Dulu. Dulu sekali tepatnya saat SD aku tak punya cita-cita apapun. Kalau sebatas keinginan ada, tapi ndak muluk-muluk. Barangkali sama dengan teman-teman sekelasku. Aku hanya ingin cewek tercantik di kelas, mau jadi pacarku. Ya, cuma sebatas itu keinginanku. Bagaimana mau bercita-cita. Tiap hari mancing di kali, dapat ikan saja senangnya minta ampun. Malamnya ngaji, habis ngaji main petak umpet. Setelah itu tidur. Kadang-kadang masih ngompol. Ketika masih setingkat SMP, aku pernah ingin hidup di Jawa tengah. Hanya ingin. Bukan karena untuk mengcopas ilmu di sana apalagi keinginan kuliah. Ndak ada sama sekali. Lalu ingin apa? Cuma ingin belajar kelembutan bahasa Jawa Tengah. Lima tahun kemudian, keinginan itu terwujud. Tak hanya belajar tutur kata, aku juga belajar banyak hal di ibu kota Jawa Tengah. Semarang. Lalu sewaktu tingkat SMA, aku pernah ingin kuliah tanpa membebani orang tua sekalipun harus kerja. Dua tahun kemudian, aku bisa kuliah tanpa membebani orang tua dan tanpa kerja. Aku dapat beasiswa. Saat kuliah, aku ingin suatu saat bisa studi ke Eropa tapi di sisi lain, aku sebenarnya juga ingin nikah setelah kuliah. Aku juga pernah ingin jadi ketua MK atau KPK. Kalau presiden, tidak lah. Bagkan suatu ketika pernah guyon, kalau boleh dan memungkinkan aku inginnya jadi 'nabi'. Tapi sayang sudah tertutup kemungkinan. Beberapa hari kemarin, temanku mengingatkan bahwa aku pernah ingin ke Alexandria dan Paris. Katanya pula,"Suatu saat akan terwujud, Zal!" Yang penting usaha, memanfaatkan peluang, punya langkah dan berdoa. Urusan mau jadi apa, Gusti Allah seng ngatur. Siapa tahu nanti malah jadi penyanyi. Hahaha. Kalau keinginan jadi penulis, ndak ada. Soalnya menulis hanya hobby, kalau akhirnya bisa jadi buku. Itu karena ada usaha dan bantuan dari teman-temanku yang mengatakan tulisanku bagus. Lalu banyak yang bertanya,"Kok ndak dibukukan saja?" Entah berapa yang bilang gitu. Pokoknya banyak. Tapi ketika aku tanya balik."Memangnya mau beli bukuku kalau sudah terbit?" Aku harus tanya itu, soalnya harus diakui orang Indonesia lebih banyak yang suka gratisan dibanding menghargai karya orang. Banyak pembaca tulisanku secara cuma-cuma baik di fb atau di blog. Tapi kalau dibukukan? Wah pasti mikir-mikir. Padahal kalau sudah jadi buku, urusannya bukan hanya penulis dan pembaca. Ada penerbit, editor, percetakan. Dan semuanya butuh duit. Kalau di fb, bisa free. Silakan mau dicopas, mau dijadikan drama atau apa kek. Monggo. Itu contoh mikro tentang karya. So, adalah suatu kewajaran kalau banyak seni-seni di Indonesia diambil Malaysia. Ini urusan mental, Bro!!!
No comments:
Post a Comment