Sunday, May 17, 2009

GURU


Dalam istilah bahasa Jawa kata guru adalah gabungan dari 2 kata, yaitu digugu dan ditiru. Kata digugu jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti diperhatikan, sedangkan kata ditiru mempunyai arti diteladani. Dari pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa seorang guru adalah orang yang bisa dijadikan teladan dan orang yang senantiasa memberi nasihat-nasihat bermanfaat bagi seseorang, baik pelajar ataupun bukan.

Menurut penulis, asumsi di atas sudahlah cukup sebagai syarat menjadi seorang guru yang maju, profesional,dan disukai murid-muridnya. Dengan menyukai sang pengajar, lambat laun pelajaran yang diajarkannya pun akan disukai para siswa, sehingga himmah (semangat) untuk memahami pelajaran pun akan tumbuh dari hati para murid tersebut. Namun demikian, untuk mengimplementasikannya bukanlah suatu hal yang mudah. Sebab menjadi guru yang bisa digugu lan ditiru diperlukan banyak pengalaman dan pastinya harus diawali dengan pembenahan diri agar bisa menjadi guru idaman.

Setelah paradigma siswa berkembang, dan dibarengi dengan bertambahnya ‘model’ guru, perumpamaan seorang guru pun berkembang. Selain sebagai profil yang bisa menjadi suri tauladan, kini makna guru tidak hanya digugu lan ditiru, malahan penjabaran makna yang luhur tersebut diplesetkan menjadi makna yang sangatlah tidak layak disandang oleh guru, yakni diguyu lan ditinggal turu. Makna ini lahir sebab tidak semua guru mampu memenuhi kriteria pertama yang bisa menjadi uswatun hasanah (suri tauladan yang baik). Guru yang tipe kedua ini banyak dialami oleh seorang guru yang mengajarnya hanya asal-asalan tanpa niat ikhlas. Tujuan utama guru adalah untuk mengamalkan dan memanfatkan ilmunya, tanpa mengharap pamrih. Namun yang niatnya hanya sebatas mencari gaji juga tidak sedikit hingga metode pengajarannya semau sendiri.

Kata diguyu dan ditinggal turu juga merupakan salah satu ungkapan bahasa Jawa yang bermakna ditertawakan dan ditinggal tidur. Dan ternyata fenomena ini memang benar-benar terjadi di sebuah sekolah di daerah Lamongan bagian utara. Seorang siswa mempunyai kebiasaan buruk yang telah membudaya, dimana seorang murid akan tidur jika diajar oleh pengajar yang asal-asalan dalam mengajar, sehingga terkesan sangat membosankan bahkan membingungkan. Guru tersebut pun tak menghiraukan keadaan itu, karena baginya yang penting adalah masuk kelas, mengisi jurnal dan menerangkan pelajaran apa adanya, atau hanya menyuruh siswa menulis tanpa penjelasan. Guru yang masuk dalam tipe ini tidak akan mampu menjadi guru yang profesional dambaan para pelajar. Kemungkinan besar dia malah akan menjadi bahan tertawaan dan gunjingan. Kendatipun guru tersebut lulusan S-2 atau bahkan seorang jebolan perguruan tinggi luar negeri.

Berbeda dengan di lingkungan pesantren. Setelah melakukan observasi di sebuah pesantren di kawasan Gresik. Saya menemukan sebuah keunikan yang jarang sekali ditemukan di luar lokasi pesantren. Ternyata untuk menjadi guru ideal bukanlah suatu hal yang sulit bagi kalangan pesantren. Seorang siswa di pesantren (santri) sudah sangat kental dengan sebuah semboyan wabil khidmati intafa’u wabil hurmati irtafa’u (dengan khidmat kepada guru ilmumu akan bermanfaat dan dengan hormat kepada guru, kamu akan menjadi orang yang terhormat). Sehingga mereka menghormati guru (ustadz) nya seperti hormat kepada kedua orang tuanya. Persepsi tersebut juga didukung dengan keadaan ustadz yang mayoritas punyai tabi’at baik dan niat mereka juga benar-benar ikhlas utuk mengajarkan ilmunya sehingga mereka memang pantas dihormati dan dijadikan teladan.

Penulis juga pernah menjumpai seorang pengajar yang masih berumur belia, sebut saja namanya Rudi. Meski masih duduk di bangku kelas XI SMA, dia sudah mengajar anak-anak SMP kelas VIII dalam sebuah forum semacam kursus. Perbandingan umur Rudi dengan murid-muridnya yang hanya berpaut beberapa tahun, menjadikan Rudi bisa menganggap mereka sebagai teman yang bisa diajak curhat dan bertukar pikiran. Nah, keadaan ini juga sangat menguntungkan murid-muridnya. Karena keakraban itu menjadikan para murid tersebut tidak malu bertanya pada Rudi jika mereka tidak paham terhadap suatu permasalahan yang mereka anggap rumit. Kendatipun demikian, rasa hormat mereka kepada si Rudi tidak luntur. Mereka menghormatinya layaknya menghormati gurunya di sekolah. Malah sebagian dari mereka bilang bahwa mereka lebih paham dan enjoy ketika diajar oleh Rudi. Pertemuan mereka yang awalnya hanya seminggu sekali, bertambah menjadi hampir tiap hari. Dan perlu diketahui, Rudi menjalankan hal ini tanpa bayaran sepeserpun.

Kesimpulannya, figur seorang guru yang bisa digugu lan ditiru bukanlah orang yang sudah lulus perguruan tinggi dengan berbagai titel, atau seorang PNS. Akan tetapi yang paling penting adalah ketulusan hati mereka untuk mengamalkan dan memanfaatkan ilmu kepada para muridnya. Dengan niat yang tulus pelajaran yang sudah lupa akan mereka telaah kembali untuk diajarkan kepada murid-muridnya. Selain itu, perangai yang terpuji juga merupakan hal penting yang bisa menunjang seorang guru untuk menjadi pengajar profesional. Dan satu catatan penting bagi guru yang ingin maju dan profesional adalah keakraban dengan seorang siswa, kalau perlu lakukan seperti apa yang telah dikerjakan Rudi yaitu menganggap muridnya sebagai teman akrab. Hingga predikat guru yang diguyu dan ditinggal turu pun tak akan mereka sandang.


9 comments:

  1. Nah, tulisan kayak gini nih yang saya kangeni, menginspirasi. Bikin lagi dong :)

    ReplyDelete
  2. Wuih. itu tulisan waktu masih aliyah. Waktu masih lucu-lucunya

    ReplyDelete
  3. haha. Gimana dengan tulisan yang baru-baru itu? Bukannya semacam ini gayanya?

    ReplyDelete
  4. ora, ora podo, kebanyakan curhat dan sensi-nya daripada inspirasi

    ReplyDelete
  5. Sedang berusaha sih sebenarnya bikin yg kayak begini.

    ReplyDelete
  6. dan kebanyakan yg tak tulis model begini tak masukkan majalah. belum masuk di blog ini. Ada banyak.

    ReplyDelete
  7. Lha gimana tahunya kamu gak pernah kirim majalah -_-

    Alright, good luck! Ditunggu yak tulisan genre begini-nya

    ReplyDelete