Oleh: Rizal Mubit Tanggal dua puluh satu Juli Zulkifli akan ulang tahun. Dia adalah lelaki terhebat yang pernah dikenal oleh Ikke. Dia adalah satu-satunya lelaki penting dalam hidup selain ayah dan adiknya. Selama ini Ikke menganggapnya Kakak dan Zulkifli menganggapnya adik karena usia mereka terpaut lima tahun. Entah hubungan kakak-adik yang dibuat-buat itu murni persaudaraan atau sebenarnya untuk menutup-nutupi perasaan cinta. Sejak tanggal sembilan belas, gadis berkaca mata penyuka warna biru itu kebingungan. Ingin ia mengucapkan ulang tahun kepada Kakaknya. Ia yakin tak akan ada orang yang mengucapkan ulang tahunnya karena selama ini ia menyembunyikan identitasnya. Hanya Ikke yang diberi tahu. Tak akan ada pesta di hari ulang tahunnya. Perayaan ulang tahun bukan tradisi keluarganya. Sejak lahir sekali pun ia tak pernah merayakan ulang tahun. Biasanya Zulkifli hanya berdoa dan berpuasa pada hari ulang tahunnnya. Ia juga tak pernah iri melihat orang lain mengadakan pesta di hari ulang tahunnya. Tanggal lahirnya tidak seperti yang ada di KTP, kartu pelajar atau kartu-kartu identitas lainnya. Kesalahan penulisan sejak TK telah berdampak hingga sekarang. Hanya ayah, ibu dan dirinya sendiri yang tahu kapan ia ulang tahun. Mereka pun tak pernah memberi ucapan. Tak penting mengucapkan ulang tahun apalagi sampai merayakannya. Ikke teringat ketika sebulan setelah dekat dengannya. Mereka berdua bertemu saat lebaran. Zulkifli mendatangi rumah Ikke. Waktu itulah Kifli memberitahukan tentang kapan tanggal lahirnya yang sebenarnya. “Ulang tahunku bukan tanggal dua puluh lima, Ke.” “Hah? Bagaimana dengan identitas di raport dan ijazah?” “Oh itu salah. Gara-gara dulu salah tulis waktu TK. Dampaknya akte kelahiran salah sampai KTP pun salah. Tidak sesuai dengan sebenarnya.” “Kok tahu kalau salah?” “Tahu dong. Aku kan pernah belajar falak. Salah satu materinya adalah Penanggalan Masehi lengkap dengan pasaran Jawa dan Konversi Hijriahnya. “Hubungannya?” “Ibuku waktu melahirkan tak pernah mencatat tanggal. Yang diingat hanya pasaran. Biasa lah, orang Jawa. Kata ibu, aku lahir Sabtu Wage. Nah setelah kuhitung, ternyata Sabtu Wage bukan bertepatan dengan tanggal dua puluh lima Juli melainkan tanggal dua puluh satu.” Kifli menjelaskannya panjang lebar. Gadis muda yang masih nyantri itu tampak kebingungan. Dengan cara apa ia akan menyampaikan selamat ulang tahun pada kakaknya itu? Tak mungkin bisa menjumpainya. Satu-satunya jalan adalah dengan menelponnya. Itu pun harus di wartel pondok. Tentu saja membutuhkan uang. Sementara tanggal sudah tua. Orang tuanya baru mengirim uang bulan depan. Ia harus rela uang jajannya digunakan untuk menelpon sahabatnya. Sayang, tiba-tiba uangnya hilang. Ah, mungkin Tuhan tidak mengizinkannya untuk menghubungi kakaknya yang tampan itu. Malam sebelum hari itu tiba, Ikke terpaksa harus hutang ke temannya. Padahal selama ini ia berusaha untuk tidak hutang pada siapa pun. Lebih baik lapar tak makan dari pada harus hutang. Namun kali ini beda urusan. Ia butuh uang untuk menelpon sahabatnya, sekedar memberi ucapan selamat ulang tahun sekalian mendoakannya sebelum pergi kuliah ke luar kota. Di satu sisi, Zulkifli juga menunggu. Ia haqqul yaqin Ikke akan menelponnya. Hanya dia orang yang tahu kapan ulang tahun yang sebenarnya. Jika Ikke melakukannya. Maka dialah orang yang pertama kali mengucapkan ulang tahun untuknya. Sejak lahir hingga usianya masuk kepala dua, tak ada satu pun orang yang memberikan ucapan selamat ulang tahun. Ikke baru mendapat pinjaman uang dari temannya tanggal dua puluh satu ba'da sholat Subuh. Istirahat kegiatan pesantren sekitar jam sembilan. Hari Jum'at biasanya wartel rame karena banyak santri yang ingin menelpon orang tuanya. “Telponnya yang bisa cuma dua, Mbak. Yang lain rusak, belum diperbaiki.” kata seorang penjaga wartel. Padahal waktu itu ada sekitar dua puluh lebih anak sedang ngantri. Durasi telpon tiap santri berbeda sehingga tak diketahui kapan Ikke akan mendapat giliran. Ia masih sabar menunggu sambil berpikir kata-kata apa yang akan disampaikan pada Zulkifli. Apa dengan sebuah lagu? Atau sebuah puisi? Ah dia tak pandai berpuisi. Kalau bernyanyi mungkin. Lalu lagu siapa? Lagu Jamrud tak mungkin sebab ulang tahun Zulkifli bukan yang ke tujuh belas. Lagu ulang tahun dengan tema persahabatan atau lagu bahasa inggris?. Sambil mengantri, Ikke bingung memikirkannya. Tiba-tiba sebuah ide terlintas ketika seorang santri berjilbab putih berjalan melintas depan wartel,“Hei, Mbak Lita. Aku minta tolong.” teriak Ikke. Gadis itu mendekat. Ia adalah Lita, kakak kelas dan tetangganya di rumah.”Apa?” “Sini, Mbak. Sebentar.” Ikke membisikkan sesuatu pada Lita. “Ayolah, Mbak. Aku tahu Mbak Lita hafal banyak lagu. Please!!!” "Siapa sih dia? Cowokmu?" "Ssstttt. Jangan keras-keras nanti ada keamanan pondok lewat, bahaya. Pokoknya Ada deh, Mbak." kata Ikke sambil senyum-senyum,"kapan-kapan aku kenalin. Pokoknya orangnya keren." “Oke. Janji ya!" Lita mendorong jari telunjuknya ke kening Ikke."kamu ambil kertas. Nanti kutuliskan. Tak mungkin kamu hafal dalam waktu sesingkat ini. Kenapa tak kemarin-kemarin kau bilang?” Hari ini lembaran terindah Saat ini usiamu bertambah Tak terasa Kau lewati hari dengan cinta Di waktu lalu Kali ini kau lebih berarti Saat aku memandang dirimu Begitu indahnya Kau hadapi waktu dengan cinta Di masa nanti Perjalanan waktu takkan melihat Siapa dan apa dari dirimu Tapi bagaimanakah kau mengisi hidupmu Menjadi lebih indah Saat hari ulang tahunmu Kali ini kau lebih berarti “Susah lagunya.” kata Ikke. “Saranku, kamu telponnya nanti sore saja habis jama'ah Ashar. Wartelnya juga masih antri. Kamu latihan saja dulu lagunya.” “Oke.” Lita mengajak Ikke ke atas atap gedung. Ada beberapa santri yang sedang menjemur pakaian. Cuaca pagi menjelang siang itu cukup panas namun tak menghalangi semangat Ikke untuk bisa menguasai lagu ulang tahun demi Zulkifli kakaknya. *** Sebelum jamaah Ashar, Ikke sudah mempersiapkan diri agar tak kalah dulu dengan santri lain. Disimpannya uang di sakunya gar setelah jamaah ia langsung bisa berlari ke kamar tanpa perlu lagi ke kamar. Ia pun memilih sholat di shaf paling belakang. Jamaah usai, ia berlari tanpa memakai sandal menuju ke wartel dalam keadaan masih memakai mukena. Ia ingin jadi yang pertama bisa menelpon. Beberapa santri melihat Ikke yang tergesa-gesa. Satu dua di antara mereka terdengar menggunjing. Apa pedulinya, ia tetap berlari. Sesampainya di wartel, ternyata masih tutup. Ia terpaksa berdiri menunggu hingga petugas penjaga wartel membukanya. "Huuuuh. . . ayo lah buka! Aku sudah rindu suaranya." Ikke bicara sendiri. Penjaga wartel tak kunjung datang. Ikke mengambil kertas di sakunya. Berlatih menyanyikan lagu yang akan jadi hadiah ulang tahun Zulkifli. Ia menyanyi dengan suara lirih. Beberapa saat kemudian, datanglah penjaga wartel bersamaan antrian yang sudah memanjang. Penjaga wartel membuka. Dengan cekatan, Ikke masuk ke dalam bilik walaupun telpon belum menyala. Ada rasa lega setelah akhirnya ia bisa masuk. Udara pengap dalam bilik wartel tak jadi soal. Telpon sudah siap digunakan. Ikke memencet tombol. Ia telah hafal nomor Zulkifli. Tuuuuuut. . . . . tuuuut . . . . Tuuuuut . . . . . Telpon diangkat. "Ya. Hallo." suara dari seberang. Ikke heran. Itu bukan suara Zulkifli. Ia ingat betul suara kakaknya. Dilihatnya nomor di layar depannya. Nomornya benar. Tapi suara siapa itu? Kemana Zulkifli?" "Ini siapa ya?" tanya suara dari seberang. "Kok tanya. Ini siapa?" Ikke balik tanya. "Begini, Bu. Ada masalah dengan pemilik nomor ini. Ini dengan keluarga atau temannya?" Jantung Ikke berdebar. Sepertinya ada sesuatu pada Zulkifli. "Saya adiknya." "Oh. Begini, Mbak. Mohon maaf sebelumnya. Saya hanya mau memberi kabar bahwa baru saja pemilik hape ini kecelakaan. Tak ada identitas diri yang bisa kami temukan. Dan kabar buruknya, Mas ini meninggal." "Heh? Jangan becanda, Pak." "Saya serius, Mbak." "Innalillahi wa inna ilaihi rojiuuun." Ikke melepas kaca mata, mengusap air di sudut matanya. Tubuh Ikke melemas. Hampir saja dia pingsan. Untungnya masih bisa mengontrol diri. Ada suara hati yang berkata: Tak mungkin. Pasti Zulkifli sedang becanda. "Kalau bisa, Mbak memberi tahu bapak ibunya untuk ke rumah sakit. Mayatnya sedang dievakuasi menuju Rumah Sakit Islam." "Iya, Pak." kertas bertuliskan lagu itu terjatuh. Ia masih bisa mengontrol diri. Ditelponnya orang tua Zulkifli, memberikan kabar buruk atas kejadian yang menimpa anaknya. Setelah itu, Ikke pingsan di dalam bilik warnet. Air matanya tampak masih membasahi matanya. Para santri segera mengangkatnya lalu membawa ke klinik pesantren. Setelah sadar, ia ingin pulang agar bisa mendatangi proses pemakaman Zulkifli. Akan tetapi prosedur perizinan yang menjadi aturan pesantren tak memberikannya izin. Ikke tak memiliki alasan kuat untuk bisa pulang. Zulkifli tidak memiliki hubungan keluarga apa-apa sehingga tak dapat dijadikan alasan pulang walau dia meninggal. Ikke baru bisa ziarah ke makam Zulkifli ketika hari libur pesantren tiba. Ia berdoa dalam waktu yang lama. Ia menangis dalam doanya. Tangisan kehilangan yang menyayat siapa pun yang melihat. Ia meletakkan teks berisi ucapan ulang tahun di atas pusara. Ia juga meletakkan fotonya berdua di dekat batu nisan.
No comments:
Post a Comment