Pada perang dunia pertama 1914-1918, Jerman kalah atas
Inggris. Karena kekalahan ini, undang-undang perang memutuskan Jerman harus
membayar kerugian kepada Inggris, Perancis dan Amerika. Dari mana bisa Jerman
membayar hutang sementara negaranya kalah perang? Sementara akibat kalah
perang, nilai mata uangnya merosot? Inggris tak sudi menerima uang dari Jerman
waktu itu. Maka, Jerman berhutang kepada Inggris.
Jerman waktu itu sudah menjadi negara yang memiliki banyak
ahli yang menciptakan peralatan canggih pada masanya. Penduduknya adalah orang
yang pintar, berani dan rajin. Dalam kondisi ini, muncullah sosok Hitler.
Terlepas dari paham Nazinya, di saat Jerman sedang terhimpit kemunculan Hitler
memunculkan kepercayaan rakyat Jerman. Kepercayaan inilah modal utama dalam
suatu negara. Kalau satu negara belum mempunyai kekuasaan penuh dan kepercayaan
dari pihak rakyat, maka pemerintah itu akan mudah saja diobrak abrik dari luar
ataupun dari dalam. Begitu kata Tan Malaka.
Untuk membayar hutang dan kembali berjaya di Eropa,
satu-satunya jalan adalah produksi alat perang dimaksimalkan. Kapal perang,
Tank raksasa, kapal selam dan Meriam. Semua mereka buat. Sampai tujuh tahun
lamanya. Mereka pun hidup kembali. Ketika alat perang sudah ada, apa yang
dilakukan kalau bukan perang? Senjata sudah ada. Kemauan juga ada.
Dua paragraf di atas adalah kesimpulan dari buku karya Tan
Malaka saat membahas kondisi politik luar negeri. Ia menyampaikannya di
Purwokerto pada 4-5 Januari 1946. Lalu apakah pidato Tan Malaka ini masih
relevan dengan kondisi sekarang? Ya. Kerusuhan yang terjadi di dunia adalah
ulah dari para pedagang senjata. Mereka memilik proxy, jaringan-jaringan di
tiap negara berkembang. Termasuk di Indonesia. Tujuannya adalah agar terjadi
peperangan di dalam negerinya. Timur Tengah sudah menjadi korbannya dengan
perbedaan sudut pandang agama dijadikan pemicunya.
Hari ini yang terjadi adalah perang kecerdasan. Dimana para
otak perang ini tidak kelihatan sambil membiarkan para pion-pion berani
berjuang mati-matian. Dengan atau tanpa dibayar. Syukur-syukur dengan biaya
yang murah. Memang jahat. Dari dulu selalu ada yang jahat ada yang baik. Namun
kejahatan hari ini lebih terstruktur karena cerdas. Yang baik tidak terstruktur
karena kurang cerdas. Sebab agama hari ini telah menjadi penyakit yang mematikan
nalar. Alat yang ampuh untuk mengadu domba. Sebab umatnya tak banyak membaca
sehingga mudah dibohongi oleh elitenya.
No comments:
Post a Comment