Rabu, 5 Agustus 2015
Di tengah perjalanan dalam rangka luru elmu, ada sela-sala
waktu dan keinginan menulis hal-hal penting yang terlewatkan. Dari sekian
muktamar NU yang saya ketahui dari buku. Dinamika muktamar di Jombang ini tak
seberapa jika dibandingkan dengan Muktamar tahun 1994. Gus Dur diserang dari
banyak pihak. Endingnya Gus Dur menang.
Sebelumnya aku tak terlalu memperhatikan muktamar NU
sebagaimana tahun ini. Sekedar tahu hanya dari buku atau cerita orang. Tak seperti
sekarang aku bisa mengikuti secara langsung karena lokasinya dekat dari
Pasuruan. Ya, sebelum ke Jombang aku ke Pasuruan, sebelum di Pasuruan aku ke
Malang mengikuti pelatihan Falak di Hotel Solaris selama tiga hari. Bbku hilang
di musholla hotel.
Aku berangkat ke Malang dari Blitar. Dan sekarang aku berada
di Yogya, ikut International Conference sejak kemarin sampai besok pagi. Acaranya
serius sekali berbeda dengan acara yang ada di pelatihan falak di Malang
kemarin.
Sudah tiga tahun aku tak ke yogya, kota yang selalu istimewa
di hati. Tak tahu apa sebabnya. Rasanya nyaman, tenteram dan kerasan berada di
Yogya. Apalagi dalam momen seperti ini. Rasanya ingin lama-lama saja bisa
berada di Yogya. Dengan bertemu banyak orang-orang pandai di sini, begitu
jelasnya bahwa saya masih sangat bodoh. Di kota ini banyak orang pintar. Rasa-rasanya
sejak lulus kuliah di Semarang sampai sekarang, baru kali ini berada dalam
sebuah forum diskusi yang serius sekali.
Pemateri diskusi berasal dari luar negeri. Bahasa yang
digunakan adalah bahasa Inggris dan ada sebagian yang memakai Arab. Boleh dikata,
inilah satu-satunya forum yang memang pantas disebut international. Sebelumnya,
baik seminar falak kemarin dan lainnya, hanya namanya saja yang international. Isinya
sama saja dengan kelas lokal. Kalau ini tidak. Sejak pagi hingga sore pemateri,
moderator dan penanya menggunakan bahasa Inggris sampai susah untuk kupahami
semuanya. Hanya saja yang membuatku bertanya adalah, mengapa kebanyakan
pemateri menyampaikan dengan membaca makalah seperti mahasiswa S1 yang
presentasi makalah? Apa memang harus demikian? Rasanya tidak. Seperti pak Amin
Abdullah kemarin tidak menyampaikan secara tekstual.
Apapun itu, berada di Yogya, membuatku ingin banyak lagi
belajar dan bertemu tokoh-tokoh, para guru, ilmuwan dan orang-orang pintar
untuk mendengar penjelasan ilmiah seputar pengetahuan yang dikuasai. Beda rasanya
berada di pondok dengan lingkungan yang menuntut saya untuk memberi, bukan lagi
mencari ilmu walaupun ada banyak guru yang ilmunya luas. Beliau-beliau
sepertinya juga sibuk di pondok. Harusnya ada forum seminar ilmiah seperti ini
untuk mengimbangi cara berpikir fatalis dimana barokah dianggap hal yang
mendominasi kesuksesan seseorang, bukan usaha dhohir. Bukan berarti menafikan peran Allah. Saya sangat percaya dengan doa, sangat percaya dengan peran Allah, sangat percaya dengan manfaat mendekatkan diri kepada Allah.
Kembali ke Muktamar NU. Sebelum diadakan muktamar, ada
event-event yang saya suka. Mulai dari audisi pembuatan logo hingga lomba
pembuatan film. Agenda seperti ini pasti idenya anak-anak muda yang punya rasa
memiliki NU. Yang seperti ini perlu untuk dilestarikan. Tak hanya berhenti pada
forum muktamar yang lima tahun sekali.
Kemarin aku datang kesana mengikuti acara Kaum Muda NU. Yang
membuatku tertarik dari sekian banyak pembicara adalah yai Maimun Zubair. Begitu
luasnya pengetahuannya sampai melihat beliau pun rasanya ingin menangis. Orang yang
sudah sepuh, berilmu luas dan memiliki rasa cinta kepada ilmu seperti beliau. Betapa
sangat hina dina diri ini kalau disandingkan beliau. Mudah-mudahan di sisa
waktu yang tak jelas kapan berhenti, di sela masa perjaka yang tak jelas kapan
akan beristri, ada waktu yang terus kupergunakan untuk belajar dan belajar
sampai mati dalam keadaan belajar. Amin.



No comments:
Post a Comment