Tuesday, August 11, 2009

penyimpangan prioritas kaum agamis

Pada pertengahan bulan Juli yang lalu. Semua media baik media massa maupun elektronik, tak satupun yang tidak menyiarkan dan memberitakan sepak terjang Michael Jackson dalam dunia hiburan. Berita itu dikemas dan dipubliksaikan secara detail menceritakan bagaimana kehidupan the king of pop tersebut sejak kecil hingga detik-detik kematiannya. Akankah hal itu terjadi ketika ada salah satu ulama atau seorang cendekiawan meninggal dunia? Kemungkinan besar perbincangan terhadap kematian para ilmuwan tersebut tak segencar kematian Michael Jackson.

Kita bisa melihat pada tanggal 21 April kemarin. Pada hari yang bertepatan dengan Hari Kartini tersebut, berita tentang perceraian artis dan gosip-gosip lainnya masih mampu mengalahkan berita tentang jasa RA. Kartini bagi perempuan-perempuan di negara kita. Yang ada hanya perayaan untuk mengenang Kartini bukan bagaimana sejarah dan langkah-langkah kartini memperjuangkan hak-hak perempuan. Hal ini membuat kebanyakan warga negara ini lebih mengenal entertainer dari pada pahlawan-pahlawan bangsa.

Jika kita bertanya kepada anak-anak kecil siapa vokalis peterpan, atau apa nama group band pelantun lagu Cari Jodoh, tanpa ragu mereka akan menjawab dengan tepat. Sedangkan jika kita bertanya kepada mereka siapa nama ayah dan ibu Rasulullah SAW atau siapa saja nama Khulafaur Rasyidin belum tentu mereka bisa menjawab dengan benar.

Ketiga fenomena di atas cukup mewakili bagaimana sebenarnya sikap masyarakat di negara ini yang lebih mementingkan sesuatu yang bukan utama (mafdhul) dari pada yang bersifat utama (fadhil).

Barangkali bintang masyarakat Indonesia bukan lagi para ulama, ilmuwan atau para pemikir melainkan para selebritis atau para pemain bola bagi para penggila bola. Terbukti dari surat kabar dan semua stasiun televisi yang tidak henti-hentinya menayangkan bagaimana kehidupan, tingkah laku dan kejayaan para artis tersebut.

Anehnya banyak pelajar muslim (baca:santri) juga termasuk penggemar selebritis-selebritis tersebut. Sehingga mereka lebih hafal nama-nama bintang film dari pada nama sahabat nabi, para perawi hadis, muallif-muallif kitab dan ilmuwan-ilmuwan muslim yang jasanya sangat besar bagi peradaban islam. Sebagai generasi yang nantinya akan membina masyarakat dalam bidang keagamaan tidak seharusnya para santri tersebut ikut terpengaruh penyimpangan prioritas tersebut.

Sebenarnya bukan kasus di atas yang menjadi garis besar dalam pembahasan utama penulis. Karena realitas tersebut bukan menjadi rahasia lagi. Yang akan penulis kupas kali ini adalah bagaimana orang-orang yang telah memahami agama ternyata juga mengalami penyimpangan prioritas seperti kasus yang terjadi di atas. (Dalam istilah Dr. Yusuf al-Qardhawi adalah Penyimpangan Orang-orang Beragama Dalam Fiqh Prioritas).

Tentunya kasus yang dihadapi oleh kalangan beragama berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Problem yang mereka hadapi lebih mengarah pada bagaimana membedakan perbuatan yang sebenarnya bukan hal yang mafdhul namun dianggap fadhil atau bagaimana seharusnya menghadapi amalan yang kuat (rajih) dan yang tidak kuat (marjuh). Di bawah ini penulis akan memberikan beberapa gambaran penyimpangan-penyimpangan tersebut.

Seringkali pada musim haji beberapa kaum muslim kaya raya melaksanakan ibadah haji untuk kesekian kalinya atau melakukan umrah pada bulan Ramadhan. Kedua ibadah tersebut tentunya bersifat sunnah karena kewajiban haji dan umrah hanya sekali.

Apakah haji tersebut masih merupakan ibadah yang bersifat fadhil padahal di sekitarnya banyak sekali saudaranya sesama muslim yang membutuhkan bantuannya untuk menyambung nyawa atau untuk meringankan penderitaannya.

Kebanyakan para muslimin yang memiliki kelebihan harta enggan untuk menyumbangkan sebagian hartanya untuk membantu mereka yang miskin, membuat lapangan pekerjaan bagi pengangguran, atau untuk memberi tempat bagi orang-orang terlantar.

Mengapa mereka lebih mengutamakan ibadah sunnah seperti haji berulang-ulang dari pada membantu para fakir. Alangkah baiknya jika dana yang dikeluarkan untuk melaksanakan haji tersebut dialihkan untuk membantu saudara-saudaranya yang tertindas kehormatan dan harga dirinya agar mereka bisa hidup dengan layak dan mampu melaksanakan ibadah fardlunya dengan baik tanpa harus takut menghadapi kekufuran. Bukankah kefakiran itu mendekati kepada kekufuran (kadal fakru an yakuna kufron)

Salah satu ulama timur tengah bernama Bisyr al-Hafi pernah mengatakan: "Kalau kaum muslimin mau memahami, memiliki keimanan yang benar dan mengetahui fiqh prioritas, maka dia akan merasakana kebahagiaan yang lebih besar dan suasana kerohanian yang lebih kuat. Setiap kali dia dapat mengalihkan dana ibadah haji itu untuk memelihara anak-anak yatim, memberi makan orang-orang kelaparan, memberi tempat perlindungan orang-orang terlantar, mengobati orang sakit, mendidik orang-orang yang bodoh, atau memberi kesempatan kerja kepada para penganggur,"

Dominasi prioritas yang kurang tepat lainnya adalah adanya hal-hal kecil yang dibesar-besarkan seperti perbedaan masalah juz'iyah atau khilafiyah yang menyita banyak waktu. Sejak zaman para sahabat sudah berapa kali perbedaan khilafiyah tersebut akhirnya juga menjadi pertikaian dan buntutnya memecah belah persatuan. Padahal di sisi lain proses kristenisasi dan pemurtadan perlu untuk dipikirkan dan dicarikan pencegahnya.

Contoh kasus penyimpangan prioritas lainnya adalah kurangnya perhatian terhadap fardlu 'ain yang hampir terlupakan yakni amar makruf nahi mungkar. Allah menyebutkan hal tersebut lebih dahulu dari pada sholat dan zakat. Dalam surat at-Taubah ayat 71 disebutkan.

"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana"

Entah apa yang menyebabkan ibadah sunnah lebih diutamakan dari pada ibadah fardlu. Dan apa pula penyebab ibadah yang bersifat individual seperti membaca dzikir dan wirid tak pernah dilupakan sedangkan fardlu kifayah yang bersifat sosial seperti silaturrahmi, berbuat baik kepada tetangga dan menyingkirkan kemungkaran tidak begitu mendapatkan perhatian.

Para salafussholih pernah menanggapi suatu kondisi dimana masalah furu'iyah lebih diutamakan dari pada masalah pokok seperti yang terjadi saat ini. Tanggapantersebut berupa ungkapan "Barang siapa mengabaikan pokok, maka dia tidak akan pernah sampai kepada tujuannya."

Itulah sebagian permasalahan yang telah merambah pada diri umat islam. Perkara yang kecil dibesar-besarkan yang besar dihiraukan. Fardlu kifayah hanya sekedar wacana sedangkan yang sunnah seolah-olah menjadi kewajiban pribadi.

Sebenarnya masih banyak lagi hal-hal yang seharusnya diprioritaskan malah dinomorduakan. Namun bagi penulis contoh-contoh di atas cukup membuka hati kita. Umat islam sangat perlu memperbincangkan dan mendiskusikannya agar hal-hal yang lebih penting dan lebih bermanfaat diketahui dan dilaksanakan dalam kehidupan bermasyarakat. Wailallahi turja'ul umur.

No comments:

Post a Comment