan menulis.

Dan sampai akhir pun aku melihat ketidakberesan sampai akhirnya hari ini. Aku menjadi kandidat magister yang masih bodoh untuk dikatakan sebagai seoarng master di bidang tafsir. Sehingga harus bertanggung jawab atas gelarku. Mau tak mau aku harus belajar lagi kepada sistem pendidikan yang lebih baik dari kampusku hari ini.

No comments:

Post a Comment