Monday, September 2, 2013

SAHABAT?

Oleh: Rizal Mubit Tak ada yang melebihi keindahan pesona seorang gadis yang mampu memainkan alat musik; gitar, biola, piano, harpa dan alat musik lain. Terlebih jika ia memiliki suara indah. Sungguh gadis seperti itu layak bersaing dengan bidadari. Namun demikian, tidaklah mudah untuk bisa mendekat apalagi bisa jadi kekasih hatinya. Anehnya, Muqorrobin seorang pemuda pendiam berkacamata bulat seperti John Lennon justru terpilih menjadi sahabat seorang gadis pemain piano yang bersuara indah, bernama Melodi. Kedua anak muda itu bersahabat. Ya, mereka menyebutnya demikian. Sahabat. Menurut Anda, apakah hanya sekedar sahabat atau lebih? Biasanya, Melodi datang ke tempat Robin sore sepulang kuliah, ketika kerjaan Robin tak terlalu banyak. Kalau datang, Melodi suka bercerita apapun sambil membantu Robin bekerja. Walau demikian kadang Melodi malah mengganggu kerjaan terutama saat ia bercerita tentang kegalauan hati karena ulah pacarnya. Robin seorang pendengar yang baik. Ia tak pernah menyangkal atau menyela pembicaraan orang. Ia baru bicara kalau dimintai pendapat. Itu pun sepatah kata dua patah kata saja. Sikapnya itu lah yang membuat Melodi memilih Robin sebagai sahabat atau mungkin lebih. Sore itu, Melodi datang seperti biasa. Dengan memakai jilbab paris warna ungu muda dan baju dengan warna senada. Ia berjalan dengan gaya peragawati di atas catwalk. Posturnya yang tinggi semampai ditambah kulitnya yang putih bersih membuat setiap lelaki yang berpas-pasan dengannya tertarik untuk memperhatikan gadis cantik itu. “Masih banyak kerjaan, Mas?” tanya Melodi. “Hem. . .” jawab Robin singkat sambil melirik. “Musiknya ganti dong, Mas.” Melodi mendekati komputer yang menyala di samping alat foto copy. Jari-jarinya yang lentik memegangi mouse dan dengan cepat merubah musik pop boyband Indonesia jadi musik band-band luar negeri. Robin masih melanjutkan pekerjaan. Ia tak paham lagu apa yang didengarnya lantaran tak mengerti bahasa Inggris. Melodi terlihat menyanyi lirih sambil membolak-balik halaman buku yang dipeganginya. Sepertinya sebuah buku kuliah. Robin telah menyelesaikan pekerjaannya,”sudah makan?” Melodi menggeleng. Robin mengajaknya makan Mie Ayam di dekat tempat kerja. Seorang penjual Mie Ayam usianya sebaya dengan Robin sudah terbiasa dengan pesanan Robin dan Melodi sehingga sepasang sahabat itu hanya perlu memberi kode pada Bang Anang. Sementara mereka memilih tempat duduk yang teduh. Sejurus kemudian, dua es teh manis tersedia untuk dinikmati. Robin kehausan. Ia habiskan es teh dalam satu tegukan lalu memesan lagi satu gelas. Melodi tak heran melihatnya sebab ia tahu Robin memang pekerja keras. Pantang istirahat sebelum kerjaan selesai. Seperti kebanyakan perempuan, Melodi meneguk minumannya dengan sedotan sedikit- sedikit dengan bibir tipisnya. Sesekali ia mengaduk-aduk dengan sedotan agar gula di bawah larut dalam air. Senja sore menghiasi langit dengan warna lembayung. “Ada cerita apa lagi? Tentang kekasihmu lagi?” tanya Robin. Melodi merubah posisi duduk. “Ya.” Cerita dimulai. Kisahnya hampir sama dengan yang sebelumnya. Selalu begitu, diulang berkali-kali. Dan di akhir cerita Melodi selalu berkata. “Aku masih bingung. Kenapa aku mau jadi pacarnya padahal sebetulnya tak ada perasaan. Aku biasa-biasa saja. Hanya aku merasa percaya diri kalau sedang jalan dengannya. Tampan dan menawan.” Mie Ayam yang dipesan datang. Robin melepas kaca matanya. Dengan gerakan cepat ia mengambil sesendok sambal dan mencampurkan saus pedas ke dalam mangkuk hingga warna Mie dan kuahnya memerah. Melodi melakukan hal yang sama. “Hem.” jawab Robin. Biji-biji keringat nampak di keningnya karena pedas. “Bahas yang lain saja deh. Mas Robin sepertinya bosan mendengar ceritaku.” Robin tersenyum menutupi rasa cemburu karena kisah kekasi Melodi. Melodi sambil tangannya menunjuk ke atas. *** Robin bekerja di foto copy seperti biasa. Dan Melodi datang dengan langkah peragawatinya. “Weekend ke rumahku yuk, Mas. Nggak ada kerjaan kan?” “Rumah atau kos-kosan?” “Rumah. Di Salatiga. Aku sudah eneg sama bu kos. Tiap hari ngomel-ngomel terus. Masalah sepele diomelin. Sumpek. Aku juga sudah kangen sama piano di rumah. Aku ingin memainkannya. Kamu tak pernah melihatku bermain piano kan? em. . . maksudku memainkan pianoku sendiri sambil bernyanyi.” “Boleh.” Sabtu sore, Melodi mengajak Robin ke rumahnya di Salatiga. Rumah Melodi dekat dengan Rawa Pening dan beberapa lokasi wisata daerah Salatiga. Hawa dingin kota kecil di selatan Semarang itu belum terbiasa dirasakan Robin. Untuk menghindari dinginnya hawa gunung, ia memakai jaket tebal milik Bapak Melodi. Ia lupa bawa jaket. “Bakar jagung yuk, Mas. Aku ambilin jagungnya di kulkas. Kamu siapin alat-alatnya di dapur. Bawa ke halaman belakang. Kita bakar di sana saja.” Rumah Melodi besar. Di depan dan belakang rumah terdapat halaman yang dibentuk seperti taman mini. Ada kursi panjang di salah satu sudut. Rumput tumbuh lembut dan beberapa macam bunga indah menghiasinya. Di sana, Robin menyiapkan alat untuk membakar jagung. Beberapa saat kemudian Melodi datang membawa jagung. Ia kembali ke dalam rumah lagi lalu datang lagi membawa tikar dan air minum. “Kamu kok bisa ya hidup tanpa banyak bicara? Aku heran. Keluargaku, kakek-nenek, Bapak dan ibuku serta saudara-saudaraku, semuanya suka bicara. Aku baru menemukan orang yang tak banyak bicara hanya dua orang. Satu teman SD-ku dulu dan kamu. Teman SD ku sekarang kuliah di luar negeri.” Robin hanya tersenyum tipis mendengarnya. Ia memanggang jagung dengan terampil. Tangannya yang terbiasa bekerja, bisa dengan mudah menyelesaikan kerjaan ringan. Melodi mengabil gitar di sampingnya, memetik dawai dengan jari-jarinya yang lentik. Ia mulai bernyanyi di bawah langit berbintang tanpa bulan dalam suasana dingin pegunungan sambil menunggu jagung bakar. Selesai menyanyikan sebua lagu, adik Melodi datang. Elia namanya. Ia masih kelas dua SMA. Tak kalah menawan dengan Melodi. Ia ikut bergabung. Robin beruntung malam ini, ditemani dua gadis cantik dan mempesona meski hanya sebatas sebagai teman. Atau lebih tepatnya jadi kakak mereka. ” Request lagu apa, Mas Robin?” tanya Elia. Robin ingin bilang Inginku bukan hanya jadi temanmu. Lagunya Yovie and Nuno. Namun ia tak berani. Ia takut kalau Melodi tahu maksud permintaannya. Akhirnya Robin hanya bilang. ” Terserah.” Elia pun bernyanyi. Lagi-lagi lagu bahasa asing yang tak dikenali Robin. Tak ada yang tahu dan merasakan, ternyata malam itu adalah malam terakhir mereka bisa berkumpul. Dua hari setelahnya, Kholil adik kandung Robin datang ke Semarang untuk meminta kakaknya pulang kampung ke Wonosobo. Robin pun terpaksa kembali pulang ke rumah karena permintaan orang tua. Bapak ingin agar Robin mulai belajar untuk menjadi generasi yang melanjutkan kegiatan Bapaknya jadi guru baca tulis al-Quran sambil bekerja jadi tukang jahit. Tanpa memikirkan banyak pertimbangan, akhirnya Robin meninggalkan kehidupan gemerlap kota. Pekerjaan di foto copy digantikan oleh Kholil adiknya. Robin pulang tanpa banyak yang tahu. Bahkan Melodi hanya diberitahu lewat sms. Sehari, dua hari, satu minggu hingga sebulan Melodi mulai merasa kesepian tak punya teman yang bisa mendengarkan kisah-kisahnya. Tak ada orang yang mau menjadi pendengar yang sehebat Robin, yang mau mendengar segala jenis curhat tanpa protes. Masalahnya, Robin tak bisa dihubungi karena desa tempat tinggalnya belum bisa dimasuki sinyal. Tiap hari Melodi merana. Ingin rasanya datang ke tempat Robin namun tak ada waktu luang. Kesibukan di kampus dan bermusiknya tak dapat ditinggal. Banyak teman lelaki di kampus dan lingkungan sekitarnya. Tak ada satu pun yang bisa menggantikan peran Robin. Ia sendiri tak tahu kenapa demikian. *** Jumlah santri semakin banyak dengan kehadiran Robin. Cara mengajar Robin yang menyenangkan menarik perhatian anak-anak. Ia pun mulai menikmati dunia barunya di desa dengan menjadi guru ngaji. Lama-lama ia kewalahan sebab jumlah santri. Di waktu yang sama, keresahan orang tua Robin menjelma jadi paksaan demi paksaan kepada anaknya agar segera menikah lantaran usia sudah di ata dua puluh lima. Bapaknya ingin agar Robin memiliki pendamping hidup yang bisa menjadi teman berjuang mengajarkan alif ba' ta' di desanya. “Bapak tak mau memaksamu. Tapi kalau tetap kau tak punya pilihan, biar Bapak dan ibumu yang memilih.” Robin diam dan tetap diam menunduk. Kenyataannya memang demikian, ia tak punya perempuan pilihan yang siap dinikahinya. “Bapak kasih waktu satu bulan. Kalau tidak juga memilih perempuan yang akan kauajak nikah, terpaksa nanti Bapak dan ibumu akan mencarikanmu.” Robin mengangguk. Anggukan konyol seorang lelaki. Tak ada satu pun pandangan perempuan mana yang akan diajaknya menikah. Selama ini hanya Melodi yang dekat. Itu pun hanya sebagai sahabat. Sahabat yang sering ia dengar ceritanya. Mana mungkin ia berani mengajak menikah perempuan sekelas Melodi. Sebulan berlalu. Robin tak kunjung mendapatkan siapa perempuan pilihannya. Orang tuanya pun akhirnya memilihkannya perempuan dibantu paman dan bibinya. Tak dapat mengelak, Robin mengiyakannya. Proses lamaran berlangsung dengan singkat hingga penentuan hari pernikahan. Calon istri Robin adalah lulusan pesantren. Larissa. Gadis lugu dan pendiam seperti halnya Robin. Entah apa yang akan terjadi dalam suami istri yang pendiam. Bagaimana dengan Melodi? Bagaimana perasaan Robin terhadap Melodi? Bagaimana menurut Anda? Jika Anda sendiri yang mengalaminya. Ah, ibaratnya Melodi adalah tesis dan Tuhan menciptakan Robin sebagai antitesis sehingga keduanya susah jika menyatakan. Yang satu tinggi hati yang satu kebalikannya. Robin menitipkan undangan pernikahan lewat adiknya. Ia berinisiatif agar Melodi mengisi hiburan dengan suara merdunya asal dia tak menyanyikan lagu-lagu inggris yang tak dipahami Robin. *** Rasa rindu atas Robin sudah terlampau mendera Melodi. Ia memutuskan tidak masuk kuliah untuk datang ke rumah Robin di Wonosobo. Sebelum berangkat ia mendatangi Kholil untuk bertanya alamat rumah. Namun waktu itu, Kholil tak ada. Foto copy tutup. Anang yang tahu kehadiran Melodi, datang mendekat. “Kholil kemarin pulang, Mbak.” kata Anang sambil berjalan menghampiri Melodi,”ini ada titipan undangan buat Mbak Melodi.” Melodi mengambil undangan itu. Membacanya. Ia seolah tak percaya dengan apa yang dibacanya. Ada rasa cemburu. Cemburu yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa Robin akan menikah. Melodi langsung memasukkan undangan itu ke dalam tas. “Ini juga, Mbak. Saya lupa dulu pernah pinjam flasdisk Mas Robin. Kalau mbak mau ke acara nikahan, saya nitip kembalikan dan sampaikan salam selamat serta maafku.” “Iya, Mas.” raut muka Melodi berubah. Ia lalu kembali ke kos-kosan, masuk kamar dan memeluk bantal sambil membaca lagi undangan pernikahan itu. Saat mengambil undangan, flasdisk terjatuh dari tas. Lalu ia mengambilnya. Ada dorongan yang meminta Melodi untuk membuka isi flasdisk. Ia menyalakan notebook, menancapkan flasdisk ke usb. Hanya ada tiga folder. Folder bernama foto, film dan catatan harian. Pertama, Melodi membuka folder foto. Ada banyak foto Robin, keluarga dan foto-foto dirinya. Selanjutnya Melodi membuka folder catatan harian. Ada banyak folder yang dinamai dengan bulan. Mulai Januari hingga Desember. Ia membukan folder bulan ini, Juli. Hanya ada satu file bernama 21 Juli 2013. Ia pun membuka dan membacanya. “ Semalam aku begitu bahagia. Malam mingguku kuhabiskan dengan perempuan yang sudah lama kusuka. Bernyanyi di bawah bintang-bintang, makan jagung bersama hingga larut. Aku masih seperti sebelumnya. Tak pernah berani mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya. Bahwa aku ingin bukan hanya jadi teman atau sekedar sahabat yang rajin dengar ceritanya. Tapi siapa aku? Mungkin lebih baik aku tak pernah mengucapkannya. Bukannya dia juga menganggapku hanya sebagai sahabat? Lagi pula dia sudah punya kekasih yang tampan, tajir dan pandai bermusik. Sudah kuliah S-2 pula. Sedang aku hanya lulusan SMA. Wahai Tuhan, keinginan itu terlalu tinggi. Biarlah. Apa pun yang terjadi aku akan tetap jadi orang yang setia mendengar cerita-ceritanya walau kadang kesal saat mendengar dia bercerita tentang kekasihnya. Oh, mungkinkah akan segera mengerti seiring jalannya hari sungguhku tergila padanya. Aku ingat sebenarnya ada kesempatan untuk mengungkapkan perasaan, ketika aku ditawari oleh adiknya ingin mendengar lagu apa. Ingin rasanya kubilang,”Nyanyikan Inginku lagunya Yovie and Nuno.” aku tak bernyali. Selain karena sungkan jika mereka bilang selera musikku rendah. Lebih baik mereka bernyanyi sesuka hatinya. Begitu saja, aku sudah bahagia. demi Tuhan, hanya itu saja kuinginkan. Sahabatku, bukan maksud hati membebani. Tetapi... Telah lama, kumenanti hingga satu malam sunyi untuk kuakhiri Menangislah Melodi. Tak kuasa ia menahan tangis yang ditahan sejak tadi. Terang sudah apa yang selama ini terjadi. Ada cinta yang tak terucap. Baik dari bibir kedua sahabat itu walau sebenarnya cinta itu ada di hati mereka. Melodi melihat undangan lagi. Dibaca dengan seksama. Ada catatan khusus untuknya.”Nanti kamu nyanyi di acara pernikahanku ya. . . . . . Jangan lagu-lagu Inggris. Hehehehe . . . . .” Pernikahan akan dilaksanakan dua hari lagi. Melodi mempersiapkan barang-barangnya masih dalam keadaan menangis. Susah merelakan sahabat yang sebenarnya dicintainya itu. Namun semua telah terlambat. Siapa yang salah? Melodi datang mengajak kekasihnya. Ia semakin bisa merasakan apa itu sebenarnya rasa sayang setelah semua ini terjadi. Kekasih yang ada di sampingnya bukanlah manusia yang dia sayangi. Ia hanya pacar yang sama sekali tak berarti rasa sayang. Rasa sayangnya ada untuk orang yang selama ini dianggap sebagai sahabat. Ah, memang tak pernah ada persahabatan sejati antara lelaki dan perempuan. Bukankah ada cinta antara persahabatan Rahul dan Anjali dalam film Kuch Kuch Hotahai. Ada cinta dalam persahabatan antara Ron dan Hermione dalam kisah Harry Potter. Bagas dan Alexandria dalam film Alexandria. Bella dan Jacob dalam Twillight. Melodi dan Robin dalam kisah ini. Apakah Anda juga pernah merasakan? Dengan cara memandang yang berbeda, dengan langkah yang tak lagi sama, Melodi menghampiri Robin, menyalami sambil berusaha sekuat tenaga menutupi kekalutan dirinya, menutupi kesedihannya dan memasang wajah seolah-olah ia tak pernah membaca catatan harian Robin. “Selamat ya, Mas. Istrimu cantik. Semoga sakinah, mawaddah, warohmah. Doakan aku segera menyusul.” Melodi menyunggingkan senyum. Robin dapat membaca keanehan yang tersembunyi di balik senyuman Melodi. Ia menjawab,”Amin.” ia pun nampak menutupi sesuatu. “ Ini flasdisk mu dari Anang, Mas. Dia nitip salam dan minta maaf tak dapat hadir.” Terungkap sudah apa yang disembunyikan. Robin menduga Melodi membaca catatan hariannya.”Iya. Terima kasih.” Di sela istirahat resepsi, Melodi maju ke depan membawa gitar. Ia lalu menyanyikan lagu. Ada lima lagu yang dinyanyikannya. Semua tentang kebahagiaan suami istri kecuali lagu terakhir. Lagu yang menghadirkan tangisan antara Melodi dan Robin. Melodi terpejam, melihat Robin sejenak, melempar senyum yang disertai air mata. Tangannya mulai memetik gitar dengan lihainya. Sahabatku, usai tawa ini Izinkan aku bercerita Telah jauh, ku mendaki Sesak udara di atas puncak khayalan Jangan sampai kau di sana Telah jauh, ku terjatuh Pedihnya luka di dasar jurang kecewa Dan usai tangis ini, aku kan berjanji... Untuk diam, duduk di tempatku Menanti seorang yang biasa saja Segelas air di tangannya, kala kuterbaring... sakit Menentang malam, tanpa bimbang lagi Demi satu dewi yang lelah bermimpi Dan berbisik: "Selamat tidur, tak perlu bermimpi bersamaku..." Wahai Tuhan, jangan bilang lagi itu terlalu tinggi Yang sudi dekat, mendekap tanganku Mencari teduhnya dalam mataku Dan berbisik “Pandang aku, kau tak sendiri, oh dewiku...” Dan demi Tuhan, hanya itulah Yang Itu saja kuinginkan Sahabatku, bukan maksud hati membebani, Tetapi... Telah lama, kumenanti Satu malam sunyi untuk kuakhiri

No comments:

Post a Comment