Catatan harianku terbengkalai sekitar sebulan. Banyak penyebabnya. Selain karena malas juga kehidupan yang terasa monoton meski pikiranku tak pernah berhenti berpikir dan menganalisa. Tapi analisaku tak bisa kudiskusikan karena tak ada teman diskusi di sini. Tapi positifnya aku merasa lebih produktif menulis fiksi meksi terkadang berhenti di tengah jalan. Selama beberapa minggu tak menulis, ada satu hal penting yang perlu kutulis di sini. Tentang kunjunganku ke rumah Nurul tanggal 5 januari lalu. Rumahnya ada di kaki gunung Lawu. Uadaranya sejuk dan airnya dingin seperti di daerah Batu. Aku bertemu dengan keluarganya yang sangat islami. Bapaknya imam musholla, ibunya adalah pendidik yang baik bagi anak-anaknya. Di sela kesibukan menjadi penjual makanan, sang ibu masih menyempatkan waktu untuk mengajak anaknya rutin sholat jamaah. Aku teringat tradisi keluarga yang begitu menyejukkan. Setelah jamaah sholat maghrib mereka berkumpul. Anas, adik Nurul membacakan sebuah hadis terjemahan sedang yang lain mendengar. Setelah ngaji hadist, Binti anak yang paling kecil membaca alquran dengan fasih. Saat itu aku yang diminta menjadi penyimak dan korektor bacaannya. Setelahnya aku mencoba menerjemahkan sambil bercerita tentang isinya sebisaku. Neneknya yang tahu kemampuanku menerjemahkan beberapa ayat quran merasa tertarik sebab kata Nurul nenek terobsesi punya anak atau cucu yang bisa menerjemah quran. Sayang tak ada yang bisa. Dan kehadiranku pasti menjadi sesuatu yang mungkin luar biasa baginya. Masuk semester dua ini aku tak mendapat jam mengajar jadi aku semakin santai untuk membaca buku dan menulis. Sebenarnya aku dipindahtugaskan jadi TU tapi sampai saat ini belum ada kejelasan tentang tugasku.
No comments:
Post a Comment