Oleh : Rizal Mubit
Problematika kehidupan yang begitu kompleks melahirkan perasaan yang memerlukan uluran tangan kekuatan supra natural yang mampu menolak bala. Hal tersebut menjadi dasar dan sasaran utama terbentuknya agama bagi masyarakat primitif dan pra sejarah. Sehingga mereka terus mencari kekuatan supranatural yang tersembunyi pada jiwa yang menyatu pada manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan di anugerahkan menjadi dewa-dewa dan roh-roh suci yang patut disembah, hal ini merupakan akar pagi agama paganisme.
Agama tumbuh dan berkembang sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan pengetahuan manusia yang secara langsung mempengaruhi proses evolusi agama. Jadi, proses evolusi agama sesungguhnya dimulai ketika manusia mengenal agama.
Dadang Kahmad menyebutkan, tingkat paling dasar dari evolusi agama adalah ketika manusia percaya bahwa makhluk-makhluk halus menempati alam sekeliling tempat tinggal manusia. Pandangan ini dikemukakan oleh E. B Taylor sebagai tokoh yang memperkenalkan "teori jiwa" sebagai salah satu teori asal mula manusia beragama. Dalam teori ini disebutkan, agama yang paling awal datang bersamaan dengan pertama kali manusia mengetahui bahwa dunia ini tidak hanya dihuni oleh makhluk materi, tetapi juga makhluk immateri yang disebut jiwa (anima). E. B. Taylor berpendapat, agama muncul dari kesadaran manusia akan adanya roh atau jiwa, keyakinan ini disebutnya animisme.
Evolusi agama pada tingkat selanjutnya dilanjutkan dengan dinamisme. Kata dinamisme berasal dari bahasa Yunani, yaitu dunamos, sedangkan dalam bahasa Inggris berarti dynamic dan diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan arti kekuatan, daya, atau kekuasaan. Definisi dari dinamisme memiliki arti tentang kepercayaan terhadap benda-benda di sekitar manusia yang diyakini memiliki kekuatan ghaib.
Bermula dari konsep Animisme yang menitikberatkan pada perkembangan ruh manusia, lantas manusia primitif menyimpulkan bahwa setiap materi yang memiliki sifat yang sama, maka memiliki substansi yang sama pula. Jika manusia mati dan hidup, tidur dan terjaga, kuat dan lemah, diam dan bergerak, kemudian manusia diyakini memiliki ruh, maka pepohonan, binatang, laut, api, matahari, bulan, dan materi-materi lainnya pun memiliki ruh seperti manusia.
Setiap materi memiliki kesamaan sifat dengan manusia. Sebagai contoh, api memiliki sifat yang sama dengan manusia. Api memiliki kekuatan untuk membunuh atau melenyapkan apapun dengan panasnya sebagaimana manusia mampu membunuh binatang dengan kekuatan tangannya. Karena itulah, api mempunyai ruh. Bagi manusia primitif, menyembah api adalah proses menghormati keberadaan api itu sendiri. Penyembahan tersebut dilakukan agar tidak terjadi kebakaran seperti kebakaran hutan, sedangkan kebakaran diyakini sebagai bentuk kemurkaan api.
Berbeda dengan pandangan di atas, menurut E. B. Taylor, tingkat kedua dari evolusi agama adalah polytheisme yang merupakan perkembangan dari pemujaan terhadap roh nenek moyang (manisme). Sementara tingkat terakhir dari evolusi agama dalam pandangan Taylor lahir bersamaan dengan timbulnya susunan kenegaraan di dalam masyarakat manusia. Taylor memandang, ketika muncul susunan kenegaraan di masyarakat, muncul pula kepercayaan bahwa di alam dewa-dewa juga terdapat susunan kenegaraan yang serupa dengan susunan kenegaraan manusia. Susunan kenegaraan dewa semacam ini lambat laun menimbulkan kesadaran baru dari keyakinan bahwa pada hakikatnya semua dewa-dewa tersebut merupakan penjelmaan dari satu dewa yang tertinggi.
Masih menurut Tylor agama merupakan kepercayaan kepada wujud spiritual baik agama besar maupun primitif pada benda gaib." Berbagai macam kepercayaan tentang Tuhan dari yang esa ke Politeisme dan dari panteisme ke yang jauh dari langit dan bumi, dari yang menciptakan alam dengan kun fayakun", dari yang beremanasi menjadi alam, yaitu alam semesta yang dari dirinya memancar tahap demi tahap. Perbedaan tersebut mempunyai persamaaan yaitu sama-sama percaya pada yang berkuasa dan berpengaruhnya wujud spiritual pada masyarakat yang mempercayai-Nya.
Sesungguhnya, derajat pada sesuatu yang berkuasa dengan kekuatan supra natural terhimpun pada dewa-dewa dan roh-roh yang mengalami peningkatan mana (kedudukan), sebagai suatu kekuatan ghaib yang menjadi wujud roh, seperti peningkatan makna roh dan nenek moyang menjadi dewa dan tuhan. Faktor-faktor inilah sebetulnya, yang dimaksud sebagai evolusi pada agama dan kepercayaan. Sedangkan perbedaan antara roh dan dewa hanya perbedaan dalam derajat kekuasaan. Dewa lebih berkuasa, lebih tinggi dan mulia, penyembahannya lebih umum dari pada roh. Sesuatu roh dianggap mulia, jika pada suatu masa mempunyai kekuasaan, sehingga patut disembah dengan cara tertentu yang akan meningkat menjadi dewa yang mempunyai pekerjaan tertentu, seperti dewa alam dan cahaya. Demikianlah banyak dewa-dewa dalam politeisme yang mempunyai kedudukan berbeda dimata manusia.
Dalam sejarah, tingkat perkembangan evolusi agama setelah politeisme adalah monoteisme yang merupakan suatu perkembangan revolusioner. Istilah monoteisme bermakna pandangan yang mengatakan bahwa ada satu Tuhan saja. Dalam islam dikenal dengan ketauhidan atau keesaan Tuhan. Paham monoteisme biasanya dibawa oleh agama-agama samawi. Namun hingga sekarang agama samawi yang dengan tegas menyatakan monoteisme hanya Islam.
Perlu diketahui bahwa para pemeluk agama samawi yang politeistik seringkali berperilaku seperti kaum monoteis, yaitu keyakinan akan tuhan yang banyak itu tidak berarti bahwa mereka menyembah banyak tuhan. Secara historis, banyak pemeluk politeis percaya akan keberadaan banyak tuhan, tetapi mereka hanya menyembah satu saja, yang dianggap oleh si pemeluk itu sebagai Tuhan yang Maha Tinggi.
Monday, July 5, 2010
evolusi agama dan pengetahuan manusia tentang tuhan
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment